Kita sebutnya: aktor penting. Tapi di atas, mereka punya cara memperdaya: jadikan agen, aset kita. Tentu tanpa si orangnya, sang aktor sadar.
Pemilik sang aset sendiri tengah berkelindan dari beberapa aktor lain. Ada pertarungan juga. Siapa yang piawai manfaatkan “aktor” publik. Ia diselamatkan tuannya, sama-sama menguntungkan. “Pulanglah, Bung, aspirasi kalian telah kami dengar. Pulanglah, awas ada bahaya menjebak kalian!”
Sebab, di kubu pesaing, miliki agen yang brutal dan demen kekerasan. Maka, sang tuan jujur beberkan. Jujur bukan karena tabiat. Lebih ke cemas ‘asetnya’ ini ke depan dipermak pesaing sebelah.
Demikianlah. Ada ‘agen’ di kalangan bawah, plural. Ada para ‘tuan’ yang juga plural, dalam kepentingan dan agenda masing-masing walau satu sekoci partai ataupun koalisi.
Ini pertarungan ‘kepentingan elite’ dengan memanfaatkan ‘emosi arus bawah’. Cara mainnya bagaimana mengalihkan suasana batin kekesalan rakyat yang diwakili para aktor utama. Di bawah ia dipandang aktor hebat, di atas ia hanya ‘pion’ atau ‘aset’ kepentingan elite.
Sekali lagi, aktor diubah wajah dan kedudukan perannya itu sebagai agen, aset, bukan selalu karena niatan awal. Ia tak sadar “direkrut”.
Kontestasi kepentingan elite ini harus disadari para aktor arus bawah: agar esok-esok jeli membaca siapa saja yang bermain sebagai panglima. Dan panglima itu banyak, plural. Hari esok bisa saja yang hari ini memakai agen demen kekerasan akan memakai sosok aktor lain.
(Yusuf Maulana)







