
KH Luthfi Bashori menyambut gembira terpilihnya KH. Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031.
“PENANGKAL SEKTE IMADIYAH. Alhamdulillah, dengan terpilihnya KH. Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU, minimal satu masalah telah terselesaikan: “KAUM IMADIYAH TIDAK MASUK DI PBNU”,” ujar KH Luthfi Bashori di akun fbnya.
Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara mufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2026–2031.
Keputusan tersebut diambil dalam persidangan yang berlangsung di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad (30/8/2026) malam.
Sikap KH. Miftahul Akhyar Terhadap Sekte Imadiyah
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Miftachul Akhyar, meminta seluruh warga NU dan umat Islam untuk tidak ikut-ikutan larut dalam polemik nasab habib (Ba’alawi). Beliau menilai bahwa gerakan yang meributkan dan menolak keabsahan nasab habib di Indonesia memiliki indikasi untuk memecah belah umat dan mengaburkan sejarah Nahdlatul Ulama.
Berikut adalah poin-poin penting pandangan KH. Miftachul Akhyar terkait kontroversi nasab habib:
- Tujuan Pengaburan yang Lebih Luas: Kiai Miftah mensinyalir ada gerakan sistematis yang tidak hanya menyerang oknum habib secara individu, tetapi sudah menyerang klannya, organisasinya, hingga berupaya menolak amalan-amalan yang biasa dibaca warga NU (seperti Ratibul Haddad).
- Menjaga Sanad Guru-Santri: Beliau menegaskan bahwa para pendiri NU terdahulu, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy’ari, dikelilingi dan belajar dari para habib yang benar. Menolak nasab mereka secara keseluruhan dinilai berbahaya karena bisa memutus mata rantai spiritual dan silsilah keilmuan guru-santri.
- Sikap NU terhadap Manusia: NU menghormati seseorang bukan hanya berdasarkan garis keturunannya saja, melainkan dari segi keilmuan dan ketakwaannya. Namun, hal ini bukan berarti umat boleh meragukan atau membatalkan nasab yang sudah diakui oleh para ulama dunia sejak ratusan tahun lalu.
- Obyektif terhadap Oknum: Beliau mengingatkan bahwa dalam setiap kelompok manusia pasti ada yang baik dan ada yang tidak benar. Jika ada oknum habib yang melakukan kesalahan, maka yang dikritik adalah perilakunya secara personal, bukan membatalkan seluruh nasab keturunannya.
Secara garis besar, KH. Miftachul Akhyar memposisikan PBNU untuk tetap menghormati para habib sesuai dengan tradisi para ulama pendiri NU, serta meminta masyarakat agar tidak terjebak dalam narasi adu domba yang sengaja digulirkan pihak tertentu.








Alhamdulillahi robbil ‘alamiin…PBNU juga harus bersih dr antek zionist
Betul Kyai. Saat ini Tidak ada Manfaatnya ribut-ribut Nasab. Masih banyak masalah umat yg Lebih Penting, Misalnya Kemiskinan, Lapangan Kerja, Korupsi para Pejabat Korup, Hukum sewenang wenang kepada rakyat kecil, dan satu hal yg tidak kalah pentingmya adalah NU jangan mendukung pemimpin yg sudah jelas kefasikkan dan kemunafikannya.
kabib2 kibul ketawa kenyang
aneh