Sama-sama militer, kenapa SBY dan Prabowo sangat berbeda ketika jadi Presiden

✍️Mas Gres

Untuk menjawab ini, sebenernya bisa dilihat dari bagaimana masa muda mereka berdua dihabiskan.

Zaman orde baru, Prabowo lebih sering ditugaskan sama mertuanya jadi komandan operasi militer di lapangan buat tangkap/ciduk target. Dan dari kecil juga emang berhasrat untuk punya kekuasaan politik (Ingin bisa sehebat Sumitro, bapaknya).

SBY? zaman itu dia sering dikirim keluar negeri mewakili ABRI untuk pelatihan dsb karena cerdas dan pintar beradaptasi. Beliau juga gak full militer pendidikannya, SBY punya gelar Manajemen Bisnis dari Amerika sama Ekonomi Pertanian dari IPB. Sisi pendidikan dan pemikiran sipil SBY pun sangat terasa.

Pas zaman orde lama, karena masalah politik di Indonesia, Sumitro dan keluarganya (termasuk Prabowo) sering pindah sana-sini di luar negeri (Ke Swiss, Singapura, Malaysia, Thailand, Inggris, dst). Mungkin ini menjelaskan mengapa Beliau suka jalan-jalan ke luar negeri, (mungkin ya, mungkin… beliau butuh itu buat cari inspirasi, cari temen, dsb. karena pola belajar saat dia kecil begitu).

SBY? Zaman segitu beliau sekolah biasa kayak anak-anak Indonesia lainnya, suka nyanyi (beliau pernah bikin band pas masih SMA), suka main voli, suka nulis puisi. Makanya ini menjelaskan watak beliau di masa menjabat. Alhasil pas beliau rilis album, nyanyi, curhat, atau “mellow” dikit (memperlihatkan sisi manusia biasa) diceng-cengin lawan politiknya.

SBY anak bertalenta yang kemudian jadi militer.
Prabowo? ya begitulah 😂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. bedanya :
    1. SYe m3njabat presiden saat masih sehat wal afiat.
    Wo menjabat ketia sdh mulai pensiun dan struk.

    2. Ye menjabat ditemani istri cerdas.
    Wo mbuh…..

    1. mister esbiway punya temen hidup sekaligus temen diskusi & berbagi cerita saat menjabat. suka duka dilalui berdua. yg satu mau diskusi & cerita ama siapa?

  2. SBY itu ketua tim reformasi TNI, jadi dia yg memimpin doktrin baru yang mengembalikan jati diri militer dan menghapuskan dwi fungsi ABRI dan memastikan tidak lagi terlibat dalam politik.