Jaksa penuntut Arab Saudi dilaporkan telah meminta hukuman mati terhadap Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Thuraifi, seorang ulama dan ahli hadis asal Arab Saudi yang telah ditahan sejak April 2016 setelah mengunggah sejumlah cuitan yang mengkritik kebijakan pemerintah Saudi mengenai pembatasan kewenangan Hai’ah Amar Ma’ruf Nahi Munkar (lembaga keagamaan resmi pemerintah yang bertugas menegakkan moralitas publik dan hukum Islam) serta merebaknya kerusakan moral di Saudi dan juga kritiknya atas kanal Al Arabiya serta beberapa praktik keagamaan negara.
Informasi mengenai tuntutan tersebut disampaikan oleh akun Prisoners of Conscience, yang selama ini mengabarkan kondisi para tahanan di Arab Saudi. Kelompok hak asasi manusia ALQST juga menyatakan telah menerima informasi serupa dan mengungkapkan keprihatinan atas perkembangan kasus tersebut.
Syaikh Abdul Aziz Ath-Thuraifi kini dilaporkan berada di sel isolasi Penjara Al-Ha’ir. Sejumlah laporan juga menyebut kondisi kesehatannya mengalami penurunan selama berada dalam tahanan.
Ia juga pernah mendapat pembatasan dalam aktivitas ceramah. Penangkapannya kemudian menjadi perhatian luas karena hingga bertahun-tahun setelah penahanan, informasi mengenai proses hukumnya sangat terbatas.
Syaikh Ath-Thuraifi dikenal luas sebagai seorang ahli hadis dan peneliti syariah, dengan perhatian besar pada hadis, fikih, akidah, tafsir, serta berbagai persoalan pemikiran Islam.
Ia lahir di Kuwait pada 29 November 1976 dan kemudian tumbuh serta menetap di Riyadh, Arab Saudi. Pendidikan tingginya ditempuh di Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamic University, Riyadh. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia pernah bekerja sebagai peneliti syariah di Kementerian Urusan Islam Arab Saudi.
Kecintaannya terhadap ilmu telah tumbuh sejak usia sangat muda. Pada usia sekitar 13 tahun, ia mulai menghafal berbagai matan ulumul Syar’i. Memasuki usia 15 tahun, ia telah membaca puluhan jilid kitab, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Zad al-Ma’ad, Sirah Ibnu Hisyam, dan Majmu’ Fatawa.
Dalam perjalanan keilmuannya, ia juga belajar kepada sejumlah ulama, di antaranya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Abdullah bin Aqil, Abdurrahman al-Barrak, Abdul Karim al-Khudhair, serta sejumlah guru lainnya.
Keahliannya tidak hanya terbatas pada hadis. Ia juga banyak membahas fikih, akidah, tafsir, sejarah, pemikiran Islam dan berbagai persoalan kontemporer. Dalam menjawab persoalan keagamaan, ia dikenal dengan metode membangun dasar permasalahan terlebih dahulu, mengemukakan berbagai pendapat yang ada, kemudian menyusun kesimpulan berdasarkan dalil-dalil yang dianggapnya kuat.
Keluasan keilmuannya juga tercermin dalam karya-karya yang ditulisnya. Di antara karya Ath-Thuraifi yang dikenal adalah At-Tahjil, Zawa’id Sunan Abi Dawud ‘ala ash-Shahihain, Syarh Hadits Jabir ath-Thawil fi Shifati Hajjatin Nabi, Al-A’lam bi Taudhih Nawaqidh al-Islam, Tauhid al-Kalimah ‘ala Kalimati at-Tauhid, Al-‘Ulama wal-Mitsaq, Al-Mu’tazilah fil Qadim wal-Hadits, Al-Ghina’ fil Mizan, dan Al-Ikhtilath Tahrir wa Taqrir wa Ta’qib.
Karya lainnya antara lain membahas tafsir ayat-ayat hukum, sanad-sanad tafsir, sifat wudu dan salat Nabi ﷺ, sifat haji, hijab, akidah, serta berbagai persoalan keislaman lainnya.
Salah satu karya yang cukup dikenal adalah Al-Fashlu baina an-Nafsi wal-‘Aqli, yang membahas hubungan antara jiwa dan akal dengan menggabungkan pembahasan yang bersumber dari teks keagamaan dan penalaran.
Ath-Thuraifi juga dikenal vokal membela rakyat Suriah dari kedzaliman rezim Assad.








bayangin coba kalo misal imam efpeik ygpernah orasi dukung ngisis jelas2 ada videonya dan misal aja dia org atau di saudi, gmn nasibnya coba
komennya gini terus! diminta sebut seperti apa pernyataan lengkapnya tentang ngisis ga pernah mau! 🤣
kerna ga taat ama u.l.i.l. a.m.r.i. n.a.j.d…!!??