RINGKASAN MASALAH MBG

  • Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua wakilnya (Sony Sanjaya & Lodewyk Pusung) ditetapkan tersangka oleh Kejagung (Juni 2026).
  • Banyak yayasan mitra terafiliasi politik/partai (sekitar 27-33%).
  • Terjadi Penunjukan yayasan mitra SPPG yang terafiliasi dengan pejabat BGN dan mark-up pengadaan.
    Contoh barang yang dimark-up:
    21.801 unit motor listrik (total ~Rp1–1,1 triliun) via PT YAT (Andri Mulyono). Vendor ini tak punya dealer/bengkel aktif.
    32.000 pasang sepatu.
    31.994 unit tablet.
    5.400 unit TV 75 inci (~Rp75 miliar).
  • Kasus keracunan massal (ribuan korban di awal program).
  • Kualitas makanan rendah, porsi tidak sesuai, dapur tak standar.
  • Data penerima fiktif/fiktif kitchens, insentif flat Rp6 juta/hari yang dianggap tidak adil. Jual-beli titik/lokasi SPPG (penunjukan yayasan afilasi pejabat yang tak memenuhi syarat).
  • Mark-up harga bahan baku & melebihi anggaran Rp8.000–Rp10.000 per porsi.
  • Kualitas makanan buruk (keracunan massal, gangguan pencernaan, menu tidak sesuai).
  • Tidak memenuhi Juknis: bangunan tidak sesuai, belum punya SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi), IPAL, atau tenaga pengawas gizi/keuangan.
  • Konflik internal antar mitra/yayasan.
  • Menyebabkan distorsi pasar, naiknya harga pangan (telur, ayam, sayur) di awal karena permintaan besar sehingga merugikan pedagang kecil & warteg. Banyak UMKM katering sekolah tersingkir.
  • Dana MBG sebagian besar (Rp223 T+) diambil dari pos pendidikan APBN. Total anggaran pendidikan nasional Rp757–769 T, sehingga MBG menyedot hampir 29–30% dari dana pendidikan.
  • Jumlah Rp223 T untuk MBG ini mengurangi ruang fiskal pendidikan murni (infrastruktur, kurikulum, pelatihan guru, smart board, Sekolah Rakyat). Kritik dari PDIP, INFID, dan sidang MK menyebut ini “pemotongan terselubung” terhadap dana pendidikan.
  • Menambah beban guru dan beban operasional sekolah. Menyebabkan gangguan jam belajar karena proses distribusi, pengambilan, dan pengembalian wadah MBG sering memakan waktu pelajaran. Fasilitas sekolah (ruang makan, penyimpanan, kebersihan) sering ditanggung sekolah dengan dana BOS atau swadaya.

Kenapa program ini masih akan dilanjutkan terus ya?

~Triwibowo Budi Santoso~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Perempuan munafik ahli nyinyir ketahuan watak aslinya setelah diberi jabatan, kasihan si Erizal dan Azwar ga dapet jatah sedikit pun.