Tidak Setiap Orang yang Mengkritik Penguasa Itu Khawarij!
Salah satu anggapan ganjil yang beredar dalam wacana kontemporer tertentu adalah gagasan bahwa sekadar menyuarakan kritik secara terbuka terhadap penguasa sudah cukup menjadi alasan untuk melabeli pengkritik tersebut sebagai “Khawarij.”
Klaim ini memerlukan pembuktian; sebab menurut Ahl al-Sunnah (ulama Sunni), kaum Khawarij tidak didefinisikan semata-mata sebagai “mereka yang mengkritik penguasa secara terbuka.” Sebaliknya, mereka dicirikan oleh prinsip-prinsip mendasar—terutama:
- Mengafirkan orang lain (takfir) berdasarkan dosa
- Melabeli sesama Muslim sebagai orang kafir
- Menghalalkan penumpahan darah Muslim
- Memisahkan diri dari komunitas Muslim,
- serta melakukan pemberontakan bersenjata terhadap para pemimpin.
Mengkritik penguasa adalah hal yang sama sekali berbeda; para ulama telah membedakan secara jelas antara sekadar kritik dan pemberontakan bersenjata (khuruj).
Syaikh Abdul Aziz Al-Tarifi sendiri secara tegas menyatakan bahwa pemberontakan bersenjata terhadap penguasa Muslim yang melakukan kemaksiatan (fasiq) adalah tidak diperbolehkan. Namun, beliau juga menegaskan bahwa larangan tersebut tidak menghalangi upaya mengkritik kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan penguasa; bahkan, beliau menekankan kewajiban untuk memberikan nasihat, arahan, dan menyampaikan kebenaran kepadanya.
Lebih jauh lagi, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i—sosok yang dikenal luas memiliki pandangan ketat mengenai masalah ini—menyatakan secara terbuka: “Adapun mengenai kritik terhadap mereka, tidak ada masalah dalam hal itu.” Beliau mengutip hadis: “Bentuk Jihad yang paling utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” Pada saat yang sama, beliau menegaskan bahwa dirinya tidak menganjurkan pemberontakan terhadap penguasa.
Apakah Syaikh Muqbil—semoga Allah merahmatinya—menjadi seorang Khawarij hanya karena beliau menyatakan bolehnya kritik semacam itu?
Dan apakah setiap Sahabat Nabi yang secara terbuka mengecam suatu perbuatan yang salah lantas menjadi Khawarij?
Cukuplah kita mengingat kembali peristiwa yang melibatkan Abu Sa‘id al-Khudri رضي الله عنه dan Marwan (Khalifah Bani Uamyyah). Abu Sa‘id secara terbuka mengkritik Marwan karena mengubah Sunnah yang telah mapan terkait khotbah Idulfitri; tindakan ini menegaskan prinsip untuk menyuarakan penentangan terhadap kemungkaran dengan merujuk pada hadis Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya…” Memang, memberikan nasihat secara pribadi kepada penguasa didukung oleh dalil dan selaras dengan tuntunan Sunnah dalam konteks yang tepat. Namun, mengubah hal ini menjadi aturan mutlak yang menyamaratakan—dengan klaim bahwa “siapa pun yang menyuarakan keberatan secara terbuka adalah Khariji“—memerlukan bukti dari Al-Qur’an, Sunnah, dan pernyataan kaum Salaf (generasi awal), bukan sekadar generalisasi kontemporer.
Yang terpenting, janganlah menggunakan label “Khariji” sebagai senjata untuk menyerang siapa pun yang memiliki pandangan berbeda dalam masalah ijtihad (penilaian ilmiah mandiri). Tuduhan melakukan bidah (tabdi’), kefasikan (tafsiq), atau pengeluaran seseorang dari golongan yang benar adalah perkara serius; tuduhan semacam itu tidak boleh didasarkan pada kesan semata atau permusuhan pribadi.
Terkait Syekh Abdulaziz Al-Tarifi, beliau telah dengan jelas menyatakan larangan pemberontakan bersenjata (khuruj) terhadap penguasa Muslim—meskipun penguasa tersebut zalim—sembari menegaskan bahwa hal itu tidak menghalangi upaya menyuarakan penentangan terhadap kemungkaran, memberikan nasihat, ataupun menyampaikan arahan.
Oleh karena itu, siapa pun yang ingin melabeli Al-Tarifi sebagai “Khariji” harus menunjukkan bukti adanya pemberontakan nyata, bukan sekadar bukti bahwa beliau mengecam suatu kemungkaran.
Menyuarakan keberatan bukanlah pemberontakan, dan pemberontakan bukan sekadar menyuarakan keberatan; sikap adil dalam menilai para ulama jauh lebih tepat daripada mencela mereka dengan berbagai label.
✍️ Siyar A’lam al-Mu’asirin (fb)








nampol si terwo af dran-drun ini 🤣🤣
daripada sarapi murjiah, diam saja saat ditindas penguasa zalim,korup,diktator
pemberontakan bersenjata trhadap pnguasa muslim, dilarang..!!
trus baca sejarah berdirinya negri Saudi 🤣🤣🤣,,, maaf maaf 🤭🤭