Satu keluarga di Banyumas hilang misterius pada 2014, akhirnya ditemukan pada 2019 dalam kondisi sudah jadi tengkorak, rupanya gara-gara warisan

[Cerita Kriminal] satu keluarga di Banyumas hilang misterius pada 2014, akhirnya ditemukan pada 2019 dalam kondisi sudah jadi tengkorak, rupanya gara-gara warisan.

Ini adalah kasus menghilangnya tiga kakak-beradik di Banyumas, Jawa Tengah, pada 2014 lalu. Ketika itu, empat orang dalam satu keluarga yang terdiri atas tiga kakak-beradik dan seorang putri tiba-tiba lenyap tanpa meninggalkan jejak hanya dalam sehari.

Yang mengerikan, kasus ini baru terbongkar lima tahun kemudian setelah seorang warga menemukannya secara tak sengaja.

Pada 9 Oktober 2014 warga desa Pasinggangan, Banyumas, Jawa Tengah, dibuat gempar dengan misteri hilangnya tiga kakak beradik yaitu Heri, Yono, dan Ratno. Selain itu, Vivin anak dari Ratno juga menghilang.

Keempatnya menghilang begitu saja hanya dalam sehari. Anehnya mereka sebenarnya tinggal berdekatan dengan anggota keluarga yang lain, yaitu Mbah Misem yang merupakan orangtua Heri, Yono, dan Ratno, dan juga Saminah yang merupakan saudara kandung dari tiga kakak-beradik itu, yang tinggal bersama tiga anaknya, Irfan, Putra, dan Sania.

Tapi semuanya mengaku tak tahu ke mana perginya Heri, Yono, Ratno, dan Vivin.

Misteri itu tak pernah terpecahkan selama lima tahun hingga akhirnya pada 2019 warga kampung dibuat syok dengan sebuah kejadian mengerikan yang membuat misteri itu terungkap. Seorang warga yang sedang membersihkan saluran pembuangan di belakang rumah mbah Misem, menemukan tulang belulang dan sisa-sisa pakaian.

Karena tulang-belulang itu sangat banyak, warga pun melapor ke kantor polisi. Keluarga Mbah Misem pun diinterogasi polisi.

Ketika itu polisi curiga karena Saminah dan anak-anaknya memberi jawaban yang berbelit-belit dan tidak sinkron. Hingga kemudian mereka memberi pengakuan yang mengejutkan, bahwa merekalah yang telah menghabisi Heri, Yono, Ratno, dan Vivin.

Mereka semua dieksekusi pada 9 Oktober 2014. Yono dihabisi pertama kali dengan dihantam tabung gas 3 kg, kemudian Ratno dan Heri yang pulang dari bekerja di sore hari juga dieksekusi dengan cara yang sama. Sementara Vivin sebenarnya tidak menjadi sasaran namun karena terlanjur pulang dari kampus dan mengetahui ada yang tidak beres, dia pun ikut dihabisi.

Saminah menjadi otak dari kejahatan mengerikan itu. Motifnya karena ingin merebut harta warisan dari saudara-saudara kandungnya sendiri.

Dua anak Saminah, Irfan dan Putra, bertindak sebagai eksekutor. Sementara Sania, anak perempuannya, membantu menjual barang-barang korban sekaligus menutupi kejahatan.

Setelah dieksekusi, tubuh tak bernyawa Heri, Yono, Ratno, dan Vivin, dikubur dengan tak layak di belakang rumah. Adapun Mbah Misem sama sekali tak mengetahui dan tak terlibat.

Karena kejahatan mengerikan itu Saminah, Irfan, dan Putra, tanpa ampun divonis penjara seumur hidup. Sementara Sania dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

Baca artikel selengkapnya:

https://intisari.grid.id/read/034407660/warisan-berdarah-3-kakak-beradik-tiba-tiba-menghilang-misterius-ternyata-dihabisi-keluarga-sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar