
✍️Balqis Humaira
Kalau ada orang bilang, “demo itu cuma bikin macet, bikin ekonomi rugi, bikin orang susah cari nafkah,” sebenarnya dia sedang melihat akibat yang paling kelihatan, tapi tidak melihat penyebab yang membuat orang sampai turun ke jalan.
Coba pakai logika sederhana.
Kalau semua aspirasi bisa didengar lewat surat, audiensi, laporan, petisi, atau jalur resmi, ngapain orang capek-capek panas-panasan di jalan? Demo itu hampir selalu pilihan terakhir ketika orang merasa suara mereka tidak dianggap. Tidak ada mahasiswa bangun pagi lalu berpikir, “hari ini gue pengen bikin macet satu kota.” Yang ada justru mereka merasa ada masalah yang lebih besar daripada sekadar kemacetan beberapa jam.
Lucunya, banyak orang marah karena jalan ditutup tiga jam akibat demo, tapi diam ketika kebijakan buruk membuat daya beli turun bertahun-tahun. Mereka ribut soal keterlambatan sampai kantor, tapi tidak ribut ketika korupsi menghilangkan uang publik yang seharusnya bisa dipakai untuk sekolah, rumah sakit, atau lapangan kerja.
Katanya demo merusak ekonomi.
Pertanyaannya, ekonomi siapa?
Karena dalam sejarah, banyak perubahan yang justru lahir dari tekanan publik. Buruh dapat hak kerja karena demonstrasi. Mahasiswa menjatuhkan rezim otoriter karena demonstrasi. Banyak kebijakan dibatalkan karena demonstrasi. Kalau semua orang diam demi menjaga “kenyamanan ekonomi”, mungkin banyak ketidakadilan yang tetap berjalan tanpa perlawanan.
Soal nafkah pengendara terganggu juga perlu dilihat lebih dalam. Benar, ada pedagang, ojol, sopir, dan pekerja yang terdampak saat demo berlangsung. Tapi kenapa logikanya berhenti di situ? Kenapa tidak ditanya juga apakah kebijakan yang diprotes itu berdampak lebih besar terhadap nafkah mereka dalam jangka panjang?
Kalau harga kebutuhan naik, lapangan kerja menyempit, upah stagnan, atau layanan publik memburuk, bukankah itu juga mengganggu nafkah? Bahkan dampaknya bisa bertahun-tahun, bukan cuma sehari.
Ada juga yang bilang, “demo ujungnya anarkis.”
Ini kesalahan berpikir yang cukup lucu. Sama seperti bilang kendaraan itu buruk karena ada kecelakaan. Yang salah adalah pelanggarannya, bukan keberadaan kendaraannya. Kalau ada demonstrasi yang berujung rusuh, yang harus dikritik adalah tindakan rusuhnya. Bukan otomatis hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Karena kalau logika itu dipakai konsisten, maka setiap pertandingan bola harus dilarang karena pernah ada kerusuhan. Setiap konser harus dibubarkan karena pernah ada penonton ricuh. Jelas tidak masuk akal.
Masalah terbesar dari cara berpikir anti-demo adalah mereka sering menikmati hasil perjuangan orang lain sambil mencela metode perjuangannya.
Mereka menikmati kebebasan berbicara yang lahir dari gerakan massa. Menikmati hak-hak pekerja yang diperjuangkan lewat aksi kolektif. Menikmati perubahan politik yang didorong tekanan publik. Tapi ketika ada orang lain melakukan hal serupa di zamannya, tiba-tiba disebut pengganggu ketertiban.
Padahal sejarah hampir tidak pernah berubah karena kenyamanan.
Perubahan biasanya lahir ketika ada sekelompok orang yang cukup berisik untuk membuat penguasa tidak bisa lagi pura-pura tuli.
Karena kalau ukuran benar-salah cuma berdasarkan “apakah bikin macet atau tidak”, maka korupsi yang dilakukan diam-diam akan terlihat lebih baik daripada demonstrasi yang mengganggu lalu lintas. Dan jelas itu kesimpulan yang ngacooo.








dari zaman Belanda sampai entah kapan, kelakuan inlander emang seperti itu. verdomme zeg……… 👺
kita memang sedang dijajah oleh Belanda pesek, modus nya sama. mengeruk SDA, mengeruk APBN untuk kroninya
itu KELAKUAN PARA 🐕🐕🐕 PIARAAN REZIM / OLIGARKI/ PREMAN YG TAKUT SUMBER PENGHASILAN ILEGAL NYA TERUSIK