Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi adalah ulama muda kontemporer terkemuka asal Arab Saudi yang dikenal luas sebagai pakar hadis, fikih, dan kritikus pemikiran modern. Keilmuannya yang mendalam di usia muda membuat dirinya dihormati di berbagai belahan dunia Islam.
Berikut adalah profil singkat, rekam jejak, beserta karya-karya ilmiah beliau yang telah diterjemahkan maupun yang berbahasa Arab:
📌 Profil Singkat
- Nama Lengkap: Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi.
- Kelahiran: Kuwait, 7 September 1976 (1396 H).
- Pendidikan: Menghafal berbagai teks klasik Islam (matan) sejak usia 13 tahun. Beliau menyelesaikan studi formalnya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh.
- Gaya Keilmuan: Beliau dikenal memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa, terutama dalam melacak jalur-jalur hadis (sanad) dan memahami perbandingan mazhab secara objektif.
📈 Rekam Jejak & Kiprah
- Keahlian Hadis & Fikih: Beliau dianggap sebagai salah satu rujukan utama dalam bidang ilal al-hadits (cacat-cacat tersembunyi pada hadis) dan fikih komparatif kontemporer.
- Peneliti Ilmiah: Beliau pernah bekerja sebagai peneliti ilmiah di Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi.
- Kritikus Pemikiran Modern: Syaikh Ath-Tharifi aktif memberikan ulasan kritis yang tajam namun ilmiah terhadap pemikiran liberalisme, sekularisme, serta penyimpangan akidah.
- Pengaruh Global: Ceramah, tulisan, dan fatwa beliau banyak tersebar di media sosial dan platform digital, menjadikannya rujukan bagi para penuntut ilmu syar’i di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Banyak karya ilmiah beliau yang mendapat apresiasi tinggi dan sebagian besarnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Barang siapa belum mengenal Syaikh Abdul Aziz Al-Tharifi, hendaklah ia membaca ilmunya terlebih dahulu, baru kemudian membicarakannya.
Merupakan suatu keadilan untuk dikatakan: Bahwa banyak dari mereka yang mengkritik Syaikh Abdul Aziz Al-Tharifi belum mencapai tingkat pencapaian dan ketekunan dalam ilmu-ilmu syariat yang mendekati apa yang telah dicapai oleh beliau.
Hal ini bukanlah bentuk fanatisme kepadanya, melainkan sebuah fakta yang disaksikan oleh medan ilmu itu sendiri, baik dari segi bacaan, penyusunan karya, pengajaran, maupun penelitian (tahqiq).
Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Al-Tharifi bukan sekadar seorang dai yang namanya tersohor, melainkan beliau adalah bagian dari para penuntut ilmu syariat yang dikenal sangat lama bergaul dengan buku, memiliki wawasan bacaan yang luas, serta perhatian besar terhadap hadis dan ilmu-ilmunya, di samping kesibukannya dalam bidang fikih, tafsir, akidah, dan ilmu-ilmu syariat lainnya.
Beliau lahir di Kuwait pada tahun 1976 M, dan pada masa kecilnya berpindah-pindah antara Kuwait, Mosul, dan Mesir, hingga akhirnya menetap di Riyadh.
Beliau lulus dari Fakultas Syariah di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, lalu bekerja sebagai peneliti ilmiah di Kementerian Urusan Islam, kemudian di Direktorat Penelitian dan Studi Scientific.
Beliau memulai menuntut ilmu sejak usia dini, menghafal matan-matan dan buku-buku. Saking besarnya perhatian beliau terhadap membaca, beliau pernah menceritakan tentang dirinya sendiri bahwa rata-rata waktu bacanya adalah sekitar 10 hingga 13 jam sehari, dan bisa meningkat pada masa liburan hingga 15 jam.
Beliau menghafal hadis dalam jumlah yang sangat banyak beserta sanad-sanadnya, serta sibuk meringkas buku-buku tebal sejak masa mudanya.
Beliau telah membaca kitab-kitab sunnah dan ilmu hadis dalam jumlah yang sangat luas, beliau membaca Sunan Al-Baihaqi, Sunan Said bin Manshur, Shahih Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban, Al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah dan Abdurrazzaq, Al-Muhalla karya Ibn Hazm, Al-Ausath karya Ibn Al-Mundhir, Sunan Al-Daraquthni, kitab-kitab ‘Ilal (cacat hadis), dan lain-lain. Beliau juga membaca kitab-kitab fikih dari berbagai mazhab, serta kitab-kitab tafsir, sejarah, dan sastra.
Beliau berguru kepada sejumlah ulama, di antaranya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Abdullah bin Aqil, Syaikh Abdul Rahman Al-Barrak, Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair, Syaikh Muhammad Abdullah Al-Shumali, dan lainnya, serta mendapatkan ijazah sanad dari beberapa ulama.
Ketekunan yang panjang ini kemudian membuahkan berbagai karya tulis dan penelitian di bidang hadis, fikih, akidah, tafsir, dan pemikiran Islam.
Produktivitas beliau tidak hanya terbatas pada karya tulis; beliau juga memiliki penjelasan (syarah) dan ceramah-ceramah ilmiah yang mendalam terhadap kitab-kitab hadis, ‘ilal, musthalah hadis, fikih, dan akidah. Beliau telah menjelaskan dan memberikan catatan (ta’liq) untuk Shahih Al-Bukhari, Sunan Al-Tirmidzi, Al-Tamyiz karya Imam Muslim, Nukhbat Al-Fikr, Al-Muqizhah, Al-Arba’in Al-Nawawiyyah, kitab-kitab ‘ilal, dan lain-lain, serta memiliki banyak materi ilmiah dalam ilmu hadis.
Inilah gambaran yang seharusnya melekat pada diri Syaikh Al-Tharifi, seorang penuntut ilmu yang terus berdampingan dengan buku, membaca kitab-kitab tebal, menghafal matan dan hadis, berguru kepada para ulama, mengajar, meneliti, menulis, dan meninggalkan warisan ilmiah yang sangat luas.
Oleh karena itu, saya katakan kepada siapa saja yang ingin membicarakannya:
Bacalah buku-bukunya terlebih dahulu, dengarkan ceramah-ceramahnya, kenalilah guru-gurunya, dan lihatlah warisan ilmunya, barulah setelah itu Anda menilai.
Adapun mereduksi seorang tokoh dengan seluruh rekam jejak ilmiahnya ini hanya ke dalam sebuah potongan video, cuitan di media sosial, atau perselisihan yang lewat begitu saja, maka itu bukanlah kritik ilmiah, dan sama sekali jauh dari keadilan.
Semoga Allah memberikan jalan keluar bagi Syaikh kami, Abdul Aziz Al-Tharifi, menjaganya, memberikan manfaat melalui ilmunya, dan memperbaiki akhir urusannya.
✍️ Catatan: diterjemahkan dari FB Siyar A’laam al-Mu’aashiriin (سير أعلام المعاصرين) dengan sedikit penyesuaian
Sumber: FB







