Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang mulai serius membaca Al-Qur’an adalah:
“Mengapa kisah Nabi Musa diulang terus-menerus?”
Dalam Surah Al-Baqarah ada Musa.
Dalam Surah Al-A’raf ada Musa.
Dalam Surah Thaha ada Musa.
Dalam Surah Asy-Syu’ara ada Musa.
Dalam Surah Al-Qashash ada Musa.
Bahkan nama Musa adalah nama nabi yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an, sebanyak 136 kali. Mengalahkan nama Nabi Ibrahim disebut 69 kali.
Lalu muncul pertanyaan:
Bukankah sekali saja sudah cukup?
Jika tujuan Al-Qur’an hanya bercerita, maka memang cukup sekali.
Tetapi Al-Qur’an bukan buku cerita.
Al-Qur’an adalah petunjuk hidup.
Dan di sinilah salah satu keajaiban arsitektur bahasa Al-Qur’an yang sangat luar biasa.
Al-Qur’an Tidak Mengulang Cerita, Al-Qur’an Mengulang Pelajaran
Bayangkan Anda melihat sebuah gunung.
Lalu seseorang memotretnya dari depan.
Orang lain memotretnya dari samping.
Yang lain memotretnya dari puncak.
Yang lain memotretnya dari udara.
Gunungnya sama.
Tetapi pemandangannya berbeda.
Begitulah Al-Qur’an.
Kisahnya sama.
Namun sudut pandangnya berbeda.
Pelajarannya berbeda.
Penekanannya berbeda.
Pesannya berbeda.
Musa dalam Surah Thaha
Di Surah Thaha, fokusnya adalah bagaimana Allah menenangkan seorang da’i.
Musa merasa takut menghadapi Fir’aun.
Musa merasa berat menjalankan amanah.
Maka Allah berfirman:
“Jangan takut, sesungguhnya Aku bersama kalian. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)
Di sini Musa bukan sekadar tokoh sejarah.
Musa adalah cermin bagi setiap orang yang sedang berjuang di jalan Allah.
Musa dalam Surah Al-Qashash
Di Surah Al-Qashash, fokusnya berbeda.
Yang ditonjolkan adalah perjalanan hidup.
Bagaimana seorang bayi yang dihanyutkan ke sungai justru masuk ke istana musuhnya.
Bagaimana seseorang yang terusir dari negerinya akhirnya kembali sebagai pemimpin.
Seakan-akan Allah ingin berkata:
“Jangan takut dengan jalan hidupmu yang berliku. Aku sedang mengatur semuanya.”
Musa dalam Surah Asy-Syu’ara
Di sini fokusnya adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan.
Dialog.
Perdebatan.
Konfrontasi.
Fir’aun tampil sebagai simbol kesombongan.
Musa tampil sebagai simbol kebenaran.
Pesannya jelas:
Kebenaran mungkin tampak lemah pada awalnya, tetapi akhirnya akan menang.
Perhatikan Keindahannya
Jika Al-Qur’an hanya ingin mengulang cerita, Allah bisa saja menyalin ayat yang sama persis berkali-kali.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Setiap pengulangan membawa tambahan makna.
Tambahan sudut pandang.
Tambahan pelajaran.
Tambahan hikmah.
Seperti berlian yang diputar dari berbagai sisi.
Berlian yang sama.
Tetapi setiap sudut memancarkan cahaya yang berbeda.
Bukankah Hidup Kita Juga Berulang?
Renungkan ini.
Mengapa kita harus shalat lima kali sehari?
Bukankah sekali saja cukup?
Mengapa kita membaca Al-Fatihah berkali-kali setiap hari?
Bukankah kita sudah hafal?
Mengapa Al-Qur’an mengingatkan kematian berulang-ulang?
Bukankah kita sudah tahu akan mati?
Karena manusia adalah makhluk yang mudah lupa.
Kita tidak berubah hanya karena sekali mendengar nasihat.
Kita membutuhkan pengulangan.
Kita membutuhkan pengingat.
Kita membutuhkan sentuhan yang sama dari sudut yang berbeda.
Maka kisah Musa bukan hanya tentang Musa.
Kisah Musa adalah tentang kita.
Ada Musa dalam Kehidupan Kita
Setiap orang memiliki Fir’aunnya masing-masing.
Ada yang bernama kesombongan.
Ada yang bernama nafsu.
Ada yang bernama harta.
Ada yang bernama jabatan.
Ada yang bernama ketakutan.
Dan setiap kali Allah mengulang kisah Musa, sebenarnya Allah sedang mengingatkan:
“Lihatlah. Fir’aun pernah ada sebelumnya. Dan ia tetap kalah.”
Lihatlah.
Kesulitan pernah ada sebelumnya.
Dan ia berlalu.
Lihatlah.
Orang-orang saleh pernah diuji sebelumnya.
Dan mereka berhasil melewatinya.
Keajaiban yang Sering Tidak Disadari
Banyak orang membaca pengulangan lalu berkata:
“Mengapa diulang?”
Padahal pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Mengapa Allah memilih mengulang bagian ini, dan bukan bagian yang lain?”
Di situlah letak keajaibannya.
Setiap pengulangan memiliki tujuan.
Setiap perbedaan redaksi memiliki pesan.
Setiap tambahan kata memiliki hikmah.
Dan tidak ada satu pun yang sia-sia.
Renungkan Ini
Mungkin hari ini Anda sedang menghadapi masalah yang sama seperti tahun lalu.
Mungkin Anda sedang berdoa tentang hal yang sama.
Mungkin Anda sedang berjuang melawan kelemahan yang sama.
Lalu Anda bertanya:
“Mengapa ujian ini datang lagi?”
Jawabannya mungkin tersembunyi dalam cara Allah mengulang kisah Musa.
Karena manusia sering membutuhkan pelajaran yang sama berkali-kali sebelum benar-benar memahaminya.
Karena hati manusia sering membutuhkan pengingat yang sama berkali-kali sebelum benar-benar berubah.
Karena Allah tidak bosan membimbing hamba-Nya.
Walaupun hamba-Nya sering mengulangi kesalahan yang sama.
Mungkin itulah sebabnya kisah Musa diulang berkali-kali dalam Al-Qur’an.
Bukan karena Allah kekurangan cerita.
Bukan karena Allah mengulang tanpa tujuan.
Tetapi karena Allah sedang mengajarkan satu pelajaran yang sangat indah:
Jika Allah tidak bosan mengingatkanmu, maka jangan bosan untuk kembali kepada-Nya.
Dan mungkin, di antara semua pengulangan dalam Al-Qur’an, itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang paling besar kepada hamba-Nya.
-Sarwandi Eka Sarbini-






