Otoritas ‘Israel’ mengganti papan penunjuk yang sebelumnya mencantumkan nama “Damascus Gate” atau Gerbang Damaskus (Bab al-Amud) menjadi “Ancient Gate” (Gerbang Kuno) di kawasan Yerusalem Timur, memicu kritik dari pejabat dan aktivis Palestina. Papan baru itu dipasang dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani di salah satu akses utama menuju Kota Tua Yerusalem dan kawasan Masjid Al-Aqsa.
Sejarah Nama Gerbang Damaskus


Sejarah nama Gerbang Damaskus (Damascus Gate) berakar dari fungsi geografisnya sebagai jalur utama yang menghubungkan Kota Tua Yerusalem dengan kota Damaskus, ibu kota Suriah. Karena letaknya di sisi utara menghadap jalan raya kuno menuju Nablus dan terus ke utara hingga Damaskus, para pelancong zaman dahulu menggunakan gerbang ini sebagai titik keberangkatan utama menuju Suriah.
Struktur gerbang megah yang berdiri saat ini dibangun pada abad ke-16 (sekitar tahun 1537) di bawah perintah Sultan Kekaisaran Ottoman, Sulaiman Agung (Suleiman the Magnificent). Namun, gerbang ini dibangun di atas fondasi gerbang Romawi kuno yang jauh lebih tua dari abad ke-2 era Kaisar Hadrian.
Sepanjang sejarahnya yang panjang, gerbang ikonik ini memiliki beberapa nama berbeda tergantung dari sudut pandang budaya dan bahasanya:
1. Nama Arab: Bab al-Amud (Gerbang Kolom)
Masyarakat lokal Arab dan Palestina sejak abad ke-10 hingga sekarang paling sering menyebutnya sebagai Bab al-Amud. Nama ini merujuk pada peninggalan era Romawi (Kaisar Hadrian) di mana pernah berdiri sebuah kolom atau pilar kemenangan besar di dalam alun-alun gerbang tersebut. Kolom tersebut berfungsi sebagai titik nol untuk mengukur jarak ke kota-kota lain. Meskipun pilar tersebut sudah lama runtuh, namanya tetap abadi dalam bahasa Arab.
2. Nama Arab Sejarah: Bab al-Nasr (Gerbang Kemenangan)
Pada masa-masa tertentu dalam sejarah Islam, tempat ini juga disebut sebagai Bab al-Nasr. Nama ini memiliki keterikatan historis yang kuat dengan momen pembebasan Yerusalem oleh Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin), yang melintasi jalur ini.
3. Nama Ibrani: Sha’ar Shkhem (Gerbang Shechem / Nablus)
Dalam bahasa Ibrani modern, gerbang ini dinamakan Sha’ar Shkhem. Kata Shkhem merujuk pada kota kuno Shechem atau yang saat ini dikenal sebagai kota Nablus di Tepi Barat. Penamaan ini merujuk pada kota besar terdekat yang akan dicapai jika seseorang berjalan lurus ke utara keluar dari gerbang tersebut. [1]
4. Nama Era Tentara Salib: Gerbang Santo Stefanus
Ketika Tentara Salib menguasai Yerusalem, mereka sempat menyebut struktur ini sebagai Gerbang Santo Stefanus (St. Stephen’s Gate). Penamaan ini didasari oleh kepercayaan mereka bahwa lokasi di dekat gerbang tersebut merupakan tempat Santo Stefanus wafat sebagai martir.
5. Kontroversi Nama Baru (Ancient Gate)
Pada akhir Agustus 2026, otoritas Israel memicu kecaman luas karena mengganti papan penunjuk jalan di kawasan Yerusalem Timur. Nama Damascus Gate diganti menjadi Ancient Gate (Gerbang Kuno). Langkah ini dikritik tajam oleh para tokoh Palestina dan pengawas Masjid Al-Aqsa karena dianggap sebagai upaya sistematis untuk mengikis identitas visual, budaya, dan sejarah Arab-Islam yang melekat erat pada gerbang bersejarah tersebut.
Abdullah Marouf, peneliti yang berfokus pada urusan Masjid Al-Aqsa, menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya mengubah karakter Yerusalem dengan mengganti simbol-simbol Arab dan Islam di ruang publik. Ia mengatakan nama Gerbang Damaskus memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
“Nama Ibrani ini bertujuan menghilangkan sebutan ‘Gerbang Damaskus’ dari tempat tersebut, karena gerbang itu merupakan salah satu gerbang utama dan pusat di Yerusalem,” kata Abdullah Marouf kepada Middle East Eye (28/8/2026)
Marouf juga menyebut perubahan nama landmark di sekitar Kota Tua bukan fenomena baru. Ia mencontohkan perubahan nama Solomon’s Cave, yang berada di antara Gerbang Damaskus dan Gerbang Herodes, menjadi Zedekiah’s Cave. Menurutnya, langkah-langkah tersebut dimaksudkan untuk memengaruhi karakter dan identitas historis Yerusalem.
Kritik serupa datang dari Fakhri Abu Diab, anggota dewan pengawas Masjid Al-Aqsa. Kepada The New Arab, Abu Diab mengatakan perubahan papan tersebut merupakan bagian dari rencana untuk mengubah identitas visual kawasan-kawasan Yerusalem yang memiliki simbol Palestina, Arab, dan Islam. Ia juga mengaitkan nama “Ancient Gate” dengan narasi Yahudi kuno mengenai keberadaan gerbang yang dahulu dikaitkan dengan kompleks Bait Suci.
“Perubahan papan nama ini merupakan bagian dari rencana Israel untuk mengubah identitas visual kawasan-kawasan yang memiliki simbol Palestina, Arab, dan Islam di Yerusalem,” ujar Fakhri Abu Diab.
Pemerintahan Wilayah Yerusalem yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina juga mengecam perubahan tersebut. Dalam pernyataannya pada 26 Agustus, lembaga itu mengatakan penggantian nama gerbang, jalan, dan situs bersejarah merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk mengubah lanskap perkotaan dan budaya Yerusalem. Anadolu Agency melaporkan bahwa pemerintah wilayah tersebut menyebut nama-nama tradisional kota sebagai bagian dari memori nasional, sejarah, dan budaya Yerusalem.
“Nama-nama gerbang, jalan, dan landmark Yerusalem merupakan bagian integral dari memori nasional, sejarah, dan budaya kota ini,” kata Pemerintahan Wilayah Yerusalem dalam pernyataannya.
Namun, konteks mengenai nama gerbang tersebut memiliki lapisan sejarah yang jauh lebih panjang. Gerbang yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai Bab al-Amud, atau “Gerbang Tiang”, merupakan salah satu pintu utama menuju Kota Tua. Times of Israel sebelumnya mencatat bahwa nama Arab tersebut berkaitan dengan tiang Romawi yang dahulu berdiri di kawasan di belakang gerbang.
Perubahan nomenklatur tersebut juga berlangsung di tengah ketegangan yang terus berlangsung mengenai status dan identitas Yerusalem Timur. Israel menguasai Yerusalem Timur sejak 1967 dan kemudian menyatakan seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya, sementara masyarakat internasional tidak mengakui aneksasi Yerusalem Timur dan memandang wilayah tersebut sebagai wilayah yang diduduki. Anadolu Agency mencatat bahwa Resolusi Dewan Keamanan PBB 478 menolak langkah-langkah yang dimaksudkan untuk mengubah karakter, komposisi demografis, maupun status politik dan hukum Yerusalem.
Persoalan nama juga memiliki dimensi politik karena kawasan Gerbang Damaskus merupakan salah satu titik paling penting dalam kehidupan sosial masyarakat Palestina di Yerusalem. Gerbang tersebut menjadi akses menuju kawasan Muslim di Kota Tua dan jalur yang sering digunakan warga Palestina untuk menuju Masjid Al-Aqsa. Karena itu, perubahan tulisan pada papan jalan dinilai oleh para pengkritiknya bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari perebutan narasi mengenai sejarah dan identitas kota.







