PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH SWT, TERIMA KASIH KEPADA SELURUH RAKYAT INDONESIA
Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
Alhamdulillah, akhirnya KRMT Roy Suryo Notodiprojo & dr Tifauzia Tyassuma kembali bebas, meskipun belum bebas dari vonis putusan. Bebas yang dimaksud adalah tidak perlu menjalani penahanan, karena permohonan penangguhan penahanan dikabulkan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada Senin kemarin (22/6/2026).
Tentu saja, kami segenap tim bersyukur kepada Allah SWT. Semua ini, tidak lain karena izin, ridlo dan berkat pertolongan Allah SWT.
Meskipun belum sampai pada puncak kemenangan, yakni vonis bebas yang dalam pertimbangannya majelis hakim menyatakan ijazah Jokowi palsu, sehingga tidak terbukti adanya fitnah dan pencemaran, sehingga Roy Suryo dkk divonis bebas murni. Namun, setiap nikmat dari Allah SWT, termasuk nikmat penangguhan penahanan ini wajib disyukuri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak” (HR. Ahmad).
Atas dikabulkannya penangguhan penahanan ini, perlu kami sampaikan rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, kami juga ingin sampaikan ucapan terima kasih kepada :
Pertama, kepada mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno. Perjuangan beliau dalam kasus ini sangat luar biasa.
Beliau mendampingi (pasang badan), sejak di RS Kramat Jati, Pelaksanaan Administrasi pelimpahan di Tahanan Titipan (TAHTI) Polda Metro Jaya, hingga proses pelimpahan di Kejari Jakarta Selatan.
Karena perjuangan beliau juga tim advokat dan aktivis yang membersamai di RS Kramat Jati, Polda hingga Kejari Jaksel, klien kami tidak ditahan. Terutama, saat beliau ‘ngotot’ tak setuju administrasi pengalihan penahanan dari Polda ke Kejari. Karena tidak ada pasal dalam KUHAP yang memberi wewenang untuk menahan dengan alasan proses tahap 2 (pelimpahan). Apalagi, sejak awal para tersangka memang tidak ditahan.
Titik krusial inilah, yang menjadi salah satu latar Kejari tidak melakukan penahanan. Andai saja tidak ada Pak Oegroseno, tentulah mudah bagi Kejari untuk menahan karena teknisnya hanya tinggal menerima pengalihan penahanan dari penyidik Polda Metro Jaya.
Peristiwa heroik juga terjadi saat di RS Polri Kramat Jati. Karena sejak malam, maunya penyidik Polda membawa Roy Suryo dan dr Tifa ke tahanan Polda, sebelum dibawa ke Kejari. Meskipun semalam, mereka ingin keduanya sempat ditahan di Polda.
Namun upaya ini gagal. Selain dukungan advokat, ada Bung Ghafur Sangaji, Bung Refly Harun, Bu Soraya yang ada di TKP, faktor utama tentu karena adanya Pak Oegroseno.

Kedua, kepada para tokoh yang ikut membersamai, termasuk menjadi penjamin penangguhan. Ada Bapak Dien Syamsudin, Mayjen TNI (Purn) Soenarko, Pak Said Didu, Dr Marwan Batubara, H. Heru Purwanto (UI WATCH), dan puluhan aktivis lainnya. Setidaknya, ada 65 daftar tokoh dan aktivis yang ikut memberikan jaminan penangguhan penahanan.
Ketiga, kepada Tim Lawyer yang luar biasa, baik dari tim kami, tim Bang Refly Harun, Tim Pak Didit/Pak Yaya, juga Tim Pak Al Katiri. Ada Bang Ahmad Yani, Bang Petrus Selestinus, Bang Syamsir Jalil, Bang Azam Khan, Bang Aspardi Piliang, Bung Ghafur Sangaji, Bu Susiasih, Bu Virca Dewi, Bu Kartika, Bu Nora Yosie, dan yang lainnya.
Sinergi yang kompak, membuahkan hasil. Karena kemenangan ini adalah buah perjuangan dari seluruh tim, yang saling melengkapi.
Keempat, kepada seluruh aktivis yang ikut hadir membersamai baik dari Aliansi Rakyat Menggugat (ARM), dan berbagai elemen aktivis lainnya. Ada Bu Menuk Wulandari, Bu Tita, Bu Susi, Bu Desi, ada Bung Regas, Bung Bona, Bu Dhio, Pak Nur Syaman, Bu Julia, dan banyak lagi.
Kelima, kepada seluruh wartawan, media dan Youtubers. Tanpa peran media, narasi pembelaan kami tak akan dapat di amplifikasi dan mendapatkan dukungan rakyat. Faktor viral dan dukungan rakyat, menjadi bagian penting yang menjadi dasar penangguhan penahanan.
Keenam, kepada segenap rakyat Indonesia yang mendukung dan mendoakan kami. Doa-doa yang dipanjatkan, menjadi sebab dikabulkannya upaya kami untuk melakukan penangguhan penahanan.
Ketujuh, kepada Pak Roy & dr Tifa, juga keluarga. Sebab, jika Pak Roy menyerah, dr Tifa menyerah, keluarga tidak mendukung, tentulah perjuangan ini sudah gugur sejak lama, mengikuti gugurnya perjuangan ES, DHL dan RHS.
Dalam pelimpahan kemarin, tawaran perdamaian dan meminta maaf kepada Jokowi ditolak. Tentu, ada kekhawatiran karena penolakan bisa berujung penahanan. Sementara perdamaian pasti berujung kebebasan seperti para pengkhianat terdahulu yang bebas diatas asas dasar berkhianat pada perjuangan.
Tidak mudah untuk komitmen dan teguh menjaga sikap dan perjuangan. Dan hal inilah, yang menjadi insentif perjuangan sehingga rakyat terus mendukung dan membersamai.
Terakhir, semoga akhirnya kita semua sampai pada puncak perjuangan. Kemenangan besar melalui putusan pengadilan.
Kepada Saudara Jokowi, penulis sampaikan:
“Sampai bertemu di Pengadilan…”







Mampuuuss lu wi sbntar lg dipersidangan