Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Islam Iran

Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Islam Iran, dia menyerang sebuah negara yang tidak menyerang dia.

Iran menyerang Israel bahkan saat Israel tidak menyerang Iran, Iran menyerang Israel karena Israel menyerang Lebanon.

Ini menunjukkan kekuatan dan wibawa GeoPolitik Iran dikawasan, yang menganggap semua aliansi Iran wajib dijaga dan disupport dari serangan dan gangguan Israel.

Iran menunjukkan dirinya bukan hanya mampu membela diri, tapi juga membuktikan dirinya mampu membela Aliansinya.

Beda dengan negara arab yang jangankan melindungi sesamanya, melindungi dirinya sendiri saja sama sekali tidak mampu.

Iran bukan negara super power di dunia, budget militer Iran hanya 15B USD per tahun, negara yang dijatuhkan sanksi hampir 50 tahun, diserang, di embargo, dikeroyok, dan diisolasi. Iran bukan hanya tegak, tapi mampu melindungi dirinya dan temannya sekaligus.

Bukan hanya mampu survive dari gempuran dan agresi negara super power selama 40 hari plus 12 hari tahun lalu. Tapi Iran juga mampu tumbuh dan berkembang. Senjata yang dipakai kemarin menghajar Israel adalah balistik jenis baru dengan kecepatan terbaru 9 Mach.

Iran juga kemrin pertama kali menyerang Israel lewat Iran bagian barat, sehingga balistik Iran menuju ke Israel hanya butuh waktu 10 menit dengan menjelajahi ribuan kilometer.

Iran barat adalah wilayah yang diklaim oleh Trump sudah lumpuh akibat serangan AS dalam perang kemarin, Ini taktik baru Iran dan sekaligus pesan yang jelas ke Israel dan AS untuk kemungkinan konflik dimasa depan.

Kegagalan AS dan Israel di Iran adalah menyakitkan sekaligus memalukan. Iran mampu tegak melawan invasi skala penuh dua negara kuat selama 40 hari dan plus 12 hari perang tahun lalu.

Kegagalan taktik dan strategi AS dan Israel melawan Iran meninggalkan militer AS dalam kondisi kacau dari dalam, cek cok antar jenderal, saling pecat di Pentagon, debat panas di senat dan kongres, dan mempermalukan Trump di depan banyak media internasional.

Tidak hanya itu, kegagalan melawan Iran memaksa direktur intelijen mossad memecat beberapa petingginya karena dianggap gagal menganalisis dan merencanakan penggulingan pemerintahan Iran. Direktur Mossad pilihan Netanyahu Roman Goffman memecat beberapa petingginya karena misi di Iran dianggap gagal.

Kegagalan yang memaksa Netanyahu membuat keputusan berhenti menyerang Iran bukan karena keinginannya sendiri dan kepentingan Israel, tapi karena tekanan pihak lain yang dipaksakan ke Israel.

Iran bukan hanya survive dari agresi militer besar-besaran ini, tapi Iran juga mampu mendikte arah perang dan bahkan bisa menentukan banyak hal di lapangan. Menentukan apakah perang berhenti atau tidak, Iran diatas angin dengan terus menguasai Selat Hormuz dan me-maintenance semua proxinya.

Perang 40 hari yang meninggalkan luka mendalam di tubuh militer AS dan Israel, dan luka yang lebih dalam dari sisi psikologis dan wibawa super power.

Perang yang terus menerus memaksa Trump dan Netanyahu melakukan kebohongan demi kebohongan publik, hanya untuk menutupi fakta kegagalan paling menyakitkan dalam petualangan militer mereka versus Iran.

Iran bukan hanya mampu melawan, tapi mampu menjaga kawan dan mengendalikan kawasan. Kondisi yang tidak pernah diprediksi sebelumnya oleh Trump, Netanyahu, dan semua penasehat penasehat mereka.

(Tengku Zulkifli Usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar