Jika Anda pernah berkunjung ke Makkah, Anda mungkin tahu apa yang berdiri di sini sekarang.
The Clock Towers (Menara Jam Makkah yang memiliki nama resmi Abraj Al Bait)
Namun, sebelum menara-menara ini mengubah cakrawala Makkah, ada sesuatu yang sangat berbeda di bukit ini.
Apa itu? Benteng Ajyad (Ottoman Turkish: قلعهٔ اجیاد, Turkish: Ecyad Kalesi; Arabic: قلعة أجياد)
Benteng peninggalan Utsmaniyah ini berdiri di atas bukit yang menghadap ke Masjidil Haram selama lebih dari 200 tahun.
Benteng ini dibangun pada akhir abad ke-18 untuk melindungi Makkah, dan selama beberapa generasi, para peziarah melihat benteng tersebut berdiri di atas kawasan Haram.

Kemudian, Makkah mulai berubah.
Pada tahun 2002, benteng tersebut dirobohkan saat kawasan itu dikembangkan menjadi kompleks Abraj Al Bait.
Kini, jutaan peziarah berdiri di sini setiap tahunnya.
Mereka mendongak…
dan melihat Menara Jam.
Kemungkinan besar, mereka tidak menyadari bahwa pemandangan cakrawala yang mereka lihat saat ini telah menggantikan sebuah benteng yang menjadi bagian dari Makkah selama berabad-abad.
Saya terkadang membayangkan bagaimana rasanya tiba di Makkah pada masa lampau.
Tanpa Menara Jam.
Tanpa hotel-hotel raksasa.
Hanya ada Masjidil Haram, pegunungan, dan benteng yang berdiri di atas kota itu.
Makkah terus berubah.
Namun, setiap lapisan kota ini menyimpan sebuah cerita.








DI Turki moderenisasi tak harus mengahancurkan peninggalan2 sejarah, sebaliknya malah dipugar. Di Saudi akibat pemahaman bhw peninggalan sejarah (Islam) itu bisa menimbulkan ‘kesyrikan’ yg akhirnya malah dihancurkan. Tapi ‘konon’ si pangeran yg sekarang ingin menjadikan parawisata sbg sumber devisa akhirnya menyesal dgn penghancuran2 napak tilas tsb.