Pihak Israel menyatakan bahwa layang-layang yang diterbangkan dari Gaza akan diperlakukan sebagai tindakan perang dan senjata militer, dengan atau tanpa bahan peledak di dalamnya. Pemerintah Israel mengancam akan mengintensifkan serangan udara dan mengevakuasi paksa penduduk di area tempat benda-benda tersebut diterbangkan.
Dalam sebuah unggahan di platform X pada hari Senin, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa “tindakan tegas” akan diambil untuk mencegah anak-anak menerbangkan layang-layang di wilayah kantong tersebut.
Sebelumnya pada hari Minggu serangan udara militer Israel di Jalur Gaza telah menewaskan seorang bocah laki-laki Palestina berusia empat tahun bernama Muhammad Abdel-Salam Taha di kota az-Zawayda, Gaza bagian tengah.
Otoritas di Gaza memperingatkan para orang tua agar tidak membiarkan anak-anak mereka menerbangkan layang-layang pasca serangan Israel.
Komite-komite lokal di Gaza telah memperingatkan orang tua untuk melarang anak-anak mereka menerbangkan layang-layang setelah Israel mengancam akan membunuh siapa pun yang melakukannya.
“Kami bekerja tanpa lelah di lapangan dan melakukan segala upaya untuk menghentikan praktik ini—bukan untuk membatasi masa kanak-kanak anak-anak kami, yang hak-hak paling mendasarnya untuk bermain dan hidup dengan aman saja sudah terenggut, melainkan demi melindungi nyawa mereka yang tak berdosa,” demikian pernyataan komite-komite tersebut, dilansir Al Jazeera, Selasa (25/8/2026).
Pada tahun 2018, layang-layang dan balon yang membawa perangkat pembakar sempat diterbangkan dari Gaza ke wilayah Israel, yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan pertanian. Benda-benda tersebut diterbangkan sebagai bentuk protes terhadap blokade Israel atas wilayah tersebut.
Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa layang-layang kali ini membawa bahan peledak.
Berdasarkan pemeriksaan militer Israel sendiri terhadap sekitar 10 layang-layang kertas yang mendarat di wilayah komunitas Israel dekat perbatasan, tidak ditemukan adanya bahan peledak atau material berbahaya. Layang-layang tersebut murni terbuat dari kertas.
Hamas menuduh Israel “menciptakan dalih palsu untuk melanjutkan perang di Gaza”.
Juru bicara Hamas menyatakan bahwa layang-layang tersebut hanyalah mainan anak-anak telantar di kamp pengungsian yang mencoba mencari sisa-sisa kebahagiaan masa kecil di tengah kehancuran.
Mereka menuduh Israel sengaja menggunakan isu layang-layang kertas ini sebagai dalih (pretext) untuk melanggar gencatan senjata dan melanjutkan agresi militer.
Dampak Psikologis pada Anak-Anak
Menyusul ancaman keras dari militer Israel, beredar video emosional yang memperlihatkan anak-anak di Gaza terpaksa merobek layang-layang mereka sendiri sambil menangis karena ketakutan bahwa mainan tersebut akan memicu bom dan serangan udara ke tempat tinggal mereka.







