✍️Ahmad Arif
Yang menjijikkan dari skandal di Badan Gizi Nasional bukan hanya dugaan korupsinya. Namun juga cara banyak pejabat dan elite politik tiba-tiba berbalik arah setelah kasus itu meledak.
Ketika MBG diluncurkan, kritik hampir tidak diberi ruang. Setiap pertanyaan tentang anggaran, tata kelola, kesiapan infrastruktur, transparansi pengadaan, hingga risiko kebocoran dana dianggap sebagai sikap anti-pemerintah atau tidak mendukung perbaikan gizi anak. Buzzer dikerahkan, bahkan militer meneror ortu yang mengeluhkan kualitas MBG. Padahal sejak awal MBG adalah program raksasa dengan anggaran yang terus membengkak, bahkan menjadi salah satu pos belanja terbesar negara.
Saat itu, banyak pejabat berlomba-lomba menjadi juru bicara program. Mereka memuji tanpa reserve. Mereka menjual optimisme, mengulang slogan, dan menampilkan keberhasilan yang jauh dari terbukti. Kritik dianggap musuh dan antek asing.
Kini, orang-orang yang dulu paling keras membela program mendadak menjadi pengkritik. Mereka berbicara tentang perlunya evaluasi, pengawasan, audit, dan transparansi. Seolah-olah mereka tidak pernah menjadi bagian dari barisan yang membungkam pertanyaan-pertanyaan itu sejak awal.
Fenomena ini menunjukkan moral hazard.







dudung tak dudung … memang kerjanya jadi joker nih orang, tapi joker yang bersimbah uang
menteri yang tolol dipilih oleh Presiden yang tolol
presiden yang tolol dipilih oleh rakyat yang tolol juga
najis bgt pejabat2 kek gini…
kalo presiden nya bagus mah gak bakal kepake orang2 kek gini
wah kalah konsisten ama AF dong. sejak awal sampai borok MBG mulai terbongkar, dia masih mendukung dgn militansi menyala-nyala
Mereka kaya bunglon ga konsisten, alamat dijuluki kadrun yemn sama penjilat bolwo sejati yang betah nangkring di sini nih.