Kenapa demo 27 Agustus, pemerintah terlihat gak suka? INI ANALISANYA

Analisa akun X @pak_erte92:

Gua punya analisis sendiri, kenapa demo di 27 Agustus ini, pemerintah terlihat gak suka.

Karena, motor penggeraknya bukanlah mahasiswa. Bukan juga buruh, melainkan masyarakat pati. Ya, grassroot atau akar rumput.

Selama ini, program & kebijakan pemerintah itu menargetkan grassroot sebagai penerima manfaat. Mereka menang di Pilpres 2024, karena grassroot juga.

Bayangkan, kalo sekarang mereka demo nanti, apa tidak menciptakan ide ke grassroot lainnya? Pasti menyebar!

Ini membuktikan bahwa akar rumput menderita dengan kondisi sekarang. Makanya, segala usaha dikerahkan untuk mengagalkan aksi ini.

Kenapa demo yang digerakkan oleh warga cenderung lebih sukses ketimbang demo mahasiswa?

Ada beberapa alasan sosiologis dan ekonomis mengapa demo warga/buruh sering dianggap lebih “sukses” dalam mencapai target konkret.

Misalnya daya tawar ekonomi (Economic Leverage).

Jika mahasiswa mogok kuliah, yang rugi adalah mahasiswa itu sendiri atau universitas. Roda ekonomi negara tetap berjalan.

Jika buruh pabrik, sopir logistik, atau tenaga medis melakukan mogok massal, maka ekonomi akan berhenti.

Pemerintah dan pengusaha jauh lebih cepat bereaksi ketika ada ancaman kerugian finansial yang nyata di depan mata. Buruh memegang “saklar” produksi, sementara mahasiswa memegang “pengeras suara” moral.

Jika dilihat dari infrastruktur, sebuah organisasi/kelompok warga sifatnya lebih permanen.

Sementara gerakan mahasiswa bersifat siklikal dan sementara. Mahasiswa akan lulus, magang, atau sibuk skripsi, sehingga kepemimpinan gerakan mahasiswa sering berganti-ganti (estafet).

Serikat Pekerja/Buruh memiliki dana abadi, struktur organisasi yang jelas dari pusat ke daerah, dan tim hukum yang tetap.

Komunitas warga juga terikat oleh tempat tinggal atau nasib yang sama selama puluhan tahun.

Konsistensi ini membuat mereka mampu melakukan negosiasi yang berlarut-larut dengan pemerintah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah demo usai.

Relevansi isu juga jauh berbeda, yang satu urusannya perut, yang satu urusannya ideologi.

Demo Mahasiswa seringkali mengangkat isu makro dan ideologis, seperti reformasi hukum, anti-korupsi, atau demokrasi. Isu ini penting, tapi kadang terasa “jauh” bagi masyarakat awam yang sedang kesulitan makan.

Sementara demo warga biasanya sangat spesifik dan menyentuh kebutuhan dasar (bread and butter issues), seperti upah minimum, harga BBM, sengketa lahan, atau harga bahan pokok. Karena isunya “urusan perut”, dukungan dari masyarakat luas lebih mudah terkumpul dan bertahan lama.

Meski demo warga dianggap lebih sukses secara konkret, sejarah mencatat bahwa demo warga jarang terjadi tanpa dimulai oleh gerakan mahasiswa.

Di banyak negara (termasuk Indonesia 1998), mahasiswa berfungsi sebagai “perisai moral”. Karena mahasiswa dianggap tidak memiliki kepentingan politik praktis (tidak cari uang, tidak cari jabatan), mereka lebih mudah mendapatkan simpati publik di awal.

Setelah mahasiswa membuka jalannya dan melemahkan legitimasi pemerintah, barulah massa buruh dan warga masuk dengan jumlah yang jauh lebih besar untuk memberikan “pukulan terakhir”.

Jadi, mana suara mahasiwa hari ini?
Masa kalah sama warga Pati.

Prodimu mau dihapus dan gedung kampusmu mau dijadikan SPPG hlo.

(@sibambaang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *