Selama berhari-hari pasukan Muslim kesulitan menaklukkan benteng pertahanan Yahudi Khaibar. Khaibar dilindungi beberapa benteng yang kuat. Meski berhasil membuka beberapa benteng, namun benteng utama tetap sulit dikalahkan. Selain karena kokoh, juga karena posisinya yang menguntungkan. Pasukan muslim kewalahan karena dihujani anak panah. Pada akhirnya, pada suatu malam, Rasulullah bersabda, “Besok aku akan menyerahkan panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya. Allah akan menaklukkan (Khaibar) lewat tangannya.”
Yang dipanggil adalah Sayyidina Ali, yang saat itu sedang sakit mata.
Sayyidina Ali memimpin pasukan. Dia dihadang pendekar Khaibar, namanya Marhab, yang kekuatannya setara dengan puluhan orang. Melalui duel yang sengit, Marhab berhasil dikalahkan. Sayyidina Ali maju bersama pasukannya hingga sampai ke pintu gerbang. Dengan tangannya sendiri, beliau menjebol dan mengangkat pintu itu, menjadi perisai dari tembakan-tembakan panah musuh. Sayyidina Ali akhirnya berhasil menaklukkan Khaibar.
Peristiwa ini sangat terkenal terutama karena penjebolan pintu benteng. Meski tidak ada data yang pasti berapa ukuran pintu benteng itu, para ahli, berdasarkan data sejarah, memperkirakan ukurannya:
Benteng-benteng oasis seperti Khaibar biasanya memiliki:
Gerbang kayu tebal yang diperkuat besi.
Tinggi sekitar 2–4 meter.
Lebar sekitar 1,5–3 meter.
Bobot bisa mencapai beberapa ratus kilogram, tergantung jenis kayu dan lapisan penguatnya.
Beberapa riwayat mengatakan bahwa butuh 7 (ada yang bilang 20) orang untuk mengangkat pintu yang diangkat oleh Sayyidina Ali itu.
Melompat ke zaman sekarang, terus kita berkhayal, misalnya, Sayyidina Ali, seorang yang sangat alim, santri kinasih dan menantu Rasulullah, Imam yang dijuluki sang Haydar, singa padang pasir, pendekar yang kuat dan gagah dan nyaris tak terkalahkan dalam berbagai pertempuran, yang hidupnya amat sederhana, tahu dirinya disamakan oleh Nusron dengan Teddy, kira-kira seperti apa reaksinya terhadap Nusron?
Bayangkan juga, jika sahabat Nabi yang paling bandel dan celelekan dan humoris, yaitu Nua’iman, mendengar hal ini, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak.
Terlepas dari kebiasaan pejabrut yang menyama-nyamakan orang dengan tokoh sejarah, aku jadi berpikir, kok belum kudengar di jaman pakwo ini yang menyamakan seseorang dengan tokoh dari nusantara, misalnya: si A itu seperti Prabu Brawijaya, Warok Suromenggolo, Kebo Marcuet, Joko Tingkir, atau Anglingdarmo sekalian…
(Triwibowo Budi Santoso)







af rasis kyk ya juga mau muntah baca ini🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bajingaaaaaaaaaannnnn !!!!!!!
pejabat jaman skrg makin ga waras… emangnya Ali bin Abi Thalib jarinya ngetril? ga usah disama-samain
Bunted yang gemulai disamakan dengan sayidina Ali karomallohu wajha…..Semoga Laknat Alloh menimpa orang yang menghinakan sahabat Ali ridwanullah alih…termasuk si ANUSron wahid