✍️Saleh Abdullah
Buntut dialog Mahasiswa dengan tiga pejabat tinggi negara (Budiman, Nusron, Sudaryono), ricuh. Tiga pejabat itu diusir. Berita dan videonya beredar luas.
Budiman mengatakan bahwa pemerintah bersedia dialog, menerima masukan, bahkan kritik keras sekalipun. “Keren,” kan? Nanti dulu.
Akibat insiden itu, saya duga kuat, Mahasiswa akan diserbu dan distigma sebagai anti dialog oleh para buzzer. Modus, lah. Kita sudah hafal cara mainnya. Total Politik yang bikin acara itu, kabarnya, punya dewan pembina Hasan Nasbi?
Gini, Bud. Kami semua tahu, hafal, dan ada fakta-faktanya, bahwa dialog dan terbuka menerima kritik yang kau agung-agungkan itu, gak ada gunanya! Di tengah situasi DPR yang impoten parah dan cuma makan gaji buta, suara dan aspirasi rakyat tidak pernah secara efektif ada gunanya.
Lihat apa yang terjadi di Pati tahun lalu. Demo puluhan ribu rakyat dikempesin DPRD. Bupatinya tetap melenggang, sampai kemudian kena cokok KPK.
Lalu lihat apa yang terjadi dengan demo-demo setelahnya di Jakarta dan kota-kota lain pada Agustus 2025. Gerakan Mahasiswa dan Rakyat, kembali dikempesin DPR. Belasan tuntutan diterima dan akan dibahas. Hasilnya? Sahroni dan kawan-kawan cuma diskor dari DPR, lalu masuk lagi. Reformasi POLRI menghasilkan regulasi satu arah, dan dikritik banyak pihak. Lihat kesaksian Mahfud MD yang ditunjuk sebagai salah satu anggota tim reformasi. “Cuma lips service,” kata dia. Intinya, setelah aksi gede-gedean pun kalian tetap dablek!
Sudah 26 tahun usia reformasi. Sekian orang terluka, dibunuh, diperkosa, sejumlah harta musnah, apa hasilnya? Bud, masih bisa lihat mata kau? Masih normal pikiran dan hatimu? Hasilnya, lu dan kawan-kawan lain dapat jabatan tinggi.

Dalam situasi jomplang gitu kau masih ngigau tentang dialog dan menerima kritik? Give me a break, Bud. Lu tau berapa orang yang diteror? Lu pernah ngerasain disiram air keras di muka, lu?
Muncung dan pikiran kau bisa ngoceh seenak kau. Tapi soal kebijakan, lu gak bisa bikin perubahan apapun! Atau, lu mungkin bisa mengubah atau memengaruhi kebijakan, tapi lu gak berani. Gak bakalan mampu!
Jadi buanglah ocehan “kau mau mengubah dari dalam.” Omong kosong itu! Lu pikir dirilu siapa, mau mengubah dari dalam? Lu cuma seekor semut yang mau mengubah industri politik oligarki. Indikator output dan outcome apa yang bisa lu pake untuk mengukur semangat lu mau mengubah dari dalam?
Sudahlah, Bud. Bosan gua dengar ocehan lu. Dalam konstruksi semua yang gua bilang di atas, gua, Saleh Abdullah, orang yang pernah lu kenal di masa lalu, gak percaya dengan dialog, sebelum ada tanda nyata perubahan radikal.
–fb






