TIYO DIHUJAT ELIT POLITIK

✍️Beni Sulastiyo

Tiyo, mantan Ketua BEM UGM dihujat oleh Elitpulitik. Dari Idrus Marham (Waketum Golkar mantan Mensos) hingga Adhyaksa Dault (mantan Menpora zaman SBY). Adhyaksa Dault, mantan ketua KNPI yang lahir tahun 1963 ini mengatakan ritik Tiyo sudah kelewatan, bukan kritik lagi tapi menghina kepala negara. “Astaghfirullah istigfar kamu!”.

Adhyaksa juga mengatakan, “Saya belum pernah mendengar orang berkata kasar seperti kamu terhadap kepala negara”. Lalu menyitir cerita quraan bahwa Nabi Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk berkata yang baik kepada Firaun.

Ya orang berpendapat terhadap orang lain, bebas aja sih. Itu bagian dari kebebasan berpendapat. Orang tak bisa dipidana, karena memarahi atau menghujat orang lain. Termasuk menghujat aktivis, juga menghujat pejabat publik.

Kritik Tiyo menurut saya wajar-wajar aja. Tiyokan aktivis mahasiswa. Aktivis mahasiswa memang seperti itu. Kalau ga keras, tidak menggelegarrr, namanya bukan aktivis, tapi artis.

Lagian kritik yang ilmiah dan santun terhadap MBG itu sudah banyak dilakukan oleh orang-orang pinter. Tapi tak ada yang mau dengar. Waktu Tiyo mengatakan MBG adalah Maling Berkedok Gizi, kedengerannya memang kasar. Banyak yang marah.

Tapi setelah tiga pimpinan MBG ditangkap karena maling uang trilyunan, seluruh rakyat Indonesia gemparrrr. Nah, MBG bersi Tiyo ternyata yang bener. hahaa.

Bagi mereka yang tak paham dengan keras kepalanya para pejabat di negeri ini, ucapan-ucapan Tiyo, mungkin dianggap kelewatan. Tapi kalau tahu betapa bebalnya para pejabat di negeri ini, ucapan Tiyo itu masih tergolong santun. wkwkwk.

Stempel “menghina Kepala Negara” kepada Tiyo juga ga pada tempatnya. Istilah menghina itu istilah hukum. Pelakunya bisa dipidana. Adhyaksa mungkin ingin “menjatuhkan mental” Tiyo.

Tapi sepertinya tak ada kata-kata menghina. Yang ada itu mengejek. Kepanjangan SPPG versi Tiyo misalnya, lebih banyak bernada ejekan daripada hinaan. Bikin orang sakit hati, karena pedas. Tapi Lucu. Dan kalau otak ga cerdas, sangat sulit loh membuat pernyataan yang pedas tapi lucu kek gitu. wkwkwk.

Jadi nurut saya ga ada yang kelewatan. Begitulah aktivis mahasishwa. Aktivis kok disamakan dengan pebisnis, artis, atau penceramah agamis. Ya bedalah.

Aktivis era 98 seringkali melakukan hal yang sama. Malah jauh lebih kasar. Lha Suharto, Presiden RI yang sangat berkuasa saat itu, sering diplesetkan jadi ASUHARTO. Ngerikan?!

Tiyo dan para aktivis itu bukan Nabi. Tapi kepeduliannya terhadap negeri mengikuti jejak para nabi, kritis!

Tapi, Nabi Musa disuruh Tuhan untuk berkata dengan kata yang baik kepada Firaun, karena mungkin TUhan tahu, Nabi Musa bukan aktivis. Nabi Musa mengkritik Firaun dengan santun, sesuai dengan posisinya sebagai Nabi, sebagai panutan orang banyak.

Walaupun sudah santun, Firaun lalu marah. Akhirnya Firaun dan balatentaranya mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Lalu Tuhan membela Nabi Musa. Firaun ditenggelamkan di laut merah.

Pilih mana menerima kritikan yang kelewatan, atau ditenggelamkan?

(sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar