Chatib Basri blak-blakan ke Prabowo soal Tergerusnya Kepercayaan Investor Global pada Pemerintah

Ekonom Chatib Basri mengaku ia menyampaikan tentang masalah tergerusnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan pemerintah saat bertemu dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Chatib pada Selasa sore datang ke Istana bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Kepada wartawan ia mengatakan pertemuan itu membahas tentang soal-soal perekonomian.

“Dan apa yang harus dilakukan, termasuk juga untuk menumbuhkan masalah confidence, masalah trust/kepercayaan kepada pemerintah. Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran, termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG,” kata Chatib.

Masalah berkurangnya kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah Presiden Prabowo sudah jamak jadi pembahasan para ekonom, analis, maupun para pelaku pasar di dunia.

Para investor mengaku kini tak lagi percaya pada kebijakan pemerintah dan memutuskan untuk menarik dana mereka dari aset-aset di Tanah Air.

Hal ini adalah salah satu faktor penyebab melemahnya nilai tukar rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS – rekor terburuk dalam sejarah republik – dan ambruknya IHSG.

Sejak Presiden Prabowo berkuasa pada 2024 lalu, nilai tukar rupiah sudah turun sekitar 12 persen. Sementara itu IHSG sudah anjlok sekitar 38 persen di Januari – Juni 2026.

Intinya, Chatib Basri blak-blakan kepada Presiden Prabowo, kenapa dunia investor tidak percaya lagi dengan Pemerintah Presiden Prabowo.

Catatan: Chatib Basri digadang-gadang akan menjadi Menkeu pengganti Purbaya.

So, bisa saja saat ini sebelum masuk kabinet, dia bicara jujur apa adanya.

Tetapi belum tahu juga dia akan tetap jujur setelah dia masuk kabinet melihat kondisi ini dan berani memberikan advise/saran/masukan dan berkata TIDAK kepada Presiden yang keras kepala dan sulit dikasih nasehat…! Kalau tidak, sama saja dengan Purbaya, tidak usah diganti!

Ini masalah utama pejabat-pejabat di rezim ini, keras saat diluar, lembek dan membebek setelah didalam..!

~T Gusmand

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. wk..wk..wk ..sebelahnya ada si Lumut ketua DEN..gak berfungsi … buang2 duit aja ..lihat ekspresi nya kyk ga suka gitu si chatib ngomong kelemahan rezim dia😂😂😂

  2. Tugas Menkeu Mudah, Lakukan salah satu dari 3 Kebijakan ini

    Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menyebut tugas Menteri Keuangan dalam menghadapi tekanan fiskal sebenarnya sederhana. Menurutnya, pemerintah hanya memiliki tiga pilihan kebijakan, yaitu meningkatkan penerimaan negara, memangkas belanja, atau menambah utang.

    Dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6), Chatib mengatakan ruang fiskal pemerintah saat ini semakin terbatas akibat perlambatan ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan harga energi karena konflik geopolitik di Timur Tengah.

    “Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal, naikkan, potong, pinjam. Itu, hanya tiga itu,” kata Chatib.

    Ia menjelaskan, apabila pemerintah tidak mampu meningkatkan penerimaan negara, maka harus melakukan penghematan belanja. Jika penghematan tidak memungkinkan, pilihan terakhir adalah menambah utang.

    “Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam (utang). As simple as that,” ujarnya.

    Namun, Chatib menilai kenaikan pajak bukan langkah realistis dalam kondisi ekonomi saat ini karena berisiko menekan aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.

    “Masa di dalam situasi ini tax revenue (penerimaan pajak), tax (pajak)-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga,” katanya.

    Di sisi lain, opsi menambah utang juga dinilai kurang ideal karena biaya pinjaman sedang tinggi seiring tingginya suku bunga global.
    “Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost (biaya)-nya akan jadi sangat mahal,” ucapnya.

    Karena itu, ia menilai langkah paling memungkinkan adalah melakukan rasionalisasi belanja negara secara selektif guna menjaga kredibilitas fiskal pemerintah.

    “Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively (pangkas belanja secara selektif),” katanya.

  3. IQ Rakyat Mempengaruhi Tindakan Rakyat Tersebut

    Di Iran, 1 dolar bernilai lebih dari 1 juta rial, sedangkan di Indonesia sekitar Rp18.000. Tapi di Iran rakyatnya lebih tenang. Kenapa karena IQ masyarakat Iran rata2 diatas 120. Sehingga masyarakatnya memiliki tingkat literasi ekonomi dan pendidikan yang baik cenderung memahami bahwa melemahnya mata uang tidak otomatis membuat semua harga naik. Yang paling terdampak biasanya barang impor dan bahan baku impor.

    Karena itu, kepanikan tidak selalu sebesar yang dibayangkan. Bukan semata karena kursnya, tetapi karena pemahaman masyarakat terhadap cara kerja ekonomi.

  4. Gema Goeyardi punya satu klaim yang menurut gue paling kontroversial dan paling menarik dari seluruh analisisnya.

    Bukan soal rupiah.

    Bukan soal IHSG.

    Tapi soal satu pola yang dia temukan dan kalau benar ini mengerikan.

    Setiap kali Prabowo pergi ke Paris pasar Indonesia langsung dihajar.

    Bukan sekali.

    Bukan dua kali.

    Tiga kali berturut-turut dengan pola yang persis sama.

    23 Januari 2026 – Prabowo terbang ke Paris.

    IHSG langsung turun 17%.

    Rupiah yang sedang menguat tiba-tiba berbalik melemah di hari yang sama.

    14 April 2026 – Prabowo ke Paris lagi.

    IHSG jebol tepat di tanggal itu. Gema bahkan sudah memprediksi di videonya sebelumnya bahwa 15 April akan jadi turning point dan ternyata persis kena.

    29 Mei 2026 – Prabowo mengumumkan deal bisnis dari Paris senilai 3,5 miliar dolar. Ini seharusnya berita bagus. Tapi yang terjadi sebaliknya: IHSG dan rupiah langsung dihajar habis-habisan di hari pengumuman itu.

    Dan ini yang membuat Gema yakin ini bukan kebetulan:

    Ketika rupiah melemah dia melacak ke mana uangnya pergi.

    Indeks dolar Amerika DXY tidak bergerak. Artinya dolar global tidak menguat. Tapi rupiah tetap melemah drastis.

    Di saat yang sama dolar Singapura justru menguat terhadap dolar Amerika.

    Kesimpulan Gema:

    ada yang melakukan sell off besar-besaran di rupiah secara terkoordinasi dan uangnya dipindahkan ke Singapura. Bukan ke dolar. Ke Singapura. “Dari awal sudah kelihatan.

    Sell off rupiah. Orang pindah ke Singapura.

    Dan sekarang Singapura malah bikin berita sel Indonesia.”

    Dan ini kenapa Paris jadi triggernya menurut Gema:

    Deal dengan Prancis bukan sekadar beli pesawat Rafale. Di baliknya ada transfer teknologi Indonesia diajari cara membuat kapal selam sendiri di Surabaya.

    Senjata Prancis tidak ada klausul pembatasan penggunaan. Beda dengan senjata Amerika yang hanya boleh dipakai untuk pertahanan dan terikat berbagai syarat.

    Artinya: setiap kali Prabowo pulang dari Paris dengan deal Indonesia semakin dekat ke kemandirian alutsista. Dan itu tidak disukai oleh pihak-pihak yang selama ini ingin Indonesia bergantung pada mereka.

    “Anda pikir kita akan didiamkan begitu saja ketika kita mulai bisa bikin senjata sendiri?”

    Tiga kunjungan. Tiga kali pasar langsung jatuh. Pola yang sama persis setiap kali.

    Kebetulan atau terkoordinasi Gema menyerahkan jawabannya kepada kita.

    Yang dia yakin: ini bukan soal fundamental Indonesia yang buruk. Ini soal Indonesia yang berani mencoba mandiri dan sedang membayar harganya.

    1. nah makanya lu borong tuh rupiah, bantuin junjungan lu,. kalau cuma naruh komen modal copas buat apa? ngga ada efeknya buat rupiah