Anda mungkin sudah tahu bahwa para pengelola MBG dan para pendukung rejim ini melakukan serangan balik terhadap para pengkritik MBG. Mereka menyewa massa untuk balik menghantam mereka yang menyerukan penghentian program boros yang tak tentu juntrungannya ini.
Demo-demo ini jelas digerakkan. Massanya jelas massa bayaran. Mungkin ada yang beneran turun ke jalan tanpa dibayar karena mereka itu ada kaitannya dengan SPPG. Mereka adalah “relawan,” istilah yang dipakai untuk para pegawai SPPG. Relawan dengan gaji. Manipulasi semantik seperti ini sangat umum terjadi. Bahkan sekarang tambah masif. Rejim korup pasti juga harus jago berbohong, bukan?
Saya menonton video seorang Ibu yang ikut demo di Jakarta. Pulangnya dia bawa penggorengan, camilan, dan buah. Ketika ditanya berapa duit yang didapat untuk ikut demo? 100 ribu!
Dalam pikiran saya bertanya, mengapa dapat panci dan alat-alat masak? Saya ingat bahwa demo ibu-ibu pengkritik MBG membawa alat-alat masak. Dan kontraktor penyelenggara demo ini dengan sinis meniru gerakan dukungan terhadap MBG ini dengan membagi-bagi alat masak!
Kemudian framing. Ini adalah cara untuk membentuk opini terhadap lawan. Dalam hal ini para buzzer yang ambil peranan. Mereka menggambarkan orang-orang yang anti MBG adalah anti rakyat miskin.
Argumen ini tidak saja disodorkan para buzzer dan influencer. Juga politisi-politisi dalam koalisi Prabowo-Gibran. Pokoknya MBG adalah untuk rakyat miskin! Anti MBG berarti anti pengentasan kemiskinan.
Saya melihat ada yang sampai menangis bercerita bagaimana anak-anak miskin tidak bisa belajar karena perut kosong. Tersedu-sedu. Mirip Nanik Deyang menangis sesenggukan minta belas kasihan karena kegagalan lembaga yang dipimpinnya mencegah keracunan anak-anak penerima MBG.
Argumen ini tentunya argumen boncos! Kalau sasarannya adalah anak-anak miskin mengapa MBG tidak menargetkan itu saja? Kalau memang ingin mencegah stunting, mengapa tidak fokus pada 19% anak-anak Indonesia penderita stunting saja?
Mengapa membuat MBG menjadi program “universal entitlement” yakni memberi makan kepada semua anak sekolah, balita, dan ibu hamil? Presiden berkali-kali dengan bangga bilang bahwa program ini telah memberi makan 62 juta lebih penerima manfaat. Tapi, apakah 62 juta lebih mereka itu merasakan program ini bermanfaat?
Anda tentu masih ingat ketika Presiden pada peringatan Hari Buruh 1 Mei kemarin bertanya pada para buruh, “Apakah program MBG bermanfaat?” Para buruh kompak menjawab, “Tidakkkkkkkkk …” Itu jawaban buruh yang hidupnya sebagian besar di level UMR itu. Presiden tahu bahwa itu tidak bermanfaat. Dia tahu bahwa ini program boros dan tata kelolanya tidak masuk akal. Tapi dia jalan terus!
Argumen boncos seperti ini tetap dikumandangkan. Karena apa? Karena tidak ada argumen lain. Dan, seperti yang saya katakan di atas, rejim korup adalah juga rejim yang pintar berbohong.
Tidak usah berpikir terlalu ruwet. MBG adalah program untuk membentuk infrastruktur politik. Itu jelas dan jernih. Program ini diperlukan untuk kelangsungan hidup rejim ini — dengan segala program program boros yang menyedot uang rakyat. Orang-orang yang awam akan kebijakan tentu tidak tahu bahwa dana untuk MBG ini diambil dari berbagai pos yang disebut “efisiensi.”
Mengapa kota-kota Indonesia kotor? Mengapa banyak jalan sekarang lobang dan tidak diperbaiki? Mengapa banyak fasilitas umum sekarang berkurang sekali kualitasnya? Atau pelayanan yang seret? Kantor-kantor yang suram karena tidak dicat ulang?
Rejim ini mengalihkan banyak dana dengan dalih rakyat. Dan, ironisnya, ia beralasan bahwa banyak dana dikorup. Makanya daripada dikorup lebih baik dipakai untuk MBG atau membangun Koperasi Desa Merah Putih. Dan kita pun tahu bahwa praktek menyelamatkan korupsi ini berakhir dengan korupsi juga. Bahkan lebih terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Dua program ini saja sudah menghabiskan dana Rp 750 triliun!
Dan, kita tahu bahwa ini hanyalah dalih untuk memboroskan anggaran. Selain itu, program seperti MBG ini adalah program konsumtif. Ini bukan investasi. Seorang ekonom mengatakan program yang produksinya hanya t4i! Nggak ada gunanya.
Beberapa waktu lalu saya ditanya, mengapa para pemilik SPPG dan para politisi pendukung rejim mengorganisir protes di seluruh Indonesia?
Tidak terlalu sulit memahaminya. Mereka jelas melihat kerugian di depan mata kalau program ini dihentikan. Namun, dari sisi bisnis, seperti yang saya dengar dari beberapa pemilik SPPG yang saya wawancarai, mereka tahu bahwa program ini tidak akan punya masa depan. Mereka tahu bahwa ini program pemborosan. Ini program bagi-bagi duit untuk mereka yang mendukung rejim ini.
Penghentian MBG pada saat libur sekolah sendiri sangat merugikan para pemilik SPPG. Seorang pemilik SPPG mengatakan bahwa justru pada saat liburan sekolah untung mereka paling besar. Karena makanan tidak perlu dipersiapkan dan volumenya diperkecil.
Anda tentu melihat banyak unggahan bagaimana kualitas MBG saat liburan sekolah yang dibagikan dengan dirapel sekaligus untuk beberapa hari itu. Roti, sebungku kecil kacang, pisang, sebutir telur untuk tiga hari, misalnya. Juga tidak perlu cuci ompreng. Tidak perlu distribusi setiap hari.
Belum lagi dana insentif sebesar 6 juta sehari selama 6 hari dalam seminggu. Pada hakekatnya, Anda bisa break even hanya dalam waktu setahun dengan skema ini. Tidak heran kalau SPPG dikuasai yayasan-yayasan yang sebenarnya dimiliki para pejabat, politisi, polisi, dan militer.
Program MBG sebenarnya adalah program “entitlement of the rich”! Program welfare atau kesejahteraan untuk kaum makmur. Dan, sebenarnya, tidak dikorup pun program ini sudah sangat menguntungkan. Tapi, keserakahan itu tidak ada batasnya, bukan?
(Made Supriatma)







af rasis ngumpet🤣🤣
woiii SUPER DUPER GUOBLOK ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI, lu ikutan antrean juga kan biar dapat 100k dan wajah penggorengan⁉️🤣😝😂😜