KDM, Anies, dan Bahlil: Sama-sama Aktivis HMI

Satu kesamaan tiga tokoh nasional ini, yakni sama-sama aktif di HMI saat mahasiswa. Anies Baswedan lebih senior, karena menjadi mahasiswa sekitar 1989-1994 di Yogjakarta. Sementara Dedi Mulyadi (KDM), 1991-1995 di Purwakarta, dan Bahlil Lahadalia, 1995-2000 di Jayapura.

Dibandingkan organisasi mahasiswa ekstra-kampus lainnya, HMI memang terbilang produktif melahirkan tokoh-tokoh nasional, seperti tiga tokoh di atas. Anies, KDM, dan Bahlil. Ketiganya saat ini berada di puncak. Sebutlah seperti PMKRI, GMKI, atau GMNI, misalnya. Bukan tidak ada. Pasti ada seperti di GMNI ada Ahmad Basarah yang saat ini berada di jajaran elite PDIP.

Atau organisasi mahasiswa ekstra-kampus berbasis Islam lainnya seperti PMII, IMM, dan KAMMI. Di PMII ada Muhaimin Iskandar, di IMM ada Abdul Mu’ti, dan di KAMMI ada Fahri Hamzah. Tapi dibandingkan HMI, ketiganya relatif kalah pamor. Mungkin karena HMI juga paling senior di antara ketiganya. HMI berdiri tahun 1947, persis dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Tapi, menariknya, meski sudah menjadi tokoh nasional, belum pernah ada aktivis mahasiswa—HMI dan yang lainnya—sampai saat ini, yang menjadi Presiden Republik Indonesia.

Presiden Prabowo bukanlah aktivis mahasiswa dari organisasi mahasiswa ekstra-kampus. Beliau AKABRI tahun 1970. Jokowi juga bukan. Konon, anak MAPALA, organisasi intra-kampus, tapi entahlah. SBY AKABRI tahun 1970, satu leting dengan Prabowo. Megawati, Gus Dur, Habibie, dan Soeharto, juga bukanlah berasal dari aktivis mahasiswa intra-kampus ataupun ekstra-kampus.

Bukan mustahil suatu saat nanti ada juga aktivis mahasiswa yang menjadi Presiden Republik Indonesia. Sebab, tinggal selangkah lagi. Di jajaran kabinet sudah sangat banyak, menteri yang berasal dari aktivis mahasiswa intra dan ekstra-kampus seperti yang disebutkan di atas. Ciri kuat seorang aktivis itu adalah peka, peduli, kreatif, dan tak mudah dibeli. Dan yang paling pasti adalah, ijazahnya mustahil ada yang diragukan, apalagi disayembarakan. Hehehe.

(ERIZAL)

***

Dedi Mulyadi dulunya merupakan seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan, pria yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat tersebut memiliki rekam jejak organisasi yang cukup kuat di HMI semasa kuliahnya.

Berikut adalah beberapa fakta mengenai keaktifan Dedi Mulyadi di HMI:

  • Ketua Umum HMI Purwakarta: Saat menempuh kuliah hukum di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Purnawarman Purwakarta, ia aktif berorganisasi dan berhasil terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta.
  • Kader Pengagum Nurcholish Madjid (Cak Nur): Dalam beberapa kesempatan, Dedi mengungkapkan bahwa pemikiran keislaman dan kebangsaannya banyak terinspirasi oleh tokoh pemikir besar HMI, Nurcholish Madjid (Cak Nur).
  • Aktif di KAHMI: Setelah tidak lagi menjadi mahasiswa, ia tetap menjaga silaturahmi dengan organisasi “hijau-hitam” ini dan tercatat sebagai bagian dari Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Anies Baswedan dulunya merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia aktif dalam organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia ini saat menempuh kuliah S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada era 1990-an.

Berikut beberapa fakta mengenai jejak keorganisasian Anies Baswedan di HMI:

  • Afiliasi HMI MPO: Ketika HMI mengalami perpecahan internal akibat dinamika politik Orde Baru (terkait asas tunggal Pancasila), Anies bergabung dengan faksi HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi).
  • Peran Keorganisasian: Di kampus, ia tercatat pernah menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) HMI UGM.
  • Kiprah Pasca-Kampus: Setelah lulus dan berkarier, hubungan Anies dengan organisasi ini tetap terjaga erat. Ia pernah terpilih menjadi salah satu anggota Presidium Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI) untuk periode 2012–2017 bersama tokoh nasional lainnya.

Selain aktif di HMI, masa muda Anies Baswedan di UGM juga dikenal sangat menonjol sebagai aktivis intra-kampus, di mana ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM.

Bahlil Lahadalia dulunya merupakan seorang aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Bahlil bahkan sering menyebut dirinya sebagai “anak kandung HMI” karena organisasi tersebut menjadi tempat utama ia menempa diri semasa kuliah. Karir keorganisasiannya di HMI tergolong mentereng:

  • HMI Cabang Irian Jaya: Bahlil aktif berproses dari bawah saat menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay, Jayapura, Papua.
  • Pengurus Besar (PB) HMI: Karir organisasinya memuncak di tingkat nasional saat ia dipercaya menjabat sebagai Bendahara Umum PB HMI periode 2001–2003.

Bahlil mengakui bahwa pengalaman berdebat, menyusun argumen, dan memperluas jaringan selama menjadi aktivis HMI sangat membentuk karakternya hingga bisa sukses menjadi pengusaha (Ketua HIPMI) hingga menduduki posisi menteri dan Ketua Umum Partai Golkar seperti sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Ko diantara 3 foto ini yg wajahnya cerah tur gagah cuma pak anies diang yah tipikal wajah kadrun memang gagah ga yg foto 2 orang itu diliat congornya mual banget