Whoosh Whoosh Whoosh
✍️Eep S. Maqdir
Kereta cepat hanya cocok untuk jarak jauh dengan multiple transits stop and go. Di Cina, CHR (China High-Speed Railways) yang mengelola KA cepat adalah cash cow (sapi perah) dari perusahan China Railways. Mengapa? Satu rute KA cepat Cina menempuh jarak sekitar 2.000 km, dengan waktu tempuh 8 – 12 jam termasuk berhenti. Maka occupancy KA cepat Cina dapat melebihi 100% karena stop and go banyak penumpang yang tidak melulu naik dari stasiun awal sampai stasiun akhir.
Berbeda dengan Whoosh, jarak pendek, lalu stop and go nya hanya di Padalarang. Maka Whoosh adalah kesalahan fatal, tidak banyak multiflier efeknya, karena hanya single destination dengan jarak yang sangat pendek sekali. Belum sempat pesan nasi goreng sudah sampai di tujuan.
Whoosh pun masih kalah bersaing dibandingkan dengan mobil pribadi, travel, bahkan KA biasa. Padahal kereta cepat justru dipilih sebagai alternatif pengganti moda penerbangan, dengan jarak jauh dan tak kalah cepat. Di Cina yang terganggu bisnisnya oleh kereta cepat adalah penerbangan domestik meskipun lebih lama waktu tempuhnya, tetapi karena stasiunnya berada di pusat kota, dan juga bisa melihat pemandangan selama perjalanan. Celakanya stasiun Whoosh semuanya berada di pinggiran kota.
Jadi kalau Whoosh mau untung ya harus panjang rutenya, misalnya Jakarta – Surabaya dengan stasiunnya berada di pusat-pusat kota. Bisa berkolaborasi dengan stasiun KAI yang ada. Di Jepang, hampir semua stasiun Shinkansen menyatu berada di atas stasiun KA reguler di pusat kota.
Ini adalah potret keputusan pembangunan yang kagetan, asal cepet bikin, “NU PENTING BOGA”, yang penting punya dan gaya, meskipun membawa sengsara.
-FB-








nah soal seperti ini si Jokibul sdh bisa dijerat
engga terlalu penting tapi di ada-ada kan.
nunggu wowok lengser kali ye karna belio sdh ga bisa di harepin 😂😂😂