✍️Ustadz Muhammad Abduh Negara
Saya sering menemukan ‘para penjaga moral’ yang berujar, “Halah, mereka yang protes dan mengkritik itu, kalau nanti masuk ke pemerintahan juga sama saja”, dengan tujuan untuk menafikan protes dan kritik dari mereka.
Kita memang akui, dari aktivis 66 hingga 98, ketika masuk ke pemerintahan, sikap kritis mereka sering kali menghilang. Mungkin, Bung Fahri salah satu contoh teranyar. Namun, itu hal lain. Itu soal integritas pribadi dan kesetiaan pada nilai.
Kalau saya malah melihatnya, kita tidak tahu bagaimana masa depan para aktivis dan mahasiswa yang kritis tersebut, yang kita lihat adalah saat ini. Selama protes dan kritik mereka itu valid, benar, ya tidak ada masalah. Fase mereka saat ini memang sedang memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini. Dan jika yang mereka perjuangkan itu memang benar (fi nafsil amr), dan demi kemaslahatan orang banyak, ya bagus-bagus saja.
Soal nanti mereka khianat saat menjabat, soal nanti mereka ternyata sama saja dengan pihak yang mereka kritik, itu urusan nanti. Toh, yang kita setujui adalah yang APA YANG MEREKA SUARAKAN SAAT INI, bukan pribadi mereka seutuhnya, bukan apa yang terjadi pada mereka nanti. Jika mereka nanti sama saja, akan ada generasi baru yang kembali mengkritisi mereka.
Yang kita dukung adalah suara kebenaran, yang tetap harus ada di setiap masa, tak peduli siapa yang menyuarakannya, bahkan meski yang menyuarakannya kemudian tidak setia dengan nilai yang pernah dia perjuangkan sebelumnya.
Jangan sampai pernyataan anda, “Ah, mereka nanti sama saja”, membuat anda enggan memperjuangkan nilai-nilai yang anda yakini kebenarannya. (*)







kyk si mpud ya…bikin sensasi mulu
prestasinya gabung rezim : nol 😂😂
sangat mudah melihat mereka kedepan dgn ciri…:
1. apakah mereka saat kritis sdh nikah?, dan lihat ketika sudah nikah namun blum jd pejabat bgm sepak terjang. politik dan bgm membangun ekonomi pribadinya.
2. apakah mereka tetap menjaga agamanya?