
Oleh: M Maki
Saya seorang yang senang membaca buku sejarah ada satu hal yang bikin terkejut adalah betapa rapinya strategi kekuasaan itu dirancang jauh hari salah satu contoh paling gamblang adalah jejak Prabowo Subianto di Timor Timur yang ternyata nyambung lurus sampai ke preman-preman di Tanah Abang Jakarta. Kayak rantai komando yang gak putus.
Prabowo itu bukan main-main soal perang tidak konvensional di tahun 1986, ketika dia masih letnan kolonel dan jadi perwira siswa di Seskoad Bandung, dia udah bikin telaah staf yang isinya gila, intinya gini: dari pada tentara Indonesia terus-terusan kena kecaman internasional karena represi di Timor Timur, mending rekrut aja anak-anak jalanan, preman, dan pemuda marginal jadi milisi proksi, tujuannya biar mereka yang bertindak kasar di lapangan, sementara militer bisa pura-pura bersih.
Konsep ini sebenernya dia contek dari doktrin perang tidak konvensional AS yang dipake buat ngelawan gerilyawan di Nikaragua dan Vietnam, cuma dia modifikasi dengan gaya khasnya dia bilang kita perlu orang Timor untuk lawan orang Timor, dan itu bukan cuma omong kosong.
Teori itu gak cuma jadi tugas kuliah, dia eksekusi bertahun-tahun kemudian, setelah dia jadi Komandan Jenderal Kopassus di pertengahan 90-an, dia bener-bener wujudin konsep itu lewat pembentukan Gada Paksi, milisi yang direkrut dari anak-anak pinggiran Dili yang paling terkenal adalah Eurico Guterres, anak muda yang ortu nya dibunuh tentara Indonesia, tapi kemudian di-brainwash dan dijadikan ikon kekerasan pro-integrasi di saat yang sama, Prabowo juga mulai mengekspor model ini ke Jakarta dia ambil beberapa anak buah dari Timor, termasuk seorang bernama Hercules Rozario Marsal alias Hercules, lalu ditempatkan di sekitar Pasar Tanah Abang dengan beking alias dukungan militer; tujuannya jelas bikin preman terorganisir yang bisa dipake buat ngatur pasar, dan nantinya jadi alat politik buat ngamainin massa dan ini terjadi di tahun 1990-an, jauh sebelum reformasi.
Yang bikin saya makin terkejut, hubungan itu gak cuma operasional tapi juga ideologis, Hercules dan anak buahnya itu adalah produk dari doktrin UW yang sama mereka dilatih, dibiayai, dan dilindungi oleh jaringan Prabowo di Kopassus, bahkan setelah Prabowo dipecat pasca-1998 dan Hercules sempet ngilang, dia balik lagi ke Tanah Abang di tahun 2001 dan langsung bisa ngambil alih wilayahnya lagi, itu artinya infrastruktur kekerasan yang dibangun Prabowo udah mengakar dan gak bergantung pada satu orang dan ironisnya, strategi yang dirancang buat nahan Timor Timur malah jadi bumerang karena kekerasan milisi yang keterlaluan di 1999 justru memicu kecaman internasional dan akhirnya mempercepat kemerdekaan Timor Timur. Jadi ya, saya bilang, apa yang dimulai sebagai solusi militer di Timor, berakhir jadi senjata makan tuan dan sekaligus jadi cetak biru bagi politik premanisme di ibukota sampai sekarang.










kenapa kepalanya dalang saja yang tidak dihabisi ?
busuk juga ya mbah satu ini
para tukang cebok lagi nyiapin kontra narasi, ujung²nya drun lagi