Perempuan Oman begitu dihormati 🇴🇲

✍️Arian Sahidi

“Gara-gara bikin video di Masjid ini, saya didatangi security Masjid di Oman.”

Waktu di Oman🇴🇲, saya sempat shalat Maghrib dan Isya di Sultan Said bin Taimur Mosque. Said bin Taimur adalah bapaknya Sultan Qaboos.

Sekitar 40 menit sebelum waktu shalat, saya duduk santai menikmati kemegahan arsitektur masjid dari luar sambil merekam beberapa video. Suasananya tenang, langit mulai berubah warna menjelang senja, dan menurut saya itu salah satu pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.

Tiba-tiba, seorang security menghampiri saya.

Dengan ramah dia menyapa dan meminta saya menunjukkan video yang baru saja saya rekam.

Jujur, saya sempat kaget.

Dalam pikiran saya, merekam masjid di Oman bukanlah sesuatu yang dilarang. Memang ada beberapa bangunan tertentu di Oman yang tidak boleh direkam, tetapi setahu saya masjid bukan salah satunya.

Setelah melihat video tersebut, ternyata alasannya bukan karena bangunan masjidnya.

Security itu ingin memastikan bahwa tidak ada perempuan Oman yang terekam di video saya.

Baru setelah videonya diputar ulang, saya menyadari bahwa di ujung area masjid yang cukup jauh ada dua perempuan Oman yang sedang duduk. Saya sendiri bahkan tidak menyadarinya saat merekam karena jaraknya sangat jauh. Wajah mereka pun sama sekali tidak terlihat karena posisi mereka membelakangi kamera.

Yang membuat saya terkesan adalah cara security menangani situasi ini.

Tidak ada nada marah, tidak ada bentakan, tidak ada ancaman untuk menghapus video.

Beliau malah mengajak saya berjalan sambil mengobrol menuju dua perempuan tadi. Setelah itu, beliau menjelaskan situasinya dan menanyakan langsung kepada mereka apakah keberatan jika sedikit bagian tubuh mereka terlihat dari kejauhan dalam video tersebut.

Jawaban keduanya sederhana:
“Tidak apa-apa.”

Masalah selesai.

Pengalaman kecil ini mengajarkan saya sesuatu tentang Oman. Bukan soal aturan merekam, tetapi tentang bagaimana privasi dan penghormatan terhadap perempuan dijaga dengan sangat serius.

Sebuah pelajaran budaya yang mungkin tidak akan saya dapatkan kalau hari itu saya tidak didatangi security masjid.

Sumber: fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. kalau negara sudah makmur tentu seperti itu,.hal2 yg kita anggap sepele tenyata sangat diperhatikan sama mereka,jadi istilahnya,, sudah gak sibuk ngurusin persoalan besar,.misal ekonomi dan kriminalitas..beda dengan negara yg belum makmur,. terlalu banyak urusan yg terbengkalai..

  2. Kalau di negeri ini banyak perempuan yang jadi pekerja kasar, buruh dan sejenisnya untuk ikut membantu suaminya menafkahi keluarganya. Semua diakibatkan gaji/pendapatan suaminya yang jauh di bawah UMR. Sedangkan yang bergaji standar UMR saja masih hidup tak layak karena tingginya pajak, tingginya harga kebutuhan pokok. Tapi kondisi itu yang sangat diharapkan dan dilelihara pejabat penyelenggara negara. Sekelas presiden aja tak mampu bisa menyejahterakan rakyatnya. Tapi minta selalu disukai, minta dipilih seumur hidup. Daaaannn…GUOBLOKNYA…RAKYAT MISKIN dan BODOH tadi masih juga mendukungnya. Contohnya disini ada si ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan TerMul dan TerWo yang GUOBLOKnya sudah mencapau SUPER DUPER!