Saya datang ke masjid karena gak tahu lagi harus kemana…

Pernah suatu malam saya datang ke masjid jam 3 pagi. Bukan karena tiba-tiba saya jadi alim. Saya datang karena nggak tahu lagi harus ke mana.

Rekening tinggal Rp 140.000. Kos belum dibayar 2 bulan. Besok pagi harus ketemu klien seolah-olah hidup saya baik-baik saja.

Masjid itu satu-satunya tempat yang buka 24 jam tanpa nanya “mau pesan apa.”

Masjidnya kecil. Di gang sempit. Cat temboknya udah mengelupas. Kipas anginnya cuma satu dan bunyi terus.

Saya masuk, ambil wudhu. Air kerannya dingin banget.

Saya sholat. Entah sholat apa. Tahajud mungkin. Atau cuma sholat sunnah yang nggak saya tahu namanya. Yang penting saya berdiri, ruku, sujud. Gerakannya saya lambatkan karena saya nggak mau cepat-cepat selesai. Karena setelah selesai, saya harus kembali ke kenyataan.

Selesai sholat, saya duduk bersandar di tiang masjid. Anginnya masuk dari jendela yang nggak ada kacanya.

Di titik itu saya ngomong sendiri sama Allah. Saya ga bisa bahasa Arab. Jadi yaudah, cuma keluhan aja gitu. Bahasa Indonesia campur aduk, kadang cuma diem dengan helaan napas panjang….. “Saya capek. Saya nggak tahu ini semua buat apa. Saya udah coba, hasilnya gini-gini aja. Kalau memang ada rencana-Mu, tolong kasih saya tanda. Apa aja. Sedikit aja.”

Jam 4 lewat, satu orang masuk masjid. Bapak-bapak tua, sarung lusuh, bawa plastik kresek.

Beliau sholat di samping saya. Setelah selesai, beliau duduk dan ngeluarin isi kreseknya: termos kecil dan gelas plastik. Tanpa ditanya, beliau tuang kopi dan sodorkan ke saya.
“Nggak bisa tidur, Dek?” tanyanya.
“Iya, Pak. Banyak pikiran.”
“Sama,” jawabnya sambil ketawa kecil.
Kami ketawa berdua di masjid kosong jam 4 pagi. Rasanya aneh. Tapi juga… menenangkan.

Kami ngobrol sampai adzan subuh. Beliau cerita soal warung nasinya yang hampir bangkrut 3 kali. Istri yang sempat minta cerai karena nggak kuat. Anak yang sakit tapi nggak ada biaya.

“Terus Bapak gimana sekarang?” tanya saya.

“Ya masih di sini,” jawabnya. “Warung masih buka. Istri masih di rumah. Anak udah sehat. Takdirnya nggak berubah dalam satu malam. Tapi tiap malam saya ke sini, entah kenapa rasanya jadi lebih kuat.”

Saya pulang ke kos pagi itu dengan rekening yang masih Rp 140.000. Kos masih nunggak. Klien masih harus ditemui.
Secara teknis, nggak ada yang berubah.
Tapi ada sesuatu yang geser di dalam. Kayak tulang yang selama ini salah posisi pelan-pelan masuk ke tempatnya lagi.

Saya nggak tahu itu jawaban doa atau kebetulan. Saya cuma tahu malam itu saya datang ke masjid dengan perasaan “saya nggak sanggup lagi” dan pulang dengan perasaan “ya udah, besok dicoba lagi.”

Kadang itu cukup.

(Sumber: threads @kartamadja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. dan pemerintah yang mengganggap dirinya ulil amri berkata. rakyat indonesia masih sejahtera, , sambil naikin harga, tarik subsidi dan biarkan konco-konconya korupsi , buzzer bilang dollar naik ga ngaruh, pemerintah masih kuat

  2. dan rakyat Konoha sudah terlatih
    ~ zaman penjajahan, rakyat terbiasa makan tiwul dan sejenisnya
    ~ awal Reformasi, kondisi sulit tapi rakyat tetap eksis, lahan tidur menjadi lahan produktif, pemandangan menghijau royo royo. yang ga tahan ngacir ke Yordania. kembali nya, bak pahlawan membela rakyat kecil sambil gebrak meja