Lucu sekali BEM BERSATU ini

✍️AS Laksana

Judul berita detikcom ini menarik dan lucu: “BEM Bersatu Ungkap Dugaan Kaitan Letjen Purn Setyo Sularso dan Tiyo Ardianto”. Ia seperti berita tentang biro detektif swasta yang tugasnya adalah menguntit seseorang dan mengungkapkan jaringan sosial orang itu. Tapi yang lebih menarik tetap saja konferensi pers mereka.

Kita tahu jejak langkag Tiyo. Ia mengirimkan surat ke UNICEF (PBB) tentang siswa SD di NTT yang bunuh diri karena tidak sanggup membeli alat sekolah yang nilai uangnya Rp10 ribu. Baginya, tragedi itu menggambarkan kegagalan pemerintah Indonesia dalam memenuhi hak dasar warganya. Ia juga mengkritik keras MBG dan menyebut proyek ratusan triliun tersebut sebagai Maling Berkedok Gizi. Setelah itu ia diberitakan menerima berbagai teror dan intimidasi. Orang tuanya dan teman-temannya di BEM Universitas Gadjah Mada juga menerima teror.

Itu seburuk-buruknya cara untuk membungkam kritik. Tapi teror memang belakangan bukan hal asing bagi para aktivis, wartawan, dan setiap warga negara yang bersuara kritis. Selain Tiyo, beberapa di antara korban teror adalah Andrie Yunus (Kontras) disiram air keras, Iqbal Damanik mendapatkan teror bangkai ayam disertai ancaman langsung setelah menyuarakan kritik tentang banjir dan kerusakan lingkungan di Sumatra, Fransiska (Bocor Alus, Tempo) dikirimi kepala babi, Sherly Annavita dilempari telur busuk rumahnya dan dicorat-coret mobilnya, DJ Donny menerima paket bom molotov dan kiriman bangkai ayam, dan Viridian Aurellio mendapati mobilnya dirusak (baca Jawa Pos, 26 Mei 2026, “7 Kasus Teror terhadap Aktivis dan Figur Kritis di Indonesia, dari Air Keras hingga Ancaman Digital”).

Tiyo terus mengkritik Prabowo, yang dijunjung tinggi sebagai berhala sesembahan oleh para penjilat, dan ia mendapatkan banyak serangan balasan, termasuk cemooh dan narasi-narasi negatif di media sosial.

Lalu tiba-tiba muncul kumpulan yang ngaku ketua-ketua BEM menggelar konferensi pers. Mereka berasal dari sepuluh perguruan tinggi: Fakultas Hukum UNISIA, Fakultas Hukum UIJ, Fisip UNAS, Institut Al-Aqidah, Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pamulang (Unpam), Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Universitas Indraprasta (Unindra), Fakultas Teknik Universitas BSI, dan Institut STIAMI.

Aliansi tersebut menolak gerakan mahasiswa ditunggangi kepentingan politik dan secara khusus mengarahkan perhatian pada orang-orang yang berada di sekitar Tiyo dan forum-forum yang dihadirinya. Mereka tidak membicarakan substansi kritik; mereka membicarakan orang. Mereka bahkan tidak memperkarakan teror yang diterima oleh Tiyo, sejawat mereka, sesama mahasiswa.

Mereka juga mengabaikan kronologi. Tiyo mengkritik, lalu menghadapi berbagai serangan, dan masih berlangsung sampai sekarang, termasuk dari Adhyaksa Dault dan Idrus Marham, dua nama yang sudah lama tidak terdengar—dan sebetulnya memang lebih baik mereka tidak terdengar. Lalu datang simpati dan dukungan dari tokoh publik, sesuatu yang tentu bisa membesarkan hati di tengah gelombang serangan. Artinya, hubungan dengan orang-orang itu terbentuk kemudian. Ia lebih dulu mengkritik.

Yang ‘BEM Bersatu’ (organ dadakan seperti tahu bulat) lakukan dalam konferensi pers itu adalah menggeser fokus dari substansi kritik ke siapa saja yang bertemu dengan Tiyo, dan itu cara paling dangkal untuk membungkam suara yang sulit dibantah, seolah benar-salah dapat ditentukan dengan memeriksa daftar tamunya atau menandai ke toko buku mana saja ia pernah mampir. Itulah yang selama ini dilakukan oleh presiden. Prabowo senang menyebut-nyebut antek asing; ia merasa boleh berbuat apa saja karena ia presiden dan tidak perlu ditanya-tanya.

Aliansi BEM Bersatu tidak menyebut Tiyo antek asing, tetapi mereka menyebut nama-nama dalam negeri, di antaranya adalah Jenderal Andhika Perkasa, mantan Panglima TNI tokoh tim pemenangan Ganjar-Mahfud pada Pilpres 2024, dan Andi Widjajanto, politisi PDIP. Dengan kata lain, Tiyo adalah antek Indonesia.

Jika begitu cara mereka merespons, sepertinya besok atau lusa mereka perlu menggelar konferensi pers lagi. Mereka sudah memperlakukan hubungan seseorang dengan orang lain sebagai sesuatu yang mencurigakan. Mereka juga harus menyampaikan keberatan terhadap para mahasiswa yang baru saja bertemu dengan Gibran. Kaidah yang mereka gunakan untuk mendelegitimasi Tiyo semestinya digunakan juga untuk mendelegitimasi para mahasiswa yang menemui Gibran.

Para mahasiswa itu bertemu dengan pemegang kekuasaan. Mereka justru lebih layak dicurigai ketimbang satu orang mahasiswa bertemu dengan orang-orang di luar kekuasaan. Penguasa memiliki anggaran, jabatan, proyek, dan otoritas administratif. Dengan semua itu penguasa—dan orang-orang di lingkar kekuasaan—sangat mudah membeli ketundukan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *