Ada satu postingan Facebook dari 20 Mei 2012 yang sampai hari ini masih bisa dibaca. Bukan bocoran. Bukan hasil investigasi. Tinggal scroll aja.
Isinya pengumuman: baru saja meresmikan kantor DPP sebuah ormas di Kemanggisan, Jakarta Barat. Acaranya meriah. Ada tarian, ada plakat, ada pelepasan balon, ada penandatanganan prasasti. Ketua ormasnya bilang di podium, terang-terangan, organisasi ini didirikan untuk memenangkan sang tamu kehormatan jadi presiden. Harga mati, katanya.
Postingan itu ditutup dengan kalimat yang indah sekali. Ormas ini akan menciptakan perubahan, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘣𝘢𝘳 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯.
Yang nulis, sekarang presiden kita.
—
EMPAT BELAS TAHUN KEMUDIAN
Mei 2025, presiden marah. Ormas yang meresahkan rakyat harus dibubarkan, perintahnya. Tegas. Penasihat khususnya menyampaikan kemarahan itu langsung ke ketua ormas tadi, lewat video call, di tengah siaran TV.
Jawaban si ketua ormas layak masuk buku teks politik Indonesia: “Bubarkan saja, saya sangat mendukung.”
Setahun berlalu. Yang dibubarkan: nggak ada. Posko dirobohkan beberapa, anggota ditangkap beberapa, kementerian sempat memblokir administrasi, terus ya sudah. Ormasnya masih berdiri. Sehat walafiat.
Malah makin sehat. Maret 2026, ketuanya diterima Sekretaris Kabinet di kantor Setkab. Silaturahmi Lebaran, katanya. Kawan lama 15 tahun, katanya. Ngobrol hangat soal anak-anaknya yang kuliah di Amerika dan Australia.
Juni 2026, diterima lagi. Kali ini pukul 00.20. Iya, jam setengah satu malam kurang sepuluh, di kantor Sekretariat Kabinet negara Republik Indonesia. Dan yang mengunggah momen itu bukan akun gosip. Akun resmi Setkab sendiri. Captionnya: silaturahmi tidak memandang latar belakang, profesi, maupun golongan.
Indah sekali. Saya jadi pengin tahu, kalau kita-kita ini datang ke Setkab jam segitu, kira-kira sampai pagar depan nggak 🙈
—
LALU DATANG 27 AGUSTUS
Hari demo kemarin, truk-truk ormas ini muncul di kawasan Slipi. Katanya mau bantu aparat. Bantu-nya antara lain: mukulin beberapa pengemudi ojol. Salah sasaran, kata polisi yang mengonfirmasi kejadiannya. Warga marah, lima truknya dibakar massa.
Dan malam itu juga, nggak jauh dari situ, di Pejompongan, seorang bapak 60 tahun meninggal dikeroyok. Penjual cermin. Bukan pendemo. Sorenya dia masih sempat mengantar orang sakit ke rumah sakit.
Dikeroyok siapa? Jawaban resminya: orang tak dikenal.
Negeri ini memang luar biasa. Kelompok paling produktif sepanjang sejarah kita namanya selalu sama: Orang Tak Dikenal. Kerjanya banyak banget, dari tahun ke tahun, dari rezim ke rezim, dan anehnya nggak pernah ketangkep.
Yang saya nggak habis pikir bukan kekerasannya. Kekerasan mah dari dulu ada. Yang saya nggak habis pikir: semua rantai ini nggak pernah disembunyikan. Prasasti diresmikan terbuka, diliput wartawan, dimuat di situs partai sendiri. Tamu tengah malam diunggah akun resmi negara. Nggak ada yang bocor, karena nggak ada yang ditutupi. Kita semua bisa baca kapan aja.
Cuma nggak pernah kita baca urut aja.
—
INI FASE, BUKAN TAKDIR
Satu hal lagi, biar nggak buru-buru menyerah dengan “ya beginilah Indonesia.”
Politik otot itu bukan penyakit khas kita. Amerika pernah punya Tammany Hall, mesin politik New York yang mobilisasi geng jalanan buat memenangkan pemilu, jalan hampir seabad. Jepang pernah membiarkan yakuza dan politisi partai penguasa hidup rukun puluhan tahun. Italia lebih parah: partai penguasa dan mafia saling menghidupi, sampai dua hakim terbaiknya diledakkan.
Tiga-tiganya berhasil keluar. Nggak instan dan nggak gratis: Amerika butuh puluhan tahun reformasi, Italia butuh pengadilan raksasa yang berani menghukum patronnya dan bukan cuma pionnya, Jepang butuh undang-undang yang justru menghukum pihak yang MENYEWA preman.
Jadi politik otot itu bukan DNA, bukan budaya. Ia fase. Ada negara yang keluar dari fase ini, dan cara mereka keluar bisa dipelajari. Pertanyaannya tinggal satu: yang lagi menikmati fasenya, mau belajar nggak.
—
Saya lagi merangkainya jadi satu tulisan panjang di Tulis. Dari prasasti 2012 sampai malam Pejompongan, mundur sampai 1959 waktu jenderal-jenderal kita pertama kali menemukan resepnya: butuh otot di jalanan dan suara di pemilu? Jangan sewa preman. Bikinkan saja ormasnya. Kasih nama, kasih bendera, kasih patron. Resep itu nggak pernah diganti sampai sekarang, cuma ganti koki. Semuanya dari dokumen publik yang mereka unggah sendiri, tinggal disusun berurutan. Dan yang paling bikin merinding justru satu detail soal lokasi, yang baru kelihatan kalau semua kejadian ini ditaruh di satu peta.
Detail itu saya simpan untuk tulisannya.
Wallahu a’lam bishshawab.








orang tak dikenal bisa diterjemahkan Anonim 🤪💃🕺🏃♂️
tuh af INI FASE, BUKAN TAKDIR aWok wokwok