Kronologi Meninggalnya Relawan Gempa NTT Ahmad Zaki Ali

Ahmad Zaki Ali (42) seorang aktivis kemanusiaan dan pendiri Yayasan Gerak Bareng, meninggal dunia pada hari Jumat 21 Agustus 2026 akibat kelelahan ekstrem saat menjalankan misi penyaluran bantuan bagi korban gempa bumi di Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

KRONOLOGI KEJADIAN

  • 15 AGUSTUS 2026: Ahmad Zaki Ali bersama tiga rekannya tiba Manggarai, NTT tak lama setelah gempa besar mengguncang Flores. Mereka bertugas menyalurkan bantuan bagi warga terdampak.
  • 21 AGUSTUS 2026 (PAGI—SIANG): Zaki bersama tim berangkat dari Reo, Kabupaten Manggarai menuju Desa Satar Padut/Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur untuk rnenyalurkan bantuan. Medan menuju lokasi terdampak cukup sulit.
  • 21 AGUSTUS 2026 (SIANG): Dalam perjalanan dan saat menjalankan misi kemanusiaan, kondisi Zaki rnernburuk. la diduga rnengalami kelelahan berat setelah menjalani aktivitas dan perjalanan di wilayah bencana.
  • 21 AGUSTUS 2026 (16.40 WITA): Ahmad Zaki Ali meninggal dunia sekitar pukul 16.40 WITA di wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.
  • 21 AGUSTUS 2026 (MALAM): Basarnas Maumere bersama potensi SAR mengevakuasi jenazah Zaki menggunakan helikopter karena lokasi berada di wilayah terdampak dan sulit dijangkau.
  • 22 AGUSTUS 2026: Jenazah dibawa ke Reo untuk kemudian diberangkatkan ke Jakarta.

Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah membeberkan kronologi kejadian sebelum Ahmad Zaki dinyatakan meninggal.

Levi mengatakan pada Jumat (21/8/2026) pukul 14.00 Wita, korban bersama rekan-rekannya meninggalkan Posko Relawan Gerak Bareng di Masjid Nurul Huda, Kampung Reo, Kabupaten Manggarai.

Mereka menggunakan mobil untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana.

“Korban yang mengendarai kendaraan,” imbuh Levi.

Dalam perjalanan, ia menghentikan mobil yang dikendarainya lalu meminta rekannya menanggalkan jaket dan helm yang ia kenakan.

Beberapa saat kemudian, ia tidak sadarkan diri.

“Karena tak sadarkan diri, rekan-rekannya kemudian membawanya ke posko medis terdekat di Posko Damer,” lanjut Levi.

Lalu, korban diperiksa dokter. Setelah itu ia dinyatakan meninggal.

Jenazah dibawa ke Masjid Nurul Huda, Reo, Kabupaten Manggarai pukul 17.20 Wita. Di situ jenazah dimandikan dan dishalatkan.

Di lokasi gempa sejak hari pertama

Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah mengatakan korban bersama 3 orang rekannya telah berada di posko relawan yang berada di Halaman Masjid Nurul Huda Reo sejak Sabtu (15/8/2026).

Mereka datang membantu menyalurkan bantuan untuk para korban gempa bumi.

Sosok dan Kiprah Ahmad Zaki Ali

Ahmad Zaki Ali (yang akrab disapa Bang Jek) adalah seorang tokoh relawan kemanusiaan Indonesia terkemuka dan pendiri Yayasan Komunitas Gerak Bareng. Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan diri penuh untuk aksi filantropi, penanganan bencana alam, serta pemberdayaan kaum dhuafa dan komunitas marginal.

Dunia kemanusiaan Indonesia berduka setelah Ahmad Zaki Ali meninggal dunia pada Jumat, 21 Agustus 2026, saat menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu korban bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Profil Singkat

  • Nama Lengkap: Ahmad Zaki Ali
  • Nama Panggilan: Bang Jek
  • Asal: Jakarta
  • Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 21 November 1984
  • Wafat: 21 Agustus 2026
  • Usia: 42 tahun
  • Afiliasi Utama: Pendiri (Founder) Yayasan Komunitas Gerak Bareng, inisiator gerakan Punk Muslim.
  • Keahlian Awal: Fotografer, videografer, dan penggalang dana kreatif.

Kiprah dan Rekam Jejak Kemanusiaan

Ahmad Zaki Ali memiliki rekam jejak panjang di dunia filantropi yang membentang selama lebih dari 20 tahun:

  • Awal Mula di Tsunami Aceh (2004): Kiprahnya di dunia kerelawanan dimulai secara mendalam saat bencana Tsunami Aceh melanda pada tahun 2004. Kala itu, ia langsung terjun ke lapangan untuk mengabadikan dokumentasi korban sekaligus menyalurkan bantuan.
  • Mendirikan Gerak Bareng: Berawal dari aksi solidaritas spontan para relawan lintas komunitas saat membantu korban kebakaran di Simprug, Jakarta, Zaki bersama rekan-rekannya meresmikan Yayasan Komunitas Gerak Bareng. Komunitas ini berfokus pada pendampingan korban bencana dan kaum dhuafa secara tuntas, mulai dari fase darurat hingga pemulihan jangka panjang (seperti membangun puluhan rumah permanen pascabencana).
  • Merangkul Anak Jalanan dan Punk Muslim: Salah satu kiprah paling membekas dari sosoknya adalah kepedulian yang tinggi terhadap anak-anak jalanan di Jakarta. Ia menginisiasi gerakan kemanusiaan yang mengajak anak-anak punk jalanan berhijrah, membekali mereka dengan edukasi moral, serta melibatkan mereka dalam aksi-aksi kebaikan sosial.
  • Selalu Hadir di Garis Depan Bencana: Setiap kali Indonesia dilanda musibah—baik banjir bandang, gempa bumi lokal, maupun bencana skala besar di berbagai pelosok tanah air—Zaki selalu memimpin timnya secara tanggap menyiapkan logistik, fisik, serta bantuan darurat.
  • Dedikasi Terakhir di Gempa NTT (2026): Ketika gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT pada pertengahan Agustus 2026, ia segera terbang ke lokasi terdampak untuk menyalurkan bantuan kebutuhan dasar. Melalui unggahan terakhirnya di Instagram, ia terus mengetuk hati masyarakat untuk ikut membantu sesama, hingga akhirnya ia gugur di tengah tugas mulia tersebut.

Kepergian Ahmad Zaki Ali menyisakan duka mendalam di kalangan aktivis kemanusiaan, lembaga sosial seperti Kitabisa, hingga instansi pencarian dan pertolongan seperti Basarnas DKI Jakarta, yang mengenangnya sebagai inspirator sekaligus teladan nyata relawan muda Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *