✍️Ismail Amin
Sudah saya duga, Wahdah Islamiyah bakal diserang ketika saya melihat figur-figur yang diundangnya untuk hadir dalam pembukaan Muktamarnya di Jakarta.
Muktamar V Wahdah Islamiyah diselenggarakan pada tanggal 20–24 Agustus 2026 bertempat di Jakarta, dengan acara pembukaan dan tabligh akbar yang dipusatkan di Masjid Istiqlal.
Keputusan Wahdah Islamiyah yang mengundang sejumlah tokoh dari latar belakang pemahaman Islam yang berbeda dianggap penyimpangan terhadap manhaj Salaf karena ada larangan keras untuk tidak duduk dengan “ahli bid’ah”.
Dari sini saya ingin bertanya, apakah tujuan dakwah Islam hanya menjaga jarak dari semua yang berbeda, atau juga bagaimana menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi masyarakat luas?
Nama Wahdah Islamiyah sendiri mengandung semangat persatuan. Maka sangat wajar jika dalam momentum penting organisasinya mereka ingin menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak berjalan dalam ruang yang tertutup, tetapi hadir bersama berbagai elemen umat dan bangsa untuk tujuan yang lebih besar: memperkuat peran Islam dalam pembangunan masyarakat dan negara.
Kalau semua perbedaan harus menjadi alasan untuk tidak duduk bersama, lalu bagaimana umat Islam bisa membangun persatuan? Bukankah sejarah Islam juga menunjukkan para ulama berbeda pendapat dalam banyak masalah, tetapi tetap berinteraksi, berdialog, dan bekerja sama dalam perkara-perkara yang disepakati?
Adapun nasihat para ulama salaf agar berhati-hati terhadap ahli bid’ah harus dipahami secara kontekstual. Penerapan sikap ulama salaf harus memahami maqashid dan konteksnya. Pada masa tertentu, ketika terjadi pertarungan ideologi yang mengancam fondasi agama, sikap tegas dan menjaga batas memang diperlukan. Tetapi menerapkan semua bentuk sikap tersebut secara mutlak pada setiap zaman dan situasi tanpa melihat konteks bisa melahirkan masalah baru yaitu umat menjadi mudah terpecah, saling mencurigai, dan kehilangan kemampuan untuk bekerja sama dalam perkara yang lebih besar.
Bahkan para ulama membedakan antara berkompromi dalam prinsip akidah, dan berinteraksi dalam urusan sosial, kemasyarakatan, dan kemaslahatan umat. Terlebih lagi memaksakan konsep untuk tidak duduk dengan ahli bid’ah itu tidak sesuai dengan semangat kebangsaan dan persatuan nasional. Lagian siapa yang berwenang menentukan siapa ahli bid’ah?
Yang harus ditekankan, duduk bersama bukan berarti membenarkan seluruh pandangan seseorang. Mengundang seseorang bukan berarti menyatakan semua pendapatnya benar. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw juga berinteraksi dengan berbagai kelompok selama ada maslahat yang lebih besar.
Kalau seorang Muslim tidak boleh duduk dengan siapa pun yang memiliki perbedaan pendapat, maka ruang dakwah akan semakin sempit. Padahal tantangan umat hari ini bukan hanya perbedaan internal, tetapi juga persoalan pendidikan, ekonomi, moral, keluarga, teknologi, dan masa depan generasi.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai semangat amar ma’ruf nahi munkar berubah menjadi budaya saling mengeluarkan dari lingkaran umat. Perbedaan harus dikritik dengan ilmu, tetapi persatuan harus dibangun dengan hikmah.
Sebab umat Islam tidak akan menjadi kuat karena semua orang berpikir sama, tetapi karena sama-sama berpikir dan terus berusaha bersatu dalam perkara yang disepakati, sambil mengelola perbedaan dengan adab.
Jadi tidak perlu klarifikasi dari Wahdah Islamiyah, siapa ente sampai Wahdah harus memberi klarifikasi kepada ente?
Ini bukan persoalan tidak berani mengatakan yang hak, tapi yang hak saat ini memang adalah menjaga kebersamaan dalam keberagaman dan meninggalkan ego sektarian, Wahdah telah memulai itu dengan tetap setia pada prinsip Wahdah Islamiyahnya.
***

SEJARAH WAHDAH ISLAMIYAH
Wahdah Islamiyah (WI) adalah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tingkat nasional yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1988 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ormas ini berfokus pada bidang dakwah, pendidikan, sosial, kewanitaan, informasi, kesehatan, dan lingkungan hidup dengan berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman As-Salaf Ash-Shalih.
Perjalanan sejarah berdirinya Wahdah Islamiyah melewati beberapa fase perubahan nama dan status kelembagaan:
1. Fase Awal: Yayasan Fathul Muin (1988)
Organisasi ini awalnya lahir dengan nama Yayasan Fathul Muin (YFM) pada 18 Juni 1988 berdasarkan akta notaris. Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan dan bimbingan dari K.H. Fathul Muin Dg. Mangading, seorang ulama kharismatik asal Sulawesi Selatan yang menjadi pembina para pendiri yayasan tersebut.
2. Perubahan Menjadi Yayasan Wahdah Islamiyah (1998)
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 19 Februari 1998, nama YFM resmi diubah menjadi Yayasan Wahdah Islamiyah (YWI). Langkah ini diambil demi menjaga asas persatuan umat serta menghindari kesan pengkultusan individu terhadap sosok K.H. Fathul Muin setelah beliau wafat. Kata “Wahdah Islamiyah” sendiri memiliki arti “Persatuan Islam”.
3. Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (2000)
Merespons rencana besar organisasi untuk mendirikan perguruan tinggi Islam, nama lembaga disesuaikan menjadi Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) pada 25 Mei 2000 agar dapat menaungi berbagai institusi pendidikan tinggi yang dikembangkannya.
4. Menjadi Ormas Nasional (2002 – Sekarang)
Melalui Muktamar I yang digelar pada tahun 2002, Wahdah Islamiyah resmi mendeklarasikan diri berganti status dari bentuk yayasan menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam tingkat nasional. Sejak saat itu, kepemimpinan pusat dipegang oleh Ustadz Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A. sebagai Ketua Umum.
Kini, Wahdah Islamiyah telah berkembang pesat dan memiliki cabang yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, mengelola ratusan lembaga pendidikan formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi seperti Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar.







Umat Islam tidak akan menjadi kuat karena semua orang berpikir sama, tetapi karena sama-sama berpikir dan terus berusaha bersatu dalam perkara yang disepakati, sambil mengelola perbedaan dengan adab.
miss-persepsi, miss-comm, miss understanding.. Tugas pertama para pemimpin umat masing² harus ada agenda Persatuan Islam, tanpa harus menghilangka perbedaan masalah furu’..
Dgn rutin menjlnkan agenda² Persatuan umat Islam antar para pemimpinnya terlebih dulu, diharapkan bisa memahamkan jamaahnya!
🤲أللهم اصلح أمة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم
ego sektoral menjadi pemicu sendi sendi perpecahan disetiap lini kehidupan. yang menjadi korban tentunya Ummat rentan
yg paling rentan bagi ormas itu godaan fulus
SEMUA PIMPINAN ORMAS ISLAM HARUS MEMPUNYAI TUJUAN YANG SAMA YAITU TUJUAN AKHIRAT UNTUK MENDAPATKAN RIDHO ALLOH. kalau udah sama maka Dunia akan menjadi kecil dan tidak berarti. Maka semua Umat Islam akan menjadi Saudara apapun ormasnya selagi mereka berpegang kepada AlQuran dan Sunnah. Tapi ketika tujuan nya Dunia maka disitulah Perpecahan dan Pertikaian akan mucul.
Masjid Istiqlal mengundang pembicara pro-zionist kalian diam. Giliran Wahdah Islamiyah mengundang pembicara sesama umat Islam kalian lgs kaya cacing kepanasan. Kalian ini sebenernya alirannya Islam atau Yahudi sih?
syiah militan (Ismail Amin) semangat amat pembelannya. memercik di air keruh. tipikal Abdullah bin Saba ‘ Al Yahud, dalang pengadu domba terbunuhnya Usman RA. Si IA lagi ambil peran Abdullah bin Sab utk mengadu domba. ustadz Dr Zaitun Rasmin, Anti syiah