Hamas sampaikan sikap terkait Perang Yaman

Wissam Abu Shamala, juru bicara media untuk Departemen Urusan Pengungsi Hamas, telah menerbitkan artikel berjudul “Sikap Palestina terhadap Perkembangan di Yaman.” Sebagaimana dapat diduga, artikel tersebut menunjukkan dukungan yang teguh terhadap Ansar Allah (Houthi). Saya telah menerjemahkannya secara lengkap di bawah ini:

Oleh Wissam Abu Shamala

Baik disadari maupun tidak, sikap Palestina terhadap berbagai perkembangan di dunia Arab dan Islam terus mendapat sorotan tajam. Berbagai pihak berupaya memanfaatkan sikap Palestina demi memajukan agenda mereka sendiri—entah dengan membentuk narasi yang dominan, mengalihkan perhatian publik domestik dari isu tertentu, atau membenarkan sikap masa lalu yang gagal mendapat penerimaan luas. Namun, yang mencolok adalah adanya kecenderungan umum untuk secara sengaja mencitrakan secara negatif sikap yang mendukung pihak-pihak yang dengan tulus membela Palestina, yang telah mengorbankan banyak nyawa, serta tetap siap—bahkan bertekad—untuk melanjutkan jalan tersebut meskipun harus menanggung risiko yang sangat besar.

“Saudara dalam Kebenaran”

Pasukan perlawanan Palestina dan sebagian besar rakyat Palestina secara terbuka menyatakan apresiasi mendalam mereka atas sikap geopolitik, dukungan rakyat, dan langkah militer yang diambil oleh Ansar Allah selama perang genosida ‘Israel’ terhadap Gaza. Juru bicara militer Palestina yang telah gugur sebagai syahid, Abu Obeida—semoga Allah merahmatinya—bahkan menyebut mereka sebagai ‘Saudara dalam Kebenaran.’ Seluruh faksi Palestina menyampaikan pujian luas atas operasi militer yang dilakukan oleh pihak Yaman dari kelompok Ansar Allah di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, serta serangan rudal balistik mereka terhadap berbagai lokasi milik ‘Israel.’ Mereka memandang tindakan berani Yaman ini sebagai upaya memberikan tekanan strategis terhadap ‘Israel’ dan sekutunya, sekaligus memberikan dukungan nyata bagi rakyat Palestina di Gaza.

Rakyat Yaman, pemerintah, para pemimpin, serta infrastruktur mereka telah menjadi sasaran serangan hebat oleh Amerika Serikat dan ‘Israel.’ Serangan-serangan ini bertujuan untuk menghalangi Ansar Allah agar tidak melanjutkan langkah-langkah geopolitik dan operasional mereka dalam mendukung Palestina. Rakyat Palestina menyatakan solidaritas terhadap saudara-saudara mereka di Yaman, yang darahnya telah menyatu dengan darah rakyat Palestina. Berbagai elemen masyarakat Palestina memandang Yaman dan Ansar Allah sebagai mitra sejati dalam menghadapi musuh sesungguhnya bagi umat Islam, yaitu ‘Israel.’

Mobilisasi massa besar-besaran di Yaman—yang mengerahkan jutaan orang ke jalanan sepanjang perang ‘Israel’ di Gaza—terus berlangsung tanpa henti dan tidak menunjukkan tanda-tanda melemah atau kelelahan. Baik benak maupun ingatan rakyat Palestina tidak akan pernah melupakannya. Betapa sering warga Palestina, yang kelelahan akibat perang dan kelaparan, berandai-andai seandainya Yaman menjadi tetangga mereka.

Palestina dan Perasaan Ditinggalkan

Perasaan ditinggalkan yang dialami rakyat Palestina oleh sebagian besar basis pendukung Arab dan Islam mereka sungguh tak terlukiskan dan tak terbayangkan. Rasa sakit hati dan kemarahan ini tidak hanya ditujukan kepada lembaga resmi dan pemerintah; kepedihan terdalam justru bersumber dari kekecewaan terhadap masyarakat itu sendiri—serta gerakan-gerakan Islam, nasionalis, dan Pan-Arab—yang sebelumnya menjadi tumpuan harapan. Mengenai para penguasa, sikap mereka sudah diketahui sejak awal; rakyat Palestina tidak mengharapkan apa pun dari mereka selain kecaman dan hujatan yang sudah biasa terdengar.

Oleh karena itu, sungguh mengherankan jika rakyat Palestina diharapkan untuk mengambil sikap menentang pihak-pihak yang mendukung mereka (seperti Ansar Allah, Hizbullah, Iran -red) di saat-saat mereka sangat membutuhkan, serta memiliki tekad dan kemauan untuk terus mendukung mereka di masa depan. Para pendukung ini tidak hanya puas dengan slogan jihad atau pidato tentang memerangi musuh; mereka mewujudkan kata-kata menjadi tindakan nyata. Sebaliknya, sulit mengharapkan rakyat Palestina untuk bersimpati kepada pihak-pihak yang telah menelantarkan mereka, termasuk mereka yang menikam dari belakang dan berupaya—dengan satu atau lain cara—untuk mencelakai mereka.

Kenyataannya—yang seharusnya tidak mengejutkan atau membuat siapa pun kesal—adalah bahwa mayoritas rakyat Palestina, terlepas dari orientasi politik mereka, mendukung Yaman dan kepemimpinan Ansar Allah. Ini adalah sikap yang didasarkan pada prinsip. Sikap ini tidak dipolitisasi ataupun direkayasa, melainkan muncul secara spontan, tulus, dan alami. Siapa pun yang mengharapkan sebaliknya berarti gagal memahami besarnya penderitaan yang dialami rakyat Palestina di Jalur Gaza akibat tindakan berbagai gerakan, rezim, dan institusi yang telah benar-benar menelantarkan mereka. Terlebih lagi, rakyat Palestina yang telah melalui peristiwa genosida tidak lagi memiliki keinginan untuk menjilat siapa pun. Rakyat Palestina kini memahami bahwa berpegang teguh dan menjaga hubungan dengan pihak-pihak yang menjunjung kebenaran di Yaman, Lebanon, Iran, Irak, dan Spanyol—serta dengan berbagai bangsa, tokoh, dan gerakan pembela kebenaran di seluruh dunia—jauh lebih bermanfaat bagi mereka daripada menaruh harapan pada pihak-pihak yang hanya pandai mengumbar slogan. Kelompok yang disebut terakhir ini bertindak bak singa di medan tempur konflik sektarian dan aliran keagamaan, namun bersikap seperti burung unta saat berhadapan dengan ‘Israel’, yang kini bahkan telah berada di ambang pintu ibu kota dan istana mereka.

Agenda ‘Israel’ Mendukung Sektarianisme

Rakyat Palestina memandang dengan penuh kebanggaan dan kekaguman setiap pihak yang berani melawan musuh umat dan kemanusiaan—pihak yang secara terbuka menyatakan niatnya untuk merampas tanah Arab dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Bagi rakyat Palestina, sebagian besar rezim hanya menunjukkan sikap patuh, tunduk, dan menyerah pada skema kolonial serta agenda ‘Israel’. Banyak pihak yang dianggap sebagai ulama, kaum elite, dan intelektual juga telah terseret—baik secara sadar maupun tidak—untuk melayani agenda ‘Israel’ dan sekutunya. Alih-alih membantu menggalang kekuatan dan menyatukan umat serta bangsa-bangsanya untuk melawan musuh yang permusuhannya tak terbantahkan, mereka justru berkontribusi memecah belah umat berdasarkan garis sektarian dan aliran keagamaan. Peran mereka hanya terlihat saat terjadi konflik internal, sementara mereka menghilang ketika tiba saatnya menghadapi ‘Israel’. Jika pun mereka muncul, tujuannya hanyalah untuk menebar keraguan dan melancarkan serangan, tanpa memberikan apa pun kepada pihak perlawanan dan rakyatnya selain penelantaran.

Hal lain yang semakin memperkuat sikap rakyat Palestina terhadap saudara-saudara mereka yang teguh pada kebenaran di Yaman adalah kegelisahan besar pihak ‘Israel’ terkait perkembangan pesat di sana serta kemajuan yang dicapai oleh Ansar Allah. Perkembangan ini telah memicu kekhawatiran yang kian meningkat di kalangan aparat keamanan ‘Israel’, khususnya mengenai potensi dampak dari kendali Yaman atas Selat Bab al-Mandab yang strategis serta kemampuan Yaman untuk memengaruhi lalu lintas maritim yang melintasi selat tersebut. Di beberapa titik, lebar selat tersebut tidak lebih dari 18 kilometer, sehingga lebih mudah untuk mengganggu pelayaran di sana dibandingkan di koridor maritim yang lebih luas.

‘Israel’ juga mengkhawatirkan runtuhnya apa yang mereka sebut sebagai daya gentar (deterrence) di front Yaman. Kekhawatiran ini mendorong aparat keamanan ‘Israel’ untuk meningkatkan kesiagaan angkatan laut mereka. Komandan Angkatan Laut ‘Israel’, Eyal Harel, mengumumkan peningkatan persiapan di seluruh sistem angkatan laut serta pusat komando dan kendalinya, disertai dengan penambahan kekuatan di laut untuk mengantisipasi perkembangan situasi yang mendadak.

Aparat keamanan ‘Israel’ meyakini bahwa perkembangan di Laut Merah dapat menandakan pergeseran strategis dengan dampak yang melampaui kawasan tersebut, terutama mengingat krisis yang dihadapi AS di Selat Hormuz dan perang melawan Iran. ‘Israel’ bergantung pada transportasi laut untuk sekitar 98 persen impornya, sehingga setiap ancaman terhadap jalur pelayaran ini menjadi tantangan strategis. Pada saat yang sama, pemerintah AS enggan terlibat langsung dalam konfrontasi dengan Yaman dan Ansar Allah. Menurut sejumlah sumber media, hal ini mendorong pimpinan Arab Saudi untuk meminta dukungan regional, termasuk dari ‘Israel.’

Wajar dan logis jika rakyat Palestina menilai apa yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Rakyat Palestina dikenal memiliki kesadaran politik yang tinggi, yang ditempa oleh perjuangan politik dan militer melawan pendudukan ‘Israel’, para pendukungnya, para kolaboratornya, serta pihak-pihak yang menormalisasi hubungan dengannya. Oleh karena itu, rakyat Palestina memahami posisi mereka terhadap perkembangan di Yaman sebagai sesuatu yang lahir, di satu sisi, dari kesetiaan kepada pihak-pihak yang mendukung mereka, dan di sisi lain, dari pemahaman yang sadar mengenai konflik tersebut, pihak-pihak yang terlibat, serta siapa yang akan diuntungkan atau dirugikan karenanya.

(Sumber artikel: https://www.yemenipress.net/archives/440160)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Rakyat Palestina dikenal memiliki kesadaran politik yang tinggi, yang ditempa oleh perjuangan politik dan militer melawan pendudukan ‘Israel’

    terbaik, tangguh imannya, sadar politiknya tinggi, akal ga digadai! 🔥