Agar Orang yang Berdosa Tidak Merasa Takut dan Kesepian Untuk Bertaubat

Sebelum menutup majelis, Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (lahir 1197 – wafat 1258 M, pendiri Tarekat Syadziliyah) meminta para hadirin untuk bertaubat pada Allah Swt. Semua mengangkat tangan dan merendahkan diri bertaubat. Tiba-tiba Syekh melihat salah seorang muridnya tersenyum. Seperti ada sesuatu yang terlintas dalam pikirannya. Syekh berkata, “Katakan apa yang engkau pikirkan, anakku. Kita saling membantu dalam berpikir dengan izin Allah. Sampaikan saja dan jangan takut ada yang membantah.”

Murid itu berkata, “Tuanku, terlintas dalam pikiranku, bukankah taubat itu untuk orang yang berdosa? Boleh jadi diantara kita ada yang tidak berdosa. Jadi kenapa ia mesti bertaubat?”

Sambil tersenyum, Syekh berkata: “Semoga Allah kuatkan rasa percaya dirimu, anakku. Aku berharap persangkaan baikmu pada Allah memang pada tempatnya. Tapi aku akan bacakan padamu firman Allah Swt:

“Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, yang mengikutinya di saat sulit setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.” (at-Taubah 117)

Apakah Nabi berdosa sehingga Allah mengampuninya? Apakah orang-orang Muhajirin dan Anshar berdosa sehingga Allah mengampuni mereka? Yang berdosa itu adalah tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Tapi Allah Swt sengaja menyebutkan taubat orang-orang yang tidak berdosa agar orang yang berdosa tidak merasa takut dan kesepian. Seandainya Allah mengatakan: “Sungguh Allah telah mengampuni tiga orang yang tidak ikut…” tentu hati mereka akan sangat terluka dan dirundung kesedihan yang mendalam. Inilah yang disebut muwasah (menghibur hati manusia).”

Mendengar penjelasan itu semua yang hadir bertakbir. Mereka berkata, “Ini ilham… ini ilham…”.

Mendengar pujian itu, Syekh menundukkan kepalanya sambil berkata: “Semoga apa yang aku sampaikan datang dari taufiq ilahi, karena aku pasti akan dihisab atas segalanya.”

Yang tak kalah mengagumkan dari penjelasan Syekh Abul Hasan adalah responnya ketika melihat orang yang terlalu pede seolah tak berdosa. Ia tak menanggapi dengan emosional, diolok-olok atau dijadikan bahan tertawaan.

Ia justeru mendoakan orang itu dan berharap agar apa yang ia sangka tentang dirinya itu benar adanya. Tapi karena khawatir rasa pede itu bisa berubah menjadi ghurur dan ‘ujub maka beliau ingatkan dengan QS. At-Taubah ayat 117 dengan tadabbur yang sangat menakjubkan.

(Ustadz Yendri Junaidi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar