Bincang-bincang dengan Dubes Turki

✍️Fitriyan Zamzami (Jurnalis Republika)

Saya bertanya mewakili pembaca Republika kepada Prof Talip Küçükcan, duta besar Turkiye untuk Indonesia ini: apakah capaian negaranya ada kaitan dengan kembalinya mereka ke akar Islamnya setelah puluhan tahun di bawah sekularisme ekstrem?

Ia agaknya malu-malu mengiyakan. Yang jelas, kata dia, saat kemudian negara lebih ramah kepada umat Islam, tak lagi melarang simbol-simbol agama, para Muslimah yang berhijab kembali bersekolah tinggi dan mengisi posisi di pemerintahan dan swasta. Ini memicu percepatan kemajuan Turkiye di berbagai bidang.

Dan Turkiye, ia menjanjikan, tak akan menyimpan sendiri kemajuan itu. Semua teknologi akan dibagi dengan Ummah. Indonesia, ia bayangkan, akan memproduksi sendiri alat tempur rekaan Turkiye setidaknya dalam lima tahun mendatang.

Ini semangat yang belakangan kian sering saya dengar dari diplomat negara-negara Muslim: strategic autonomy. Mimpi untuk lepas dari tatanan dunia lama, untuk mandiri dan tak tergantung pada hegemoni manapun.

Ia saya goda, namun bersikeras bahwa kekhalifahan Utsmani tak perlu kembali. Yang dibutuhkan adalah negara-negara Muslim tak lagi jalan sendiri-sendiri…

*Catatan: Pak Dubes girang betul saat dikasih tau bahwa yang ambil ini foto, Thoudy Badai (jurnalis foto Republika), adalah bagian rombongan Global Sumud Flotilla yang oleh Turki diselamatkan dari tahanan Zionis. “Gazi” kata yang ia pakai untuk Thoudy dkk. Mereka-mereka yang pergi perang, terluka, namun berhasil pulang lagi. “Setingkat di bawah syuhada,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar