Ini akun resmi Seskab?
Kok jadi seperti akun personal yang baper.
Akun resmi Seskab bukankah seharusnya mendokumentasikan kegiatan Presiden?
Tidak semestinya mengubah sapaan warga menjadi kisah emosional tentang pribadi Presiden.
Beberapa bagian yg terasa terlalu personal atau problematis:
-“Sedikit cerita..” …terasa seperti unggahan akun pribadi.
-“Saat Pak Presiden…” … lebih tepat “Presiden Prabowo…” atau “Presiden”.
-“menjadi sangat istimewa bila disampaikan oleh warganya” … membangun glorifikasi personal.
-“Itulah masyarakat Indonesia yang sesungguhnya” …. melakukan generalisasi besar dari beberapa warga yang terdengar dalam video.
-“penuh adab, penuh kasih, penuh sopan, penuh ketulusan” …. sentimental dan normatif, tidak cocok dengan komunikasi institusional.
-“masyarakat setempat justru mendoakan Presidennya” …. kata justru memberi kesan bahwa dalam kondisi sulit warga semestinya marah atau menyalahkan pemerintah, lalu dipuji karena tetap mendoakan Presiden. Ini bisa terbaca sebagai eksploitasi emosi warga untuk legitimasi politik.
-“Pak Presiden” berulang kali …. cocok dalam percakapan warga, tetapi tidak perlu menjadi gaya narasi akun negara.
Dan, yg paling janggal justru kalimat “Itulah masyarakat Indonesia yang sesungguhnya”.
Dari dua-tiga ucapan warga–entah natural atau settingan–, akun resmi negara tiba-tiba merasa berhak mendefinisikan “masyarakat Indonesia yang sesungguhnya”. Itu sudah bergeser dari dokumentasi menjadi narasi legitimasi.
(Ahmad Arif)







baper darimana ya kayanya itu cuma menyampaikan fakta lapangan aja, bahasa oke gaada masalah sama sekali, kayagitu dibilang baper coba kalo gw dijadiin admin udh gw anjng anjngin kali drun drun dimari aowkaowkaw