Beberapa dekade lalu, tidak banyak orang yang membayangkan bahwa negara-negara Asia akan menjadi pusat perkembangan teknologi dunia. Bahasa Inggris dianggap sebagai satu-satunya gerbang menuju ilmu pengetahuan modern. Universitas-universitas Barat menjadi kiblat akademik yang nyaris tak tergantikan. Jika seseorang ingin mengikuti perkembangan sains mutakhir, ia harus membaca jurnal dari Amerika atau Eropa.
Namun sejarah selalu menyimpan kejutan.
Peradaban bergerak. Pusat ilmu pengetahuan berpindah. Bahasa yang hari ini mendominasi belum tentu tetap menjadi bahasa utama di masa depan.
Dalam salah satu pidatonya yang penuh optimisme, Imam Ali Khamenei qs pernah menyampaikan sebuah gagasan yang terdengar berani, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar utopis. Beliau mengatakan kepada para mahasiswa dan kalangan akademik bahwa mereka harus bekerja sedemikian rupa sehingga lima puluh tahun ke depan, siapa pun yang ingin mengakses temuan-temuan ilmiah terbaru terpaksa harus mempelajari bahasa Persia.
Bagi sebagian orang, pernyataan seperti itu mungkin terdengar sebagai slogan.
Tetapi bagi Imam Khamenei, itu bukanlah angan-angan kosong.
Itu adalah visi.
Lebih tepatnya, visi tentang sebuah bangsa yang tidak sekadar menjadi konsumen ilmu pengetahuan, melainkan produsen ilmu pengetahuan dunia.
Pandangan ini lahir dari keyakinan yang kuat terhadap kemampuan generasi muda. Dalam pemikiran Imam Khamenei, masa depan tidak ditentukan oleh kondisi saat ini, melainkan oleh kapasitas manusia untuk mengubah kondisi tersebut.
Karena itulah beliau menolak cara berpikir yang menganggap kemajuan hanya milik bangsa-bangsa tertentu.
Menurut beliau, tidak ada hukum sejarah yang mengatakan bahwa sebuah negara harus selamanya berada di pinggiran peradaban ilmu. Yang membedakan bangsa maju dan bangsa tertinggal sering kali bukan sumber daya alam atau letak geografisnya, melainkan tingkat kepercayaan dirinya terhadap masa depan.
Di sinilah beliau melihat adanya pertarungan yang sering tidak disadari.
Pertarungan itu bukan perang militer.
Bukan pula perang ekonomi.
Melainkan perang psikologis.
Menurut Imam Khamenei, salah satu strategi yang terus digunakan oleh pihak-pihak yang ingin menghambat kemajuan sebuah bangsa adalah menyerang keyakinan generasi mudanya.
Caranya sederhana.
Menanamkan keraguan.
Menyebarkan pesimisme.
Membisikkan bahwa usaha tidak akan menghasilkan apa-apa.
Bahwa perubahan mustahil terjadi.
Bahwa bangsa tertentu memang ditakdirkan menjadi pengikut.
Pesan-pesan semacam itu, menurut beliau, sering kali lebih berbahaya daripada ancaman yang terlihat secara kasat mata. Sebab ketika seorang pemuda kehilangan kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri, kekalahan sesungguhnya telah terjadi bahkan sebelum perjuangan dimulai.
Karena itu Imam Khamenei berulang kali menekankan pentingnya membangun mentalitas “kami bisa”.
Bukan optimisme kosong yang menolak kenyataan.
Melainkan optimisme yang dibangun di atas pengalaman nyata.
Beliau mengingatkan bahwa berbagai kemajuan ilmiah yang pernah dianggap mustahil ternyata dapat dicapai ketika para peneliti dan ilmuwan muda bekerja dengan kesungguhan dan keyakinan.
Apa yang dulu hanya menjadi target akhirnya berubah menjadi kenyataan.
Apa yang dahulu dianggap ambisi berlebihan akhirnya menjadi capaian yang diakui.
Dalam konteks itu, Imam Khamenei melihat penelitian ilmiah sebagai salah satu pilar terpenting masa depan bangsa.
Namun menariknya, beliau menolak cara pandang yang menyederhanakan fungsi riset hanya menjadi satu tujuan.
Menurut beliau, penelitian memiliki dua misi besar yang harus berjalan bersamaan.
Misi pertama adalah mencapai posisi puncak dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.
Beliau menyebutnya sebagai marja’iyyah ilmiah atau otoritas ilmiah. Sebuah kondisi ketika suatu bangsa tidak lagi hanya mengikuti perkembangan ilmu yang dihasilkan orang lain, tetapi menjadi salah satu rujukan utama bagi dunia.
Ini adalah gagasan yang jauh melampaui sekadar meningkatkan jumlah publikasi akademik atau memperbaiki peringkat universitas.
Yang dimaksud adalah menciptakan pengaruh intelektual global.
Menjadi sumber ide.
Menjadi pusat inovasi.
Menjadi tempat di mana dunia datang untuk belajar.
Dalam sejarah Islam, posisi seperti ini pernah ada. Selama berabad-abad, kota-kota seperti Baghdad, Nishapur, Ray, Cordoba, dan Isfahan menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Para ilmuwan dari berbagai bangsa datang untuk belajar, menerjemahkan karya-karya ilmiah, dan memperluas cakrawala pengetahuan.
Karena itu, bagi Imam Khamenei, cita-cita menjadi pusat ilmu bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi peradaban Islam.
Namun misi penelitian tidak berhenti di sana.
Misi kedua, menurut beliau, adalah menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Ilmu tidak boleh terjebak di menara gading.
Penelitian tidak boleh hanya menjadi perlombaan angka publikasi.
Laboratorium tidak boleh terpisah dari kehidupan rakyat.
Riset harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa hari ini sekaligus mempersiapkan solusi untuk tantangan masa depan.
Di sinilah Imam Khamenei menolak anggapan bahwa kedua tujuan tersebut saling bertentangan.
Sebagian orang beranggapan bahwa peneliti harus memilih: mengejar reputasi akademik internasional atau menyelesaikan persoalan nasional.
Menurut beliau, pilihan semacam itu keliru.
Bangsa yang kuat justru mampu melakukan keduanya sekaligus.
Ia menghasilkan ilmu yang diakui dunia, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan masyarakatnya sendiri.
Ia berkontribusi pada peradaban manusia tanpa melupakan masalah rakyat yang hidup di sekitarnya.
Dengan demikian, penelitian tidak hanya melahirkan prestise, tetapi juga manfaat.
Tidak hanya menghasilkan penghargaan, tetapi juga solusi.
Tidak hanya mencetak ilmuwan terkenal, tetapi juga memperkuat kualitas kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, pesan utama Imam Ali Khamenei qs bukan semata-mata tentang laboratorium, universitas, atau jurnal ilmiah.
Yang beliau perjuangkan sesungguhnya adalah sebuah cara pandang.
Cara pandang yang menolak inferioritas.
Cara pandang yang percaya bahwa generasi muda mampu mengubah peta ilmu pengetahuan dunia.
Cara pandang yang meyakini bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama berkuasa, melainkan oleh siapa yang paling berani bermimpi dan bekerja untuk mewujudkan mimpinya.
Mungkin karena itulah beliau berbicara tentang kemungkinan dunia suatu hari harus belajar bahasa Persia untuk mengakses pengetahuan terbaru. Bukan karena persoalan bahasa itu sendiri yang penting.
Melainkan karena di baliknya terdapat pesan yang jauh lebih besar: sebuah bangsa tidak boleh puas menjadi penonton dalam sejarah ilmu pengetahuan.
Ia harus berani menjadi salah satu penulisnya.
(Al-Kisa Channael)






