✍️Cakra Adi Negara
Sedikit cerita ketika semalam selama kurang lebih 1,5 jam berdiskusi dengan 2 penyidik. Setelah bahas perkara saya, kita diskusi santai ngomongin MBG.
Mereka bertanya-tanya dari A sampai Z tentang keadaan di lapangan. Ya tentunya karena off the record, saya jauh lebih leluasa membahasnya. Jadi, soal bahasan sensitifnya apa, saya skip, nggak saya jabarkan di sini. Setelah mereka tau, mereka pun geleng-geleng.
“Segitu parahnya ya korupsi besar-besaran di MBG. Makanya banyak yang pada mau buka dapur MBG” -kata mereka.
Saya jawab dengan nada bercanda tapi sedikit satire:
“Ah, kayak sampean nggak tau aja kalau jenderal-jenderal sampean juga pada punya dapur MBG. Come on..”
Mereka nggak mengkonfirmasi, cuma senyum-senyum tipis aja.
Awalnya Saya jelaskan skemanya kepada mereka dengan data lapangan yang saya punya.
“Di SPPG tempat saya itu total 3.800 lebih porsi perhari. Tapi saat itu masih bertahap di 1.500an dulu. 1 porsi itu pagunya Rp 15.000. Kalau yayasan yang amanah, biasanya mereka cuma ambil margin Rp 500/porsi jika satuan porsinya ingin benar-benar ideal bergizi. Jadi kalau ada 3.800 porsi, mereka dapat Rp 1,9 juta perhari. Di kali 20 hari (1 bulan) berarti Rp 38 juta.”
Mereka mengerutkan dahi, sambil merespon:
“Lah tapi kok isunya pemasukan 6 juta per hari?”
Saya balas lagi:
“Kan yang tadi saya bilang… kalau AMANAH. Kalau nggak amanah, ya misal ambil aja margin Rp 3.000/porsi. Jadi kalau dikali 3.800 dapat profitnya berapa?”
Saya keluarin kalkulator di hape, “Rp 11,4 juta per hari.”
“Tinggal dikali 20 hari dalam sebulan. Jadi keuntungannya sekitar Rp 228 juta per bulan.”
“Itu kalau ambil marginnya Rp 3.000 per porsi. Gimana kalau lebih sadis lagi ambil Rp 5.000 per porsi? Jadi kesimpulannya… Rp 6 juta per hari itu masih baru cuma ambil margin ecek-ecek aja. Bukan omzet yang kelihatan wah.”
Mereka makin penasaran dan bertanya kembali:
“Tapi kan standar gizinya dijaga ketat. Gimana caranya mereka ambil margin besar, sedangkan lawuknya harus tetap lengkap?”
Saya tersenyum lagi… kemudian menjawab:
“Kan syaratnya harus 50% karbo, 30% protein, dan 20% nabati. Memangnya BGN ada bicara soal takaran saji? Siapa juga yang di sekolahnya bakal nyediain timbangan gram? Paling banter juga cuma ngeluh tipis-tipis kok porsinya sedikit.”
Mereka masih belum nyambung.
Saya lanjutkan lagi…
“Cara dapat marginnya gampang saja. Misal dalam satu ompreng, proteinnya itu adalah ikan. Ya tinggal pecah saja, dari semula 1 ikan dibagi 2 porsi misalnya.. tinggal dibagi jadi 4 atau 5 porsi. Beres toh? Tetap ada 20% protein di dalam 1 porsi ompreng MBG kan? Sekalipun ikannya cuma secuil juga hitungannya tetap 20%. Kan yang dihitung presentase isi omprengnya, bukan takaran sajinya.”
Mereka bertanya balik ke saya:
“Lalu, kan bapak yang sajikan makanannya nih… estimasi 1 porsi di sana itu berapa?”
Saya respons dengan jawaban abu abu:
“Ini hanya estimasi kasar saya aja ya. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Saat itu menu yang saya sajikan adalah chicken karage seukuran bola bekel, sayur capcay 2 kali suap, tempe/tahu, nasi, sama jeruk kecil. Estimasinya sekitar Rp 10.000/porsi kalau kita bikin dan olah sendiri dalam jumlah banyak ya. Kalau beli di warteg sepertinya Rp 17.000 karena ada margin.”
Mereka mulai berhitung pakai kalkulator di hapenya, kemudian kayak shick-shack-shock gitu:
“Buseet.. berarti sehari bisa dapat–“
Namun langsung saya cut:
“Eits, saya nggak menuduh korupsi lho ya.. observasi saya hanya sebatas bahas SOP di dapur aja. Jadi kalau dari postingan observasi saya ada publik yang punya asumsi ke sana, itu di luar kendali saya.”
Nah, bayangin aja, saya yang baru 2 hari riset di dapur SPPG saja sudah banyak betul yang saya temui. Gimana kalau saya sebulan riset di sana? Mungkin bisa semakin banyak lagi fakta lapangan yang saya temukan. Sayangnya, saya nggak punya banyak waktu karena harus balik fokus mengurus usaha rintisan saya. Tapi uniknya, riset 2 hari aja dampaknya saya sampai kena character assasination, apalagi riset 1 bulan?
Note: foto hanya ilustrasi.
(Sumber: fb)







yg demo yg tantrum yg punya sppg, duit nya gede
belum pernah baca komen af rasis hina Dadan cs 😂😂😂
( malu hati kali rezim idolanya byk lahirin babik- babik)🤣🤣🤣
ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI komen: “Terus aja nyinyir drun…terus aja provokasi drunnn‼️”
Netizen cerdas: bhuahahahaha…huahahahaha…si GUOBLOKKKK ANONim tantrum, ngamuk‼️😂😜🤣😝
bocah jebolan psi ikutan ngembek, jadiin narsum pula