Teddy

Teddy

✍️Goenawan Mohamad

Ketika saya mendirikan Majalah Tempo, seorang yg dikenal sbg pemimpin yang efektif memberi tip yg saya ingat sampai sekarang: “Jangan memperlakuan siapa pun sebagai anak emas. Tiap kali ada satu anak emas, akan muncul sejumlah orang yg merasa diperlakukan sbg anak tiri.”

Dan itu sangat merusak tim yg kokoh. Jika terjadi di pusat kekuasaan, keretakan akan mengakibatkan kekacauan.

Kiranya, itulah yg membayang jelas kini — bahkan di kalangan militer Indonesia. Presiden Prabowo tampak memberi Teddy Indra Wijaya perlakuan istimewa: naik pangkat dgn kecepatan “whoos” dan dalam umur 37 dapat jabatan tinggi — Sekretaris Kabinet — tanpa bekal pengalaman yg cukup. Hari ulang tahunnya dirayakan Presiden di Paris yg mewah, diduga dgn uang negara.

Teddy dianggap jadi sombong, Tapi lebih lagi, ia dianggap menghambat hubungan Presiden dgn menteri2 dan pejabat lain.

Mungkin benar begitu, mungkin pula ia menimbulkan rasa iri yg meluas.

Syshdan, ada berita ia ditempeleng Komandan Pasukan Khusus yg tampaknya kesal kehilangan kontak dgn Presiden, Panglima Tertinggi. Tak urung, Menteri Pertahanan dikabarkan akan menindak Jendral Pasukan Khusus itu. Segera,Menteri Pertahanan pun dikecam keras (tersiar luas di media sosial) oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Panjaitan, seorang pesiûan perwira tinggi bintang empat.

Keributàn ini dlm sejarah ABRI baru kali ini terjadi. Bayangkan bagaimana dunia luar mengikutî rendahya mutu kepeminpinan nasional kita kini dan betapa sedih serta malunya para pendahulu TNI.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. pret lu gunawan….majalah lu dulu juga jadi bazernya Mulyono. lu puji setinggi langit dia
    lihat akhirnya negara lu jd bangkrut hasil kepemimpinanannya.
    terakhir lu hanya bisa mewek di acara Rosi kompas tv