SATU-SATUNYA SEKOLAH KATOLIK DI GAZA DIBUKA KEMBALI SETELAH DITUTUP SELAMA 3 TAHUN

SATU-SATUNYA SEKOLAH KATOLIK DI GAZA DIBUKA KEMBALI SETELAH DITUTUP SELAMA 3 TAHUN

Pastor Gabriel Romanelli mengatakan kepada delegasi yang berkunjung bahwa ia berharap pembukaan kembali sekolah paroki tersebut “akan menghadirkan kembali rasa normal” bagi para siswa dan keluarga mereka.

Oleh Amira Abuzeid

16 September 2026 pukul 12.05 siang ET.

Sebuah sekolah Katolik di Jalur Gaza yang dilanda perang membuka kembali pintunya minggu ini setelah ditutup selama hampir tiga tahun.

Sekolah Holy Family, yang bernaung di bawah satu-satunya gereja Katolik di Gaza—Paroki Holy Family—menyambut kembali sekitar 1.000 siswa pada tanggal 15 September, menurut kelompok bantuan Katolik Aid to the Church in Need (ACN).

Pastor paroki Holy Family, Pastor Gabriel Romanelli, mengatakan kepada delegasi ACN yang berkunjung bahwa ia berharap pembukaan kembali sekolah tersebut “akan menghadirkan kembali rasa normal” bagi para siswa dan keluarga mereka, “meskipun tidak ada yang normal di Gaza.”

“Hampir tidak ada tempat di Gaza yang tidak hancur; kehancuran ada di mana-mana,” kata Romanelli, “namun kami telah berupaya keras menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, tempat anak-anak—yang telah melalui begitu banyak penderitaan—dapat merasa aman.”

Delegasi ACN berada di Gaza untuk menilai kebutuhan setempat di tengah perang yang sedang berlangsung dengan Israel, menurut kelompok bantuan tersebut.

Sebagian besar dari 1.000 siswa di sekolah tersebut beragama Islam, menurut George Akroush, direktur kantor pengembangan proyek Patriarkat Latin Yerusalem. Siswa Kristen mencakup sekitar 13% dari total populasi siswa.

“Untuk pertama kalinya, semua siswa Kristen di Gaza akan belajar bersama di satu sekolah Kristen,” ujar Akroush kepada ACN. “Hal ini menciptakan rasa kebersamaan yang kuat dan menunjukkan bahwa Gereja tetap dekat dengan mereka, mendampingi mereka di tengah segala situasi yang mereka alami.”

Sebelumnya, terdapat lima sekolah Kristen yang melayani Gaza: tiga sekolah Katolik, satu sekolah Protestan evangelis, dan satu sekolah Ortodoks.

Romanelli mengatakan ia berharap sekolah yang dibuka kembali ini akan menjadi “seperti cahaya dalam kegelapan bagi masyarakat setempat yang telah mengalami begitu banyak penderitaan.” “Setiap orang di Gaza memikul beban trauma yang sangat berat,” ujarnya kepada ACN, seraya menjelaskan bahwa pihak sekolah menerapkan program dukungan psikososial “yang akan menjadi bagian penting dari upaya kami bagi anak-anak” maupun para guru—yang banyak di antaranya “mengalami trauma mendalam, hingga rasanya mereka bukan lagi sosok yang sama seperti yang kami kenal sebelum perang meletus.”

Ia berharap, ketika warga Gaza—yang kini mulai kembali ke wilayah yang telah luluh lantak itu—melihat “para siswa datang ke sekolah mengenakan seragam, hal itu menunjukkan kepada mereka bahwa masih ada masa depan,” tambahnya.

Sang imam menuturkan bahwa ia kerap mengajak keluarga-keluarga pergi ke pantai pada hari Minggu usai Misa, “meskipun air lautnya dipenuhi puing—karena di mana pun di Gaza memang penuh dengan puing,” sebab “kami ingin menyediakan waktu rekreasi bagi keluarga-keluarga tersebut.”

“Kebutuhan di Gaza sangatlah besar,” lanjutnya, seraya menceritakan bahwa para siswa memintanya untuk tetap membuka sekolah bagi kegiatan di luar jam pelajaran karena “kami tidak punya kegiatan apa pun dan tidak punya tempat untuk dituju.”

Sumber: https://www.ewtnnews.com/world/middle-east/gaza-s-only-catholic-school-reopens-after-3-year-closure

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *