Di awal-awal konflik Suriah, kelompok yang membela rakyat dari kekerasan yang dilakukan oleh rezim Assad disebut “revolusioner”.
Revolusioner adalah klasifikasi umum terdiri dari para mujahidin (Muslim Sunni), perjuang Kurdi, sekuler kanan, Druze, Kristen, sosialis, fans Saddam Husein, bahkan Nushairy sekalipun, termasuk takfiri awalnya ikut barisan ini, sebab selama ikut melawan Assad maka ia adalah bagian dari revolusi.
Awalnya Islamis sangat kecil, bahkan banyak dari mereka yang tidak tahu bagaimana revolusi bisa terjadi, sebab berada di penjara atau pengasingan luar negeri. Jaulani bahkan hanya berhasil membawa 5-6 orang temannya ketika pulang dari Irak.
Namun kerasnya pertempuran terus menggerus mental banyak orang, apalagi ketika AS memutuskan tak melakukan bantuan serangan udara seperti yang diminta layaknya Libya. Lobi-lobi demokrasi gagal. Membuat sebagian orang mundur dari revolusi, pergi ke Turki lalu ke Eropa. Sebagian kecil lain malah balik ke wilayah Assad. Sementara Kurdi menampakkan tujuan asli dengan berubah haluan ke arah separatisme.
Akhirnya setelah perang memasuki tahun ke-3 hampir semua revolusioner yang tersisa adalah mujahidin dan 10 tahun kemudian dituntaskan.
Di saat orang ramai keluar dari Suriah, para mujahid berebut datang beramai-ramai ke Suriah.
Kaum Islamis kerap disalahkan sebagai penyebab konflik vertikal sebuah negara, faktanya tidak demikian, Islamis lah yang justru menyelesaikan perang yang bukan dimulai oleh mereka, karena paling gigih bertahan sampai akhir permainan.
Jadi kalau naudzubillah Indonesia chaos meletus civil war, balkanisasi atau semacamnya (semoga tak pernah terjadi), Insya Allah dalam kondisi berantakan itu akan muncul para pejuang Islam yang gigih bertarung untuk menyelesaikan perang dan mengembalikan negara ke arah lebih stabil.
Foto: Abu Hajar, seorang warga Perancis dengan ayah Suriah dan ibu asli Perancis, komandan Suqur Syam. Besar di Belgia. Meninggalkan anak istrinya di Belgia untuk berperang di Suriah. Gugur tahun 2013.
(Pega Aji Sitama)






