Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa presiden paling populer di dunia Arab, dengan tingkat dukungan sebesar 79%?

Sebuah gambar grafis yang mengklaim bahwa Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa telah menjadi presiden paling populer di dunia Arab, dengan tingkat dukungan sebesar 79 persen, tersebar luas di media sosial Suriah pekan lalu.

Lebih dari 20 salinan gambar tersebut dapat dilacak secara publik di Facebook, Instagram, Threads, dan X, meskipun jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena unggahan di grup privat dan saluran Telegram tidak terindeks secara akurat.

Hanya ada satu masalah: jajak pendapat yang dimaksud itu tidak pernah ada.

Gambar grafis tersebut tidak mencantumkan nama lembaga survei, negara yang disurvei, tanggal, ukuran sampel, metodologi, pertanyaan, maupun margin kesalahan. Gambar itu menyajikan angka yang spesifik dan kesimpulan regional yang luas tanpa memberikan satu pun bukti yang dapat diverifikasi.

Organisasi pemeriksa fakta Suriah, Kashaf, mengategorikan klaim tersebut sebagai informasi yang menyesatkan; mereka menemukan bahwa gambar itu tampaknya menggabungkan atau memelintir informasi lama yang tidak saling berkaitan. Tidak ada survei kredibel yang menyatakan bahwa al-Sharaa memiliki tingkat dukungan 79 persen di seluruh negara Arab atau bahwa ia menempati peringkat sebagai presiden paling populer di kawasan tersebut.

Yang patut dicatat, organisasi media besar di Suriah tidak mendukung klaim tersebut. SNN dan Al-Ikhbariya menuntut adanya sumber yang dapat diverifikasi alih-alih menganggap gambar grafis yang bernada positif itu sebagai berita. Sikap mereka patut diapresiasi: jurnalisme profesional menuntut adanya bukti, terlepas dari apakah klaim tersebut menyenangkan atau tidak.

Namun, banyak aktivis yang membagikan gambar tersebut tampaknya melakukannya karena alasan yang sepenuhnya positif. Mereka ingin Suriah bangkit dan sukses setelah puluhan tahun berada di bawah kediktatoran dan perang. Mereka menyambut baik tanda-tanda bahwa negara tersebut sedang memulihkan posisinya di kawasan dan memandang pengakuan internasional yang kian meningkat terhadap al-Sharaa sebagai sumber harapan nasional.

Akan tetapi, pihak yang menciptakan disinformasi dan pihak yang menyebarkannya tidak harus memiliki motif yang sama.

Gambar grafis tersebut tampaknya sengaja dibuat untuk menipu. Seseorang mengarang atau memanipulasi statistik yang spesifik, mengubahnya menjadi “data jajak pendapat” yang tampak profesional, serta menghilangkan semua informasi yang memungkinkan pembaca untuk memverifikasinya. Para aktivis kemudian menyebarkannya dengan niat baik karena mereka berharap berita itu benar adanya. Disinformasi yang efektif sering kali bekerja dengan cara ini: pembuatan konten yang berniat buruk memanfaatkan emosi tulus sebagai sarana penyebarannya.

Survei-survei kredibel memang menunjukkan adanya dukungan yang signifikan terhadap al-Sharaa di kalangan rakyat Suriah, meskipun hasilnya lebih kompleks daripada yang digambarkan oleh gambar grafis rekaan tersebut. Sebuah survei Arab Barometer yang dilakukan pada akhir tahun 2025 menunjukkan tingkat kepercayaan sebesar 81 persen terhadap dirinya. Sebuah survei ETANA yang dilakukan kemudian melaporkan tingkat kepuasan sebesar 53 persen, dengan perbedaan yang sangat besar antarwilayah dan komunitas. Survei tersebut juga tidak mencakup pemeringkatan di seluruh dunia Arab.

Kabar buruk yang keliru menimbulkan ketakutan; kabar baik yang keliru menciptakan kepercayaan diri yang semu. Keberhasilan yang direkayasa mendorong harapan yang tidak realistis, mengaburkan perpecahan politik yang nyata, dan dapat menghambat kritik yang diperlukan dengan menciptakan kesan adanya dukungan yang luar biasa. Ketika rekayasa tersebut terbongkar, hal itu juga merusak kredibilitas para aktivis yang menyebarkannya dan dapat membuat pembaca tidak lagi memercayai laporan positif yang akurat.

Meskipun tidak ada bukti yang mengaitkan Israel atau pihak lain mana pun yang dapat diidentifikasi dengan grafik ini, disinformasi yang tampaknya menguntungkan pun dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang bermusuhan. Hal ini menciptakan harapan palsu, merusak kredibilitas pihak-pihak yang menyebarkannya kembali, dan pada akhirnya mendorong publik untuk tidak memercayai apa pun—termasuk laporan yang akurat. Oleh karena itu, rekayasa yang memberikan kesan positif bisa sama bergunanya bagi musuh-musuh Suriah dibandingkan dengan rekayasa yang secara terang-terangan bersifat memusuhi.

Kasus ini bukanlah kejadian tunggal. Disinformasi mengenai Suriah terus-menerus terjadi sejak revolusi bermula; informasi ini diproduksi dan disebarluaskan secara masif oleh pemerintah, jaringan yang terkait dengan intelijen, media partisan, propagandis pro-Assad, akun anonim, serta pihak oportunis yang mencari pengaruh, uang, atau keterlibatan publik. Organisasi seperti Verify-Sy dan Kashaf hadir karena Suriah tidak hanya menghadapi kesalahan daring sesekali, melainkan sebuah pertarungan berkelanjutan mengenai realitas itu sendiri.

Mengabaikan rekayasa ini dengan alasan bahwa “hal semacam ini sering terjadi” berarti membalikkan hubungan sebab-akibat. Justru karena seringnya hal ini terjadi, maka rekayasa tersebut harus diungkap. Setiap klaim yang tidak dikoreksi akan menurunkan standar pembuktian dan mempermudah penyebaran kebohongan berikutnya.

Satu jajak pendapat palsu tidak akan menentukan masa depan Suriah. Namun, ribuan rekayasa yang tidak dikoreksi dapat turut menentukan apakah rakyat Suriah masih memiliki landasan bersama untuk membedakan mana yang nyata.

Oleh karena itu, media dan jurnalis independen harus mencermati kabar yang terdengar positif dengan ketelitian yang sama seperti saat mereka menanggapi propaganda yang bermusuhan. Suriah membutuhkan harapan—namun harapan tersebut haruslah cukup kuat untuk bertahan dalam proses verifikasi.

(Sumber: Radio Free Syria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *