
Anggota Kongres AS (DPR) Rashida Harbi Tlaib (seorang muslim) di X mengatakan:
“Dengan dukungan AS, Arab Saudi telah membombardir, memblokade, dan membuat rakyat Yaman kelaparan selama lebih dari satu dekade. Kini, pemerintahan Trump memberikan pasokan senjata senilai $5 miliar kepada mereka, termasuk bom seberat 2.000 pon yang membunuh tanpa pandang bulu. Cukup sudah. Biarkan Yaman hidup. Senat harus menghentikan penjualan ini.”
Pemerintah Amerika Serikat di bawah administrasi Trump telah menyetujui paket penjualan senjata senilai $5 miliar kepada Arab Saudi pada awal September 2026. Langkah ini memicu perdebatan sengit mengenai kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah dan dampak kemanusiaan yang ditimbulkannya di Yaman.
Berikut adalah rincian mengenai situasi tersebut dari berbagai perspektif:
Detail Paket Penjualan Senjata
Berdasarkan keterangan dari Departemen Luar Negeri AS yang dilaporkan oleh media seperti Firstpost dan Responsible Statecraft, kesepakatan bernilai miliaran dolar ini meliputi:
- Lebih dari 10.000 perlengkapan pemandu presisi (precision-guidance kits).
- Ribuan bom, termasuk amunisi berat seberat 2.000 pon.
- Detektor target, suku cadang, serta peralatan pendukung lainnya.
Pemerintah AS menyatakan bahwa tujuan pengiriman senjata ini adalah untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi, meningkatkan kemampuan dalam menghadapi ancaman regional di tengah meningkatnya ketegangan perang dengan Iran, serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS dan sekutu Teluk lainnya.
Oposisi dan Kritik di Amerika Serikat
Kebijakan ini menghadapi penolakan keras dari sejumlah politisi dan organisasi kemanusiaan di dalam negeri AS:
- Resolusi Penolakan di Kongres: Anggota legislatif seperti Senator Ed Markey memperkenalkan resolusi penolakan bersama (joint resolution of disapproval) untuk memblokir penjualan bom tersebut Facebook – Ed Markey. Penolakan serupa juga disuarakan secara vokal oleh perwakilan progresif seperti Rashida Tlaib.
- Kekhawatiran Hak Asasi Manusia: Para kritikus berpendapat bahwa rekam jejak koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman dipenuhi dengan serangan udara ilegal yang mengenai warga sipil dan infrastruktur vital. Mereka khawatir pasokan senjata baru ini akan memperparah krisis kemanusiaan di Yaman yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
- Gerakan Anti-Perang: Organisasi seperti CODEPINK dan Veterans for Peace secara konsisten mendesak pemerintah untuk menghentikan aliran munisi ke Arab Saudi, menyoroti bahwa blokade dan pemboman telah mengubah Yaman menjadi zona bencana kemanusiaan global.
Konteks Konflik Regional
Di sisi lain, para pendukung kebijakan ini menekankan urgensi geopolitik pertahanan Arab Saudi:
- Ancaman Kelompok Houthi: Wilayah Arab Saudi kerap menjadi sasaran serangan drone dan rudal oleh kelompok Houthi (Ansar Allah) asal Yaman yang didukung oleh Iran.
- Eskalasi di Laut Merah: Penjualan senjata ini bertepatan dengan menguatnya posisi militer Houthi yang berhasil menguasai wilayah pesisir strategis Laut Merah, yang berisiko mengganggu stabilitas jalur perdagangan internasional serta keamanan kilang minyak Arab Saudi.







lama lama kelakuan si mbs ini mirip spt si yazid bin muawwiyah dan si hajjaj, gila mabuk kekuasaan dan melakukan segala cara untuk terus berkuasa.
fans Saudi,,,
ini adalah strategi cerdas Saudi dalam perang Yaman, harus kita dukung!
trump,,,
cuan, cuan, cuan, 🤑