WAJIB BACA BAGI YANG INGIN TAHU KONFLIK YAMAN-SAUDI

Bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan di Yaman secara saksama dan ingin memahami pandangan pimpinannya mengenai situasi terkini dengan Arab Saudi—termasuk eskalasi militer, tuduhan terkait Mekkah, serta sikap pemerintah-pemerintah yang mendukung tuduhan tersebut—berikut adalah ringkasan terperinci dari pidato terbaru Pemimpin Ansarullah Al-Sayyid Abdul-Malik al-Houthi:

– Dalam pidato yang disiarkan televisi pada 17 September 2026, Al-Sayyid Abdul-Malik memaparkan konfrontasi saat ini sebagai kelanjutan dari perang yang bermula sejak intervensi pimpinan Arab Saudi di Yaman pada 26 Maret 2015, dan bukan sebagai konflik baru yang dipicu oleh serangan-serangan terkini.

– Ia mengawali pidatonya dengan memanjatkan syukur kepada ﷲ atas apa yang ia sebut sebagai kemenangan besar yang diraih Yaman dalam menghadapi agresi pimpinan Arab Saudi, serta menyampaikan selamat kepada rakyat Yaman dan pasukan yang terlibat. Ia memandang pencapaian ini sebagai bagian dari perjuangan Yaman yang adil.

– Selanjutnya, ia menyampaikan argumen yang lugas: menurut pandangannya, Yaman masih menghadapi perang dan blokade yang terus berlangsung, yang kini telah memasuki 10 tahun kedua. Ia berpendapat bahwa periode de-eskalasi (gencatan senjata pada 2022) tidak mendorong Arab Saudi menuju proses perdamaian yang serius. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa Riyadh memanfaatkan masa tersebut untuk memperketat pembatasan, membentuk kekuatan militer baru di dalam wilayah Yaman, serta bekerja sama dengan sekutunya untuk melemahkan Yaman secara politik, ekonomi, dan militer.

– Ia juga menggambarkan bahwa inti perselisihan dengan Arab Saudi jauh lebih besar daripada sekadar operasi militer tertentu. Menurut pandangannya, Riyadh tidak menginginkan hubungan dengan Yaman yang didasarkan pada semangat bertetangga yang baik, saling menghormati, dan kepentingan bersama. Sebaliknya, ia menyebutkan bahwa Riyadh menginginkan hubungan yang didasarkan pada ketergantungan dan kendali, serta ingin agar Yaman tetap lemah, terpecah belah, dan tidak mampu menjalankan kemerdekaan sepenuhnya.

– Terkait eskalasi terkini, Al-Sayyid menyatakan bahwa tindakan Yaman merupakan bentuk pertahanan diri yang mendesak. Ia secara tegas menimpakan tanggung jawab atas eskalasi terbaru ini kepada Arab Saudi, dengan menyebutkan bahwa hal itu bermula dari pengeboman Bandara Internasional Sana’a oleh pihak Saudi (pada Juli 2026). Ia mengaitkan hal ini secara langsung dengan argumen utamanya bahwa Arab Saudi adalah pihak yang memulai perang pada tahun 2015 dan terus melancarkan agresinya sejak saat itu.

– Ia kemudian membandingkan perilaku pasukan Yaman dengan tindakan Arab Saudi selama perang berlangsung. Ia menyatakan bahwa operasi militer Yaman telah dilaksanakan dengan mematuhi batasan-batasan agama, moral, dan kemanusiaan; ia menjelaskan bahwa serangan di wilayah Arab Saudi terutama menyasar pangkalan militer, bandara, serta infrastruktur minyak.

– Sebaliknya, ia menuduh Arab Saudi melancarkan serangan di seluruh penjuru Yaman tanpa mengindahkan batasan dasar kemanusiaan maupun agama. Ia menyoroti serangan terhadap warga sipil, rumah, pasar, jalan raya, sekolah, rumah sakit, dan masjid, serta tindakan sewenang-wenang terhadap para tawanan dan warga sipil. Ia menegaskan adanya bukti dan dokumentasi terkait hal tersebut, serta menyatakan bahwa organisasi-organisasi internasional telah mengakui adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Arab Saudi.

– Pidato tersebut kemudian beralih secara mendalam membahas tuduhan Arab Saudi bahwa Yaman telah menjadikan Mekkah sebagai sasaran serangan.

– Al-Sayyed menolak tuduhan tersebut secara tegas dan menggunakan bahasa yang sangat keras untuk menggambarkannya; ia menyebutnya sebagai kebohongan besar, fitnah, dan apa yang ia istilahkan sebagai “kebohongan terbesar abad ini.” Namun, argumennya tidak sekadar menyangkal bahwa Yaman menyerang Mekkah. Ia berpendapat bahwa tuduhan itu sendiri sengaja digunakan untuk mengubah makna politis dari perang tersebut.

– Menurut pandangannya, Arab Saudi memanfaatkan kesucian Mekkah untuk menggalang dukungan pihak lain guna melawan Yaman, menutupi kegagalan militernya, serta mendorong keterlibatan internasional dan regional yang lebih luas dalam kampanye militernya melawan Yaman.

– Ia juga mengemukakan argumen yang berkaitan dengan karakter budaya masyarakat Yaman. Ia menyatakan bahwa suatu bangsa yang secara historis dikenal sebagai “Yaman yang penuh Iman dan Hikmah” (sebagaimana hadits Nabi) tidak mungkin digambarkan memiliki niat untuk menyerang situs paling suci dalam Islam. Ia merujuk pada aksi mobilisasi massa yang berulang kali dilakukan rakyat Yaman demi membela Al-Qur’an, Nabi, dan tempat-tempat suci Islam sebagai bukti kuatnya ikatan batin mereka terhadap situs-situs tersebut.

– Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa rakyat Yaman bersedia mengorbankan nyawa, harta benda, dan segala yang mereka miliki demi membela Mekkah serta tempat-tempat suci umat Islam.

– Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa tuduhan tersebut tidak hanya menyasar Yaman secara militer atau politik, tetapi juga menyerang reputasi moral dan citra Islam rakyat Yaman itu sendiri.

– Ia kemudian memperluas kritiknya terhadap pemerintah-pemerintah yang menerima atau turut menyebarluaskan tuduhan palsu tersebut.

– Bagian pidato ini penting karena ia tidak sekadar menggambarkan sikap pemerintah-pemerintah itu sebagai bentuk perbedaan pendapat dengan Yaman. Ia berargumen bahwa beberapa pemerintah melontarkan kecaman tanpa terlebih dahulu memverifikasi tuduhan Arab Saudi. Menurut pandangannya, standar yang seharusnya diterapkan adalah memastikan fakta, memverifikasi klaim, dan melakukan penyelidikan sebelum mengeluarkan pernyataan politik.

– Ia berpendapat bahwa pemerintah-pemerintah yang terburu-buru mengulangi tuduhan tersebut telah melakukan lebih dari sekadar kesalahan politik. Baginya, mereka telah turut serta dalam tindakan tidak adil terhadap rakyat Yaman dan angkatan bersenjatanya.

– Ia kemudian mengaitkan tindakan pemerintah-pemerintah tersebut dengan hubungan politik dan materi mereka dengan Arab Saudi, seraya menggambarkan ikatan itu dalam konteks uang, pendapatan minyak, dan kepentingan politik. Ia berargumen bahwa beberapa pemerintah lebih mengutamakan kepentingan-kepentingan ini dibandingkan pertimbangan agama, moral, dan kemanusiaan; karenanya, ia menuding mereka mengalami apa yang ia sebut sebagai kebangkrutan moral karena mengulangi tuduhan tanpa verifikasi.

– Namun, ia tidak membatasi kritiknya hanya pada isu Mekkah.

– Ia menantang pemerintah-pemerintah yang sama untuk membuktikan kepedulian mereka terhadap tempat-tempat suci Islam melalui sikap mereka terkait Palestina.

– Argumen utamanya adalah bahwa jika pemerintah-pemerintah tersebut mengaku bertindak demi membela tempat-tempat suci Islam, mereka seharusnya menunjukkan komitmen itu dalam isu yang terlihat jelas oleh semua orang setiap harinya: Gaza, Yerusalem, dan Al-Aqsa.

– Ia juga menyoroti terus berlanjutnya pembunuhan, pengepungan, pengungsian, dan penghancuran yang dialami rakyat Palestina, serta berargumen bahwa beberapa pemerintah yang mengecam Yaman justru memelihara hubungan politik, ekonomi, dan lainnya yang—menurut pandangannya—tidak mencerminkan sikap konfrontasi yang sungguh-sungguh terhadap Israel.

– Ia secara khusus mengkritik pemerintah-pemerintah yang, menurutnya, memberikan dana, minyak, dan bentuk dukungan lainnya kepada Israel, namun di saat yang sama mengecam Yaman atas tuduhan yang menyangkut Mekkah.

– Oleh karena itu, ia menyerukan kepada pemerintah-pemerintah Arab dan negara-negara Muslim untuk melampaui sekadar pernyataan dan sikap lisan, serta mengambil langkah nyata dalam mendukung rakyat Palestina.

– Dari titik itulah, ia melontarkan salah satu tantangan paling tegas dalam pidatonya.

– Alih-alih sekadar meminta pemerintah-pemerintah tersebut untuk berhenti mengecam Yaman, ia menantang mereka untuk berlomba-lomba dalam tindakan nyata. Ia menyerukan kerja sama—atau bahkan, menurut istilahnya, persaingan—dalam menghadapi Israel dan melindungi tempat-tempat suci umat Islam. Ia menyatakan bahwa Yaman siap berpartisipasi dalam aliansi Islam untuk melawan Israel, serta menantang pemerintah negara-negara yang memiliki sumber daya ekonomi, militer, dan politik jauh lebih besar daripada Yaman untuk membuktikan komitmen mereka melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan.

– Menurut pandangannya, pendekatan semacam itu juga akan memperlihatkan perbedaan antara pemerintah yang hanya berbicara mengenai tempat-tempat suci dan mereka yang siap mengambil langkah konkret terkait Palestina.

– Ia berulang kali menegaskan kembali bahwa sikap Yaman terhadap Palestina tidak melemah meskipun negara itu menghadapi berbagai tekanan.

– Ia menyebutkan bahwa Yaman telah menghadapi perang, blokade, serta upaya untuk melemahkan dan memecah belah negara tersebut selama bertahun-tahun, namun tetap tidak meninggalkan apa yang ia anggap sebagai perjuangan regional utamanya. Ia menggambarkan kampanye Arab Saudi bukan hanya sebagai upaya untuk melemahkan Yaman secara militer, melainkan juga sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian Yaman—dan perhatian dunia Muslim secara luas—dari isu Palestina.

– Dalam konteks yang sama, ia menuduh Arab Saudi menggunakan narasi lain—yang bersifat sektarian, militer, dan terkait keamanan—untuk mengarahkan perhatian kawasan agar tertuju pada Yaman.

– Ia juga menyinggung masalah navigasi di Laut Merah, dengan berargumen bahwa Arab Saudi memanfaatkan isu ini untuk menggalang penentangan internasional terhadap Yaman.

– Berdasarkan hal tersebut, ia menggambarkan konfrontasi saat ini sebagai perjuangan yang tidak hanya menyangkut wilayah atau posisi militer, tetapi juga mengenai apa yang menurutnya seharusnya menjadi prioritas dunia Muslim.

– Sepanjang pidatonya, ia melontarkan kritik yang sangat tajam dan konfrontatif terhadap Arab Saudi. Ia menggambarkan negara itu sebagai kekuatan utama yang melanggengkan perang melawan Yaman, menuduhnya berupaya menjaga Yaman agar tetap bergantung dan terpecah belah, serta menilai peran regionalnya merugikan dunia Muslim secara luas dan—dalam pandangannya—sangat selaras dengan kepentingan Israel.

– Pada saat yang sama, ia berpendapat bahwa penggunaan pesawat dan persenjataan Amerika, keahlian militer asing, serta kemitraan internasional oleh Arab Saudi menunjukkan bahwa perang ini tidak boleh dipandang semata-mata sebagai konflik antara Saudi dan Yaman. Ia menyatakan bahwa Riyadh berupaya memperluas keterlibatan internasional dan regional dalam konfrontasi tersebut, alih-alih membiarkannya terbatas pada pihak-pihak yang terlibat saat ini.

– Di bagian akhir pidatonya, ia kembali membahas situasi terkini di medan perang.

– Ia mengatakan bahwa respons Saudi terhadap apa yang disebutnya sebagai kemajuan yang dicapai pihak Yaman baru-baru ini adalah eskalasi besar melalui serangan udara yang diluncurkan dari pangkalan-pangkalan Saudi. Ia menegaskan kembali bahwa Yaman akan terus mempertahankan diri selama serangan dan blokade masih berlangsung.

– Bersamaan dengan itu, ia secara langsung menyapa warga Yaman di provinsi-provinsi wilayah selatan dan timur, seraya meyakinkan mereka bahwa mereka bukanlah sasaran serangan. Ia menyatakan bahwa sasaran sebenarnya adalah mobilisasi militer yang dilakukan Arab Saudi di wilayah-wilayah tersebut, termasuk pengerahan pasukan yang ia sebut sebagai kekuatan ekstremis atau sektarian.

Demikianlah gambaran menyeluruh yang disampaikan oleh pimpinan Yaman mengenai perkembangan terkini.

(Disarikan oleh @Almutawakkil560)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. saya cuma mau nasehatin mimin jgn terlalu menggebu2 dan buru2, ambil pelajaran kaya dulu pas efpik pemimpinnha orasi dukung ngisis, jangan pas awal2 dukung lalu pas kalah cuci tangan nudh itu buatan ngisroil lah

  2. woy admin jangan berdusta pemimpin yaman darimana???? siapa yg milih???? dia pemberontak sokongan tehran bukan pemimpin sah, kalau ada 2 khalifah yg dibaiat bersama bunuhlah yg kedua, nah houthi yg kedua!!!

  3. berhubung berita dr agama Syiah, dan dalam agama Syiah boleh bertaqiyah, maka saya sebagai umat Muslim akan berhati2 dalam membaca narasi ini, jangan sampai tertipu dengan agama Syiah..