“Dunia terlalu kejam bagi perempuan yang tidak berpenghasilan”, sekilas benar, tapi….

Lewat-lewat di TL ungkapan:

“Dunia terlalu kejam bagi perempuan yang tidak berpenghasilan.”

Hmm.. Sekilas benar. Apalagi di tengah tuntutan zaman yang membuat perempuan harus mandiri, berdikari, dan tak bisa cuma bergantung pada lelaki.

Tapi… coba kita balik cermin itu sebentar.

Pernahkah kita berpikir, dunia seperti apa yang harus dihadapi laki-laki yang tidak berpenghasilan?

Kalau perempuan miskin, masih banyak yang kasihan.

Kalau laki-laki miskin? Direndahkan, ditinggalkan, lalu dilupakan. Tidak diludahi saja sudah untung.

Laki-laki kere itu bukan cuma jadi objek iba, tapi jadi simbol kegagalan. Kadang bahkan sebelum sempat berjuang, ia sudah dikubur harga dirinya oleh omongan tetangga, mertua, bahkan pasangannya sendiri.

“Masak cowok nggak kerja?”
“Ngapain nikahin anak orang kalau nggak bisa ngasih makan?”
“Perempuan juga butuh hidup enak, bro!”

Harga diri lelaki itu, entah suka atau tidak, masih banyak yang mengukurnya dari seberapa tebal dompetnya. Seberapa besar tanggungannya. Seberapa sanggup dia ‘membeli’ masa depan.

Ketika ada perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga dan tak bekerja, masih ada ruang pemakluman:
“Aku kan ngurus anak.”
“Aku kerja domestik.”
Dan banyak yang setuju, karena itu memang pilihan yang juga mulia.

Tapi laki-laki miskin?
Boro-boro dibilang mulia.
Baru buka mulut pun udah dikatain, “Miskin aja banyak bacot.”

Bicara soal cinta…
Ya, katanya cinta itu tulus.
Emang banyak perempuan yang benar-benar jatuh cinta sama lelaki kere?
Yang beneran cinta karena akhlaknya, bukan karena saldo rekeningnya?
Ada. Tapi sedikit. Sangat sedikit.

Karena realitanya, perempuan diajarkan dari kecil untuk “cari laki-laki mapan.”
Sementara laki-laki diajarkan, “Jangan pulang kalau belum bawa uang.”

Jadi, mungkin memang dunia terasa kejam buat perempuan yang nggak punya penghasilan.

Tapi, buat laki-laki yang nggak punya penghasilan, dunia bahkan tak menyediakan tempat.

(Nur Fitriyah As’ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *