Daya Saing Indonesia di Mata Dunia Turun Drastis di era Presiden Prabowo

✍️Erizeli Jely Bandaro

Laporan IMD World Competitiveness Ranking 2025 menunjukkan daya saing Indonesia turun tajam dari peringkat 27 (2024) menjadi 40 (2025), penurunan 13 peringkat dalam satu tahun. Tahun 2026 turun lagi peringkat 48.

Penurunan ini bukan sekadar perubahan posisi di sebuah tabel internasional. Ia merupakan sinyal bahwa pelaku usaha global menilai lingkungan bisnis Indonesia menjadi kurang kompetitif dibandingkan negara-negara pesaing. Hal ini tercermin terutama pada penurunan aspek efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.

Bagi investor, daya saing bukan diukur dari besarnya sumber daya alam atau jumlah penduduk. Yang dihitung adalah biaya berusaha, kepastian regulasi, kualitas institusi, produktivitas tenaga kerja, biaya logistik, akses pembiayaan, serta kemampuan pemerintah menciptakan iklim investasi yang stabil. Ketika faktor-faktor tersebut melemah, modal akan mencari negara yang menawarkan risiko lebih rendah dan efisiensi yang lebih tinggi.

Di kawasan ASEAN, persaingan semakin ketat. Vietnam terus memperkuat basis manufaktur berorientasi ekspor, sementara Thailand mempertahankan posisinya sebagai pusat industri otomotif regional. Indonesia memang memiliki pasar domestik yang besar, tetapi ukuran pasar saja tidak cukup apabila biaya produksi, biaya modal, dan ketidakpastian kebijakan terus meningkat.

Penurunan peringkat IMD seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap citra nasional, melainkan sebagai evaluasi objektif atas kualitas institusi ekonomi.

Daya saing yang kuat lahir dari reformasi struktural yang konsisten, bukan dari retorika.

Negara yang mampu membangun birokrasi yang efisien, kepastian hukum, infrastruktur yang andal, sistem keuangan yang mendukung sektor riil, dan sumber daya manusia yang produktif akan lebih mudah menarik investasi berkualitas.

Pada akhirnya, daya saing bukanlah perlombaan mencari peringkat. Daya saing adalah kemampuan sebuah negara menciptakan lingkungan di mana modal mau datang, industri mau berkembang, inovasi tumbuh, dan masyarakat memperoleh pekerjaan yang produktif.

Ketika peringkat turun, yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi, melainkan peluang pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan kesejahteraan generasi mendatang.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar