Sopir angkot: Presiden memang harus didemo biar sadar

✍️Rahmatul Husni

Tadi saya berangkat ke kampus naik angkot. Qadarullah, sopirnya usianya sudah 77 tahun. Lahir tahun 1949. Artinya beliau mengalami langsung berbagai masa pemerintahan di Indonesia.

Sebagai dosen yang kepo dan hobi ngobrol dengan orang, tentu saya tak melewatkan kesempatan. 😅

Saya wawancarai tipis-tipis sepanjang perjalanan.

“Pak, dari pengalaman Bapak, presiden mana yang paling berpihak pada rakyat? Dan mana yang paling membuat hidup susah?”

Beliau tidak langsung menjawab. Malah bercerita panjang dulu. Dimulai sejak Tahun 1961/1962…

Tentang masa ketika beras sulit didapat. Momen sepiring nasi yang dimakan berlima. Tentang guru-guru yang mogok mengajar. Dan bagaimana organisasi tertentu menarik simpati rakyat dengan membagikan sembako. Juga tentang demo yang pernah beliau ikuti. Bahwa Jakarta pernah menjadi kota mati selama beberapa hari.

Saya mendengarkan saja. Seru soalnya menyimak Sejarah bukan dari buku, namun dari saksi mata yang mengalami langsung politik dari masa ke masa.

Lalu menjelang turun, beliau menutup ceritanya dengan kalimat yang membuat saya berpikir.

“Neng, saya ndak ngerti politik sampai ke dalam-dalamnya. Tapi kalau dari yang saya rasakan sendiri sebagai rakyat kecil, yang paling mendingan kebijakannya buat rakyat itu zaman Pak Harto. Zaman itu, asal kita mau kerja mah bisa bangun rumah, kebutuhan hidup tercukupi. Yang paling berat ya zaman sekarang. Mau kerja dari pagi sampai pagi lagi, tetap aja banyak yang susah.”

Saya tidak langsung menyimpulkan beliau benar atau salah. Sebab pengalaman seseorang tentu bukan data nasional.

Tetapi saya juga tidak bisa mengabaikan satu hal. Kadang-kadang para akademisi sibuk membaca laporan, statistik, grafik, dan indikator makro. Sementara rakyat kecil mengukur keadaan dengan pertanyaan yang jauh lebih sederhana,

“Hari ini makan lebih mudah atau lebih sulit?”

“Biaya hidup lebih ringan atau lebih berat?”

“Anak saya punya harapan hidup lebih baik atau tidak?”

Mungkin karena itu suara rakyat biasa jauh lebih penting didengar. Bukan karena mereka selalu benar. Tetapi karena, bagaimanapun semua teori pembangunan akan kembali diuji oleh satu pertanyaan sederhana,

Apakah hidup rakyat menjadi lebih baik?

Wallahu a’lam.

NB: Bapaknya juga berpesan, kita tak perlu melengserkan Presiden. Namun Presiden memang harus didemo biar sadar. Hapuskan proyek ambisius ga faedah macam MBG dan Kopdes itu. Intinya yang disampaikan Bapaknya, cocok dengan tuntutan demo hari ini.

(Sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *