Kisah Haru Kembalinya Azan Berbahasa Arab di Turki, Setelah 18 Tahun Dilarang

Pada tanggal 16 Juni 1950, Majelis Agung Nasional Turki (Parlemen Turki) secara resmi mencabut larangan azan berbahasa Arab. Keputusan bersejarah ini mengakhiri kebijakan kontroversial selama 18 tahun yang mewajibkan kumandang azan dalam bahasa Turki.

Latar Belakang dan Garis Waktu Peristiwa

  • 1932 (Pemberlakuan Larangan): Di bawah kepemimpinan presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Atatürk, Direktorat Urusan Keagamaan (Diyanet) memerintahkan agar azan diubah ke dalam bahasa Turki (Türkçe ezan). Langkah ini merupakan bagian dari program nasionalisasi dan sekularisasi radikal untuk membangun identitas bangsa Turki yang modern.
  • 1941 (Sanksi Pidana): Di masa kepemimpinan Presiden İsmet İnönü, larangan ini diperkuat secara hukum melalui revisi undang-undang hukum pidana. Siapa pun yang mengumandangkan azan dalam bahasa Arab diancam hukuman penjara hingga tiga bulan atau denda.
  • Mei 1950 (Perubahan Politik): Setelah sistem satu partai berakhir, Partai Demokrat yang dipimpin oleh Adnan Menderes memenangkan pemilu secara mutlak. Salah satu janji kampanye utama mereka adalah mengembalikan kebebasan beragama, termasuk mengembalikan azan ke bahasa aslinya.
  • 16 Juni 1950 (Pencabutan Resmi): Pemerintah baru Menderes mengajukan draf undang-undang untuk menghapus sanksi pidana terhadap azan bahasa Arab. Proposal tersebut disetujui dengan cepat oleh parlemen, menjadikan azan bahasa Arab kembali legal sore hari itu juga.

Dampak dan Arti Penting

Pencabutan larangan ini disambut dengan perayaan besar-besaran oleh masyarakat Muslim di seluruh Turki.

Mustafa Armağan, seorang sejarawan Turki menceritakan kembali momen emosional pada 16 Juni 1950, hari di mana pemerintah Turki akhirnya mencabut larangan azan berbahasa Arab setelah 18 tahun dipaksa menggunakan bahasa Turki.

“Saya menyaksikan peristiwa yang sangat menarik pada hari pengembalian azan, 16 Juni 1950… bahkan, saking emosionalnya, salah satu masjid di kota Bursa mengumandangkan azan hingga 7 kali berturut-turut!”

“Ya, betapa agungnya luapan kegembiraan pada saat itu! Masyarakat seperti tidak pernah kenyang dan bosan mendengarkan azan dalam bahasa Arab, karena kerinduan mereka yang sudah begitu mendalam selama bertahun-tahun. Mereka bahkan berteriak kepada sang muazin: ‘Lagi! Sekali lagi!’, persis seperti penonton yang meminta encore (tampil lagi) kepada seorang seniman di atas panggung.”

“Momen itu benar-benar menjelma menjadi sebuah kebangkitan dan pergolakan iman yang luar biasa. Orang-orang keluar dari rumah mereka dengan mengenakan pakaian terbaik yang paling indah, hanya demi bisa mendengarkan kembali indahnya Azan Muhammad. Ada yang berdiri menanti di atas atap-atap rumah, dan banyak pula yang langsung menyembelih hewan kurban di jalanan sebagai bentuk rasa syukur.”

“Hari itu benar-benar menjadi sesuatu yang sangat berbeda dan istimewa. Masyarakat merayakannya seolah-olah tengah merasakan kebahagiaan hari raya… bahkan jauh lebih besar dari itu, suasananya persis seperti sebuah bangsa yang baru saja terbebas dari belenggu penjajahan musuh. Dengan tingkat luapan kebahagiaan yang sedahsyat itulah rakyat Turki melewati hari bersejarah tersebut.”

Mustafa Armagan merupakan seorang penulis dan sejarawan terkemuka di Turki yang banyak meneliti sejarah modern Turki. Kisah yang diceritakannya dalam video mengenai luapan kegembiraan rakyat saat azan kembali dikumandangkan dalam bahasa Arab pada 16 Juni 1950 (termasuk peristiwa unik di Bursa di mana azan diulang hingga 7 kali karena kerinduan masyarakat) juga ditulis secara mendalam dalam salah satu bukunya yang terkenal berjudul “Türkçe Ezan ve Menderes” (Azan Bahasa Turki dan Menderes).

***

Meskipun kebijakan ini sangat populer, langkah Perdana Menteri Adnan Menderes (Ali Adnan Ertekin Menderes) dalam melonggarkan kebijakan sekuler radikal memicu ketegangan mendalam dengan kelompok militer penganut ideologi Kemalis.

Ketegangan politik tersebut akhirnya berujung pada kudeta militer tahun 1960 yang menjatuhkan pemerintahan Menderes. Ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer dengan cara digantung pada 17 September 1961.

Asy-Syahid Ali Adnan Ertekin Menderes

Ali Adnan Ertekin Menderes adalah seorang negarawan dan Perdana Menteri Turki yang menjabat dari tahun 1950 hingga 1960. Ia merupakan perdana menteri pertama Turki yang dipilih melalui sistem pemilu multipartai yang demokratis. Masa jabatannya berakhir tragis setelah ia digulingkan dalam kudeta militer tahun 1960, diadili oleh junta, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung pada 17 September 1961.

Informasi Singkat

  • Nama Lengkap: Ali Adnan Ertekin Menderes
  • Masa Jabatan: 22 Mei 1950 – 27 Mei 1960
  • Afiliasi Politik: Salah satu pendiri Partai Demokrat (Demokrat Parti – DP)
  • Lahir: 1899 di Aydın, Kekaisaran Ottoman
  • Wafat: 17 September 1961 (usia 62 tahun) di Pulau İmralı, Turki

Perjalanan Karier dan Kebijakan Utama

  • Kebangkitan Oposisi: Setelah bertahun-tahun Turki dikuasai oleh sistem partai tunggal (Partai Rakyat Republik – CHP), Menderes mendirikan Partai Demokrat bersama Celal Bayar dan tokoh lainnya pada tahun 1946. Partai ini memenangkan pemilu secara masif pada tahun 1950.
  • Kebijakan Keagamaan: Menderes melonggarkan beberapa aturan sekuler ketat warisan Mustafa Kemal Atatürk. Ia melegalisasi kembali azan dalam bahasa Arab (sebelumnya diwajibkan dalam bahasa Turki) dan membuka kembali ribuan masjid serta sekolah agama. Hal ini membuatnya sangat populer di kalangan masyarakat Muslim tradisional Turki.
  • Liberalisasi Ekonomi: Ia membuka keran ekonomi Turki bagi investasi asing, melakukan privatisasi, dan memodernisasi sektor pertanian secara besar-besaran lewat bantuan finansial.
  • Kebijakan Luar Negeri: Di bawah kepemimpinannya, Turki terlibat aktif dalam Perang Korea dan resmi bergabung menjadi anggota NATO pada tahun 1952 sebagai benteng pertahanan membendung pengaruh Uni Soviet.

Kudeta 1960 dan Akhir Hayat

Pada 27 Mei 1960, sekelompok perwira militer melakukan kudeta. Menderes beserta jajaran pemerintahannya ditangkap dan diadili di Pulau Yassıada atas tuduhan pengkhianatan, pelanggaran konstitusi, dan korupsi. Ia akhirnya dieksekusi gantung pada September 1961. Ia tercatat sebagai pemimpin politik terakhir di Turki yang dieksekusi mati lewat kudeta militer.

Penghormatan Pasca-Kematian

Bertahun-tahun setelah eksekusinya, nama Menderes direhabilitasi oleh pemerintah Turki. Pada tahun 1990, jenazahnya dipindahkan ke sebuah mausoleum megah di Istanbul.

Untuk menghormati jasanya, namanya diabadikan di berbagai infrastruktur penting di Turki, salah satunya adalah Bandara İzmir Adnan Menderes yang menjadi salah satu gerbang udara tersibuk di wilayah Aegean, Turki. Detail biografi resminya juga dipelihara oleh lembaga pendidikan seperti Universitas Adnan Menderes di kampung halamannya, Aydın.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *