✍️Wilda Wahab
Sudah berapa lama kita berbicara? Sudah berapa banyak data yang kita susun, berapa banyak angka yang kita jejerkan, berapa banyak suara yang kita kumpulkan lalu kita kirimkan ke telinga mereka? Dan apa yang terjadi? Tidak ada yang berubah.
MBG. Program Makan Bergizi Gratis.
Angkanya tidak kecil. Bukan recehan yang jatuh dari saku seseorang. Ini uang yang dipotong dari gaji kita setiap bulan. Uang yang dihitung negara dari setiap barang yang kita beli, setiap transaksi yang kita lakukan, setiap nafas ekonomi yang kita keluarkan sebagai rakyat. Uang yang kemudian bertemu dengan angka-angka di atas kertas yang tidak pernah cocok dengan kenyataan di lapangan.
Sepanjang sejarah republik ini berdiri, tidak pernah angka-angka itu membengkak seperti ini. Tidak pernah rakyat merasa serendah ini. Dan tidak pernah cara bermainnya selicin ini.
Lihatlah caranya. Hampir semua orang besar diikat. banyak sekali lembaga digandeng, bahkan pesantren-pesantren pun diajak mengelola dapur-dapur itu. Cerdas sekali.
Ketika semua sudah masuk dalam sistem, ketika semua sudah memegang bagian, siapa yang akan bersuara? Siapa yang berani menggigit tangan yang memberinya makan?
Bagi-bagi peran, bagi-bagi tanggung jawab, bagi-bagi diam.
Inilah cara paling elegan untuk membungkam kritik tanpa harus melarang satu kata pun. Dan kita orang-orang kecil yang tidak duduk di dapur-dapur itu, yang tidak memegang anggaran sepeserpun dianggap iri, bukan dianggap peduli, bukan dianggap kritis, tapi iri. Seolah kita bersuara karena tidak kebagian, bukan karena memang ada yang salah. Ini penghinaan yang dikemas rapi.
Yang membuat dada ini sesak bukan hanya soal uangnya, tapi ini: mereka tahu kita tahu.
Kita sudah bersuara. Akademisi bicara, jurnalis menulis, aktivis turun, rakyat biasa mengetik sampai jempol pegal di kolom komentar, Kritik sudah dilayangkan dari segala penjuru dengan data, dengan logika, dengan amarah yang beradab.
Dan mereka? Mereka tertawa. Bukan tertawa yang tersembunyi. Bukan tawa yang ditutupi tangan, tapi tawa yang nyaman. Tawa orang-orang yang tahu bahwa suara kita, sebising apapun, tidak akan menggeser kursi mereka.
Kita seperti radio rusak di sudut ruangan. Bunyi terus, berisik terus, tapi tidak ada yang menyetel ulang frekuensinya. Tidak ada yang benar-benar mendengar.
Lalu apa gunanya terus bersuara? Kawan, suara itu bukan untuk mereka yang tuli. Suara itu untuk kita sendiri. Untuk membuktikan bahwa kita masih punya sesuatu yang mereka tidak punya, dan tidak akan pernah bisa beli dengan uang pajak sekalipun; Nurani.
Kita bersuara bukan karena yakin mereka akan berubah. Kita bersuara karena kita tidak mau berubah menjadi seperti mereka. Karena diam di hadapan kedzaliman yang terang-benderang bukan kedamaian, itu keikutsertaan.
Ada yang lebih menyakitkan dari dirampok.
Dirampok, lalu diminta diam. Dirampok, lalu disuruh bersyukur. Dirampok, lalu yang bersuara dilabeli pengacau.
Ini bukan soal politik. Ini soal matematika moral yang sangat sederhana: Uang rakyat, harus kembali ke rakyat. Bukan ke meja makan mereka yang sudah kenyang. Bukan ke proyek-proyek yang angkanya cantik di presentasi tapi kosong di lapangan. Bukan ke tangan-tangan yang sudah terlalu lama menggenggam terlalu banyak.
Kamu yang masih punya hati nurani harus jelas posisinya. Kamu boleh lelah, boleh marah, tapi jangan pernah pindah barisan. Tetaplah di barisan orang-orang yang masih punya hati. Karena menjadi rakyat yang bersuara di tengah sistem yang tuli itu bukan kekalahan, Itu integritas.
(*)







ada yg lebih gila dan korup lagi yaitu namanya yemn
corruption in Yemen is systemic and pervasive. In fact, it is ranked among the most corrupt nations in the world, scoring 13 out of 100 and consistently ranking near the bottom on the global Corruption Perceptions Index.
buktinya mana? kamu pernah jalan-jalan ke sana?
terus kalau yemn ancur-ancuran otomatis bikin kinerja prabowo keliatan bagus gitu? kalau cuma ngomong ndasmu emg bowo jagonya, org² di yemn sana ga bisa ngomong ndasmu
jauh2 amat lu tong…
lu rasis , idola lu sama
siap2 lu dikumpulin di akherat
cieee…si ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) GUOBLOKKKK Anjing penjilat komen kagak nyambung. Dasar ODGJ lu‼️😂😜🤣😝
“10+6=17”, “yang nyinyinyinyi….”, “ra’yat desa tidak pakai dollar dan saham”, “kalau saya dipanggil Tuhan, saya tetap memonitor kalian dari atas”.
🔥 S O N T O L O Y O 👊
Duka mengakusisi tempat di dada ini
Luka terasa begitu pekat
Diriku yang kuat seolah terpangkas dalam sekejap
Aku merasa rapuh, sungguh.
Adakah manusia² durjana di esok hari
Hanya hati ini yang tau bahwa perjuangan melawan durjana belum berakhir
Dan, hanya Tuhan yang mampu menuntun kita untuk mengenyahkan para durjana
Semoga rezim ini yang terakhir dalam setiap nafas NKRI
aamiin ya rabb 🤲
maturnuwun sontoloyo yang tidak sontoloyo
semoga AZAB ILLAHI segera MENIMPA para pemegang kendali, sutradara, perancang, pelaksana, 🐕🐕🐕 PIARAAN beserta GEROMBOLAN
aamiin 🤲🤲🤲
parjo sama Parcok aja sekarang nyaman sama rezim korup ini
wong ikut ngurus embegeh SM kopdes 😂😂😂
bjirrr