Akhirnya Prabowo tampil sebagai pahlawan kebakaran hutan Kalimantan. Setelah puluhan ribu hektar lahan terbakar, Prabowo instruksikan Pemda Kalbar cabut Perda 1 tahun 2022 tentang pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) untuk segera mencabut Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2022 yang mengatur ketentuan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Kalbar, Ria Norsan, usai mendengarkan langsung arahan dari Kepala Negara.
Norsan menjelaskan, pencabutan perda tersebut mendesak dilakukan mengingat situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sudah berada dalam status darurat.
Dampak kebakaran dirasakan secara luas oleh masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak di Kalbar.
Instruksi itu disampaikan Presiden saat meninjau langsung penanganan karhutla di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, pada Sabtu siang, 22 Agustus 2026. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mengambil langkah tegas, termasuk penegakan hukum bagi pihak yang sengaja membakar lahan.
Seluruh Kalimantan Terbakar

Hingga akhir Agustus 2026, luasan hutan dan lahan (karhutla) yang terbakar di seluruh wilayah Kalimantan diperkirakan telah mencapai sekitar 33.837 hektare hingga 57.081 hektare, dengan lebih dari 34.000 titik panas (hotspot).
Sebaran Titik Api dan Luas Kebakaran per Wilayah
Kebakaran hutan ini tersebar di lima provinsi di Kalimantan dengan tingkat keparahan yang bervariasi:
Kalimantan Barat: Menjadi wilayah terdampak paling parah dengan akumulasi luas lahan terbakar mencapai lebih dari 28.680 hektare hingga 38.310 hektare. Titik panas terbanyak terdeteksi di provinsi ini, dengan konsentrasi tinggi salah satunya berada di Kabupaten Ketapang.
Kalimantan Tengah: Mencatat lebih dari 2.063 titik panas dengan luasan area terbakar yang terus bertambah melampaui 3.657 hektare. Wilayah paling kritis berada di Kota Palangka Raya (terutama di Kecamatan Jekan Raya, Sabangau, Bukit Batu, dan Rakumpit) serta Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit).
Kalimantan Timur: Berdasarkan data BPBD setempat, terdapat sekitar 413 titik kebakaran dengan luas lahan hangus mencapai 936 hingga 1.200 hektare. Kebakaran dominan melanda Kabupaten Kutai Barat (Kecamatan Damai), Paser, Kota Samarinda, Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara.
Kalimantan Selatan: Menghanguskan sekitar 380 hingga 595 hektare lahan. Sebaran titik api masif terpantau di sekitar Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Laut, hingga Tanah Bumbu.
Kalimantan Utara: Mengalami dampak karhutla dengan skala yang relatif lebih kecil, salah satunya terpantau ditangani oleh tim gabungan di Kabupaten Bulungan.
Penyebab Kebakaran Hutan Kalimantan
Penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan adalah kombinasi antara aktivitas manusia (pembukaan lahan dengan cara membakar) dan faktor alam ekstrem (musim kemarau yang diperparah fenomena El Niรฑo kuat).
Instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mencabut Perda Nomor 1 Tahun 2022 di Kalimantan Barat secara langsung menargetkan salah satu celah hukum yang selama ini melanggengkan praktik pembakaran tersebut di tingkat tapak.
Secara rinci, berikut adalah penyebab utama karhutla di Kalimantan:
1. Praktik Pembukaan Lahan yang Sengaja Dibakar (Antropogenik)
Sebagian besar titik api dipicu oleh aktivitas manusia karena membakar dinilai sebagai metode paling murah, cepat, dan hemat biaya untuk membersihkan lahan sebelum ditanami. Praktik ini dilakukan oleh dua aktor utama:
- Oknum Korporasi Nakal: Digunakan untuk ekspansi atau pembersihan lahan perkebunan skala besar (seperti kelapa sawit) tanpa modal besar untuk alat berat.
- Petani/Peladang Skala Kecil: Melakukan pembakaran terbatas demi bertani. Perda No. 1 Tahun 2022 Kalbar awalnya dibuat untuk memayungi peladang tradisional berbasis kearifan lokal (maksimal 2 hektare). Namun, di tengah kondisi darurat, izin pembakaran terbatas ini sangat sulit dikendalikan di lapangan dan kerap memicu api merembet ke area konservasi.
2. Iklim Kering Ekstrem akibat El Niรฑo Kuat
Faktor alam bertindak sebagai akseselerator (perantara yang memperparah). Pada Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indonesia, khususnya Kalimantan, sedang dilanda fenomena El Niรฑo dengan intensitas yang sangat kuat serta fenomena Positive Indian Ocean Dipole (IOD).
- Cuaca yang sangat terik dan minimnya curah hujan membuat vegetasi serta semak belukar menjadi kering.
- Akibatnya, percikan api sekecil apa pun dari aktivitas pembakaran lahan akan dengan sangat mudah meluas menjadi kebakaran besar yang tidak terkendali.
3. Kerentanan Karakteristik Lahan Gambut
Wilayah Kalimantan memiliki sebaran lahan gambut yang luas dan dalam. Karakteristik lahan gambut menjadikannya sangat berbahaya saat musim kemarau:
- Sistem Kanalisasi: Banyak lahan gambut yang telah dikeringkan melalui pembuatan kanal-kanal air untuk perkebunan, sehingga gambut kehilangan kelembapan alaminya dan menjadi kering seperti kayu bakar.
- Kebakaran Bawah Tanah (Subsurface Fire): Ketika gambut terbakar, api tidak hanya berkobar di permukaan, melainkan merembet di bawah tanah. Hal ini membuat api sangat sulit dipadamkan secara tuntas karena permukaan atas terlihat padam, namun bara di bawah tanah tetap menyala dan memicu asap pekat.
4. Degradasi Hutan dan Lemahnya Pengawasan
Pembalakan liar (logging) dan konversi lahan yang terjadi selama bertahun-tahun merusak struktur alami hutan hujan tropis Kalimantan. Berkurangnya tutupan pohon menyebabkan iklim mikro di dalam hutan menjadi lebih panas dan kering. Ditambah dengan area pengawasan yang sangat luas, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran di area terpencil sering kali terlambat sebelum api terlanjur meluas.
Sebagai solusi jangka pendek, Pemerintah Pusat kini melarang total aktivitas pembakaran dan mengirimkan bantuan alat berat (ekskavator) agar masyarakat dapat membuka lahan tanpa menggunakan api, serta memperketat penegakan hukum bagi korporasi yang melanggar.
[VIDEO KEBAKARAN HUTAN KALIMANTAN]







2 bulan yang lalu pemerintah c/q BMKG sudah mengingatkan potensi kebakaran baik hunian masyarakat maupun hutan. tentunya presiden sudah berkoordinasi dengan jajarannya, “semua berjalan dengan baik” kata mensekneg. apakah dengan adanya karhutla ada kesengajaan ? yo ndak mungkin tho :
– masa’ pengusaha dan pemerintah kerjasama untuk membakar hutan dengan dalih efisiensi
– karhutla rutin terjadi, antisipasi dan mitigasi pastinya berjalan dengan baik
– prabowo merupakan presiden yang dihormati dan dipatuhi atas setiap kebijakannya. “atas petunjuk dan arahan bp. presiden prabowo”, demikian ucapan para pembantunya.
jangan sampai kayak presidenยฒ sebelumnya, yg ditindak pembakar hutan dr kalangan petani tp memble lawan korporasi
mantep, giliran kadrun yg sekarang kebakaran jenggot karena lihat prabowo mulai beraksi ๐๐๐คฃ๐
memadamkan karhutla bukan prestasi yang layak diacungi jempol. prestasi dengan acungkan jempol ketika tidak terjadi kebakaran pada saat cuaca terik. kenapa puja puji ketika menyelesaikan masalah ? entahlah…… emang tugasnya menjadi pemuja ๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
komentar panjang diatas merupakan satire atau majas ironi, kalok udah terjadi bencana namanya takdir ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
kadrun terguncang dan denial spt biasa gabisa menerima fakta dan kebenaran
Halah beraksi tak kucing bertindak setelah kejadian modus formalitas pencitraan saja ditambah itu juga karena di sana dia punya 2 aset perusahaan sawit ratusan ribu hektar PT. Kiani yang mesti dijaga… babi mana paham.